Pacitanku.com, PACITAN – Keprihatinan mendalam terhadap nasib pengrajin tua di pelosok desa mendorong Muhammad Nurromdhoni, seorang mantan aktivis dan pemuda asal Tegalombo, mengembangkan usaha kerajinan bambu yang kini sukses menembus pasar Bali dan kota-kota besar lainnya.
Melalui UMKM Bambu 1001 Goa ini, pria yang akrab disapa Nur ini berhasil mengangkat nilai ekonomi anyaman bambu lokal yang sebelumnya dihargai sangat rendah menjadi produk suvenir bernilai jual tinggi.
Dalam program siniar Kertas Kosong Pacitanku TV yang tayang belum lama ini, inisiatif ini bermula dari pengalaman pribadi Nur saat menyaksikan para lansia di desanya berjalan kaki menembus pagi buta demi menjual hasil anyaman ke pasar.
Ia merasa miris melihat para pengrajin yang rata-rata berusia di atas 60 tahun tersebut menjual kerajinan rumit seperti tompo atau keranjang hanya dengan harga sekitar Rp8.000 hingga Rp9.000 per buah kepada tengkulak.
Situasi semakin memprihatinkan saat musim penghujan tiba karena harga anyaman bisa anjlok hingga Rp5.000, sebuah angka yang dinilainya tidak sebanding dengan jerih payah dan waktu pengerjaan yang lama.
Nur kemudian memutuskan untuk memodernisasi anyaman bambu tersebut menjadi produk yang lebih relevan dengan kebutuhan pasar masa kini, yaitu suvenir dan wadah hantaran.

Ia membina para pengrajin di Desa Kasihan untuk mengubah pola produksi dari barang berukuran besar dengan nilai tukar rendah menjadi barang-barang kecil yang estetik dan fungsional.
“Strategi ini terbukti efektif meningkatkan perputaran ekonomi warga karena produk mereka kini diminati sebagai suvenir pernikahan hingga perlengkapan hotel di Bali, Surabaya, dan Malang,”kata Nur dalam siniar tersebut.
Keberhasilan ini tidak hanya berdampak pada keuntungan pribadi, tetapi juga menjadi solusi pemberdayaan ekonomi mikro di pedesaan yang ramah lingkungan.
Nur menjelaskan bahwa bambu memiliki potensi luar biasa karena seluruh bagiannya, mulai dari akar hingga batang, dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi jika dikelola dengan tepat.
Saat ini, usahanya juga mendapatkan dukungan dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) melalui Balai Latihan Kerja (BLK) Kabupaten Pacitan untuk memberikan pelatihan pengolahan bambu kepada masyarakat luas.
Meskipun menghadapi tantangan berupa penurunan pemesanan akibat dinamika pasar pada tahun ini, Nur tetap optimistis bahwa kerajinan anyaman bambu sebagai warisan tertua di dunia harus terus dilestarikan.
“Kami berharap langkah kecil yang dimulainya dapat menginspirasi pelaku UMKM lain untuk terus berkarya dan memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar,”pungkasnya.
Video Cerita Mantan Aktivis Jadi Pelaku UMKM 1001 Bambu di Pacitan – Podcast Kertas Kosong Eps. 48









