Pacitanku.com, TULAKAN — Memasuki awal tahun 2026, kondisi infrastruktur jalan penghubung antarwilayah di Kabupaten Pacitan kembali menjadi sorotan tajam masyarakat.
Akses strategis yang menghubungkan Pacitan dengan Ponorogo melalui jalur Tulakan–Ketro–Slahung dilaporkan mengalami kerusakan parah di berbagai titik sehingga mengganggu mobilitas warga.
Jalur yang menjadi urat nadi perekonomian, pendidikan, dan aktivitas harian warga ini kondisinya kian memburuk dibandingkan tahun-tahun sebelumnya dan dinilai belum mendapatkan penanganan serius yang bersifat permanen dari pihak terkait.
Berdasarkan pantauan di lapangan pada Kamis (1/1/2026), kerusakan infrastruktur tersebut terlihat sangat memprihatinkan dengan variasi kerusakan mulai dari lubang menganga, permukaan aspal yang mengelupas, hingga badan jalan yang bergelombang dan retak.
Pada beberapa ruas vital, lapisan aspal bahkan telah habis tergerus sehingga menyisakan bebatuan tajam dan tanah dasar yang licin.
Situasi ini diperparah oleh curah hujan yang turun dengan intensitas sedang hingga tinggi, menyebabkan lubang-lubang jalan tertutup genangan air yang menyulitkan sekaligus membahayakan pengendara yang melintas.
Kerusakan jalan ini dipicu oleh kombinasi berbagai faktor, mulai dari kondisi geografis tanah yang labil, tingginya volume kendaraan, hingga drainase yang buruk.
Saluran air di sepanjang jalan tersebut banyak yang tidak berfungsi optimal akibat tersumbat oleh longsoran tanah, batu, dan sampah dedaunan.

Akibatnya, saat hujan turun, air meluber ke badan jalan dan mempercepat pengikisan aspal. Selain itu, melintasnya truk-truk bermuatan material berat seperti kayu, batu, dan tanah yang disinyalir melebihi batas tonase turut mempercepat degradasi kualitas jalan raya.
Dampak dari kerusakan ini dirasakan langsung oleh para pengguna jalan yang mengeluhkan waktu tempuh menjadi jauh lebih lama dan risiko kecelakaan yang meningkat, terutama pada malam hari.
Salah satu warga pengguna jalan, July Hartono, mengungkapkan bahwa kondisi geografis yang sulit ditambah padatnya lalu lintas kendaraan bermuatan berat membuat jalanan cepat rusak meski sempat ditambal.
Ia pun mendesak para pelaku usaha yang menggunakan armada berat untuk turut peduli terhadap kondisi jalan yang mereka lalui setiap hari.
“Memang jalan tersebut bisa dikatakan sulit karena faktor geografis dan akses jalan yang kondisinya rusak dan sempit. Pengguna jalan yang melintas terlalu padat apalagi ditambah sekarang musim hujan juga,”kata July
“Yang jelas kita harus peduli, apalagi mereka para pelaku usaha pengguna jalan rutin yang sifatnya transportasinya bermuatan berat, peduli dalam arti apabila jalannya berlubang ya ditimbun dengan material batu atau kerikil untuk jangka pendeknya sembari menunggu tindakan dari daerah ataupun dari pemerintah pusat,” ujar July Hartono.
Senada dengan July, keluhan juga datang dari Yuli Widiastuti, seorang warga yang rutin melintasi jalur tersebut. Yuli menyayangkan minimnya perawatan pada jalur alternatif yang sangat vital ini.
Ia menceritakan pengalamannya di mana waktu tempuh perjalanannya kini membengkak hingga dua kali lipat akibat harus menghindari jalanan yang rusak parah.
Menurutnya, perjalanan dari Tulakan menuju Desa Wonosidi yang biasanya hanya memakan waktu 20 menit, kini harus ditempuh dalam waktu 30 hingga 40 menit.
“Sebenarnya akses jalan ini sangat alternatif, cuma sayangnya kondisi jalan agak memprihatinkan sudah banyak aspalnya yang habis dan berlubang. Mungkin yang pertama kurangnya perawatan baik dari pihak pemerintah maupun masyarakat,”katanya.
Dia berharap Pemerintah bisa memperhatikan akses jalan perbatasan tesebut. Masyarakat berharap pemerintah daerah maupun pusat segera mengambil langkah konkret untuk memperbaiki jalan tersebut dengan material yang sesuai standar agar memiliki daya tahan jangka panjang.
Perbaikan sementara berupa tambal sulam dinilai tidak lagi efektif karena kerusakan kembali muncul dalam waktu singkat akibat beban lalu lintas dan cuaca.
Warga menginginkan tahun 2026 menjadi momentum perubahan nyata di mana perbaikan infrastruktur dapat benar-benar dirasakan manfaatnya demi kelancaran roda perekonomian dan keselamatan masyarakat luas.
“Harapan jangka panjang tentang akses jalan Tulakan-Ketro tersebut ada perhatian dari pemerintah daerah untuk perawatan jalan yang nantinya melibatkan warga di sepanjang akses jalan itu secara bergantian melakukan kerja bakti atau gotong royong,”pungkas Yuli.








