Pacitanku.com, PACITAN — Suasana syahdu menyelimuti kawasan wisata Mentari Ocean View Kabupaten Pacitan, saat Sanggar Pradnya menggelar acara istimewa bertajuk refleksi akhir tahun pada Selasa (31/12/2025).
Menutup lembaran tahun 2025, sanggar seni ini menyuguhkan kolaborasi apik antara seni tari dan sinematografi yang melibatkan puluhan seniman dari dalam maupun luar daerah.
Gelaran ini tidak hanya menjadi panggung hiburan, melainkan sebuah perenungan mendalam mengenai perjalanan laku, darma, dan karma manusia yang dikemas dalam estetika budaya.
Panggung terbuka di kawasan perbukitan tersebut menjadi saksi kepiawaian para penari dalam membawakan ragam tarian Nusantara.
Penonton yang terdiri dari orang tua wali, wisatawan, hingga penikmat seni dari berbagai usia dimanjakan dengan deretan penampilan memukau, mulai dari tari Gambyong Pangkur, Kidang, Yapong, Ganongan, hingga dramatari Panggih dan tari Alap-alap.
Tak hanya itu, nuansa magis semakin terasa dengan pemutaran film hasil kolaborasi kreatif antara Sanggar Pradnya dengan iO Film serta iringan musik dari kelompok Musik Manakala.
Penyelenggara acara, Rani Iswinedar, mengungkapkan bahwa perhelatan ini merupakan rangkuman dari perjalanan kreatif Sanggar Pradnya selama 12 tahun berkarya.
Semangat yang diusung berakar pada upaya pelestarian budaya, khususnya yang bersumber dari cerita Panji Wayang Beber khas Pacitan.
Demi menyuguhkan penampilan terbaik, Rani menjelaskan bahwa seluruh pengisi acara telah melakukan persiapan matang melalui latihan rutin yang semakin intensif menjelang akhir tahun.
“Para penari menjalani latihan rutin setiap pekan, dan menjelang bulan Desember latihan dilakukan lebih intensif. Sanggar Pradnya juga memiliki program pementasan setiap semester yang biasanya digelar pada akhir dan pertengahan tahun,” ujar Rani Iswinedar di sela-sela acara.
Kolaborasi budaya ini semakin kaya warna dengan kehadiran penampil dari berbagai komunitas seni, seperti Sanggar Noto Puran, Sanggar Lia Art Dance, Lekasenja Tulakan, hingga Kaluna Dance.
Bahkan, acara ini turut dihadiri oleh seniman lintas wilayah, termasuk Misbah, seorang pegiat seni dari Sulawesi, serta akademisi seni dari Institut Seni Indonesia (ISI) Solo yang memberikan apresiasi tinggi terhadap semangat berkarya seniman muda Pacitan.
Melalui kegiatan refleksi akhir tahun ini, Rani menaruh harapan besar agar ekosistem seni di Pacitan terus tumbuh dan melahirkan seniman-seniman muda yang tangguh.
Lebih jauh, ia bercita-cita agar Pacitan tidak hanya dikenal karena bentang alamnya yang mempesona, tetapi juga karena kekayaan intelektual dan budayanya yang luhur hingga ke kancah internasional.
“Pacitan diharapkan dapat dikenal lebih luas, baik di tingkat lokal, regional, nasional, maupun internasional. Tidak hanya dikenal karena keindahan alamnya, Pacitan juga memiliki kekayaan budaya yang perlu terus diperkenalkan dan dipelajari,”pungkasnya.












