Pacitanku.com, PRINGKUKU — Wisata alam Bukit Tompe yang terletak di Desa Tamanasri, Kecamatan Pringkuku, Kabupaten Pacitan, kini menjelma menjadi destinasi primadona baru bagi para wisatawan, khususnya para pemburu matahari terbit atau sunrise.
Destinasi yang berada pada ketinggian sekitar 508 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini menawarkan panorama memukau berupa hamparan kabut putih yang menyelimuti perbukitan hijau, sehingga kerap dijuluki sebagai “Negeri di Atas Awan”.
Keindahan lanskap pegunungan Pacitan yang berpadu dengan gagahnya Gunung Limo serta pemandangan wilayah Kecamatan Arjosari dari ketinggian menjadi daya tarik utama lokasi ini.
Fenomena lautan kabut yang memanjakan mata biasanya dapat dinikmati secara optimal oleh pengunjung yang datang sejak pukul 05.00 WIB.
Tak heran jika pada akhir pekan, kawasan ini dipadati wisatawan lokal maupun luar daerah yang ingin mengabadikan momen fajar dengan latar belakang alam yang asri.
Meskipun menawarkan pemandangan kelas atas, kondisi infrastruktur penunjang di Bukit Tompe dinilai masih memerlukan sentuhan lebih lanjut.
Salah satu pengunjung, Alif, mengungkapkan kekagumannya terhadap keindahan suasana bukit tersebut, namun ia memberikan catatan terkait fasilitas yang belum memadai.
Menurutnya, meskipun akses menuju lokasi dari arah Arjosari terbilang mudah meski menanjak dan berkelok, akses masuk dari area parkir menuju titik pandang atau spot utama masih berupa jalan setapak dan semak belukar.
“Suasana Bukit Tompe ini begitu indah. Hanya saja belum ada penataan untuk menjadikan destinasi wisata di kawasan itu. Untuk fasilitas, sudah tersedia parkiran namun belum ada tempat ibadah dan kamar mandi. Yang perlu diperhatikan adalah akses masuk dari parkiran ke spot-nya yang masih berupa jalan setapak dan belukar,”kata Alif saat ditemui di lokasi, Minggu (21/12/2025).
Sementara itu, salah satu warga Dusun Gulang, Desa Mlati, Kecamatan Arjosari, Hendrik, menjelaskan bahwa saat ini pengelolaan Bukit Tompe masih dilakukan secara swadaya oleh masyarakat sekitar.
Meski demikian, pemerintah desa setempat mulai berupaya mengembangkan fasilitas, mulai dari penyediaan gazebo untuk bersantai, area parkir, hingga wacana pembangunan wahana air water boom mini yang ramah keluarga.
Pihak pengelola juga mulai menyediakan ruang bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal untuk memasarkan produk desa guna mendukung perputaran ekonomi warga.
“Tempat ini memang akan dikembangkan jadi tempat wisata. Sampai saat ini Bukit Tompe masih dikelola secara swadaya oleh masyarakat, akan tetapi warga juga memiliki harapan agar ada perhatian lebih dari pihak terkait untuk pengembangan lebih lanjut dan menjadikan tempat ini sebagai alternatif wisata di Pacitan,” jelas Hendrik.
Dengan biaya parkir yang terjangkau, Bukit Tompe menjadi alternatif wisata murah meriah yang menjanjikan pengalaman visual luar biasa.
Bagi wisatawan yang ingin berkunjung, disarankan untuk tetap berhati-hati saat berkendara mengingat medan jalan yang khas pegunungan, serta datang lebih pagi jika ingin mendapatkan keberuntungan menyaksikan fenomena awan yang menyelimuti lembah Pacitan.












