Pacitanku.com, PACITAN – Ratusan masyarakat dari berbagai elemen memadati Gedung Graha Mitra Mandiri di Jalan Gatot Subroto, Ploso, Pacitan, untuk mengikuti seminar parenting bersama pakar pengasuhan anak, Ayah Irwan Rinaldi, Sabtu (29/11/2025).
Kegiatan yang digelar dalam rangka memperingati Hari Ayah tahun 2025 ini menjadi bukti nyata semangat kolaborasi lintas organisasi di Pacitan untuk menyelamatkan generasi penerus bangsa di tengah situasi darurat pengasuhan.
Acara ini terselenggara berkat kerja sama apik antara Lembaga Manajemen Infaq (LMI), Majelis Taklim Perempuan-Pusat Pendidikan dan Tahfizh Al-Qur’an (MTP-PPTQ) IPHI, Majelis Taklim Ummi Shalihah, Muslimat Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII), PC Muslimat NU, serta PD Aisyiyah Kabupaten Pacitan.
Mengusung tema “Optimalisasi Peran Keluarga dalam Mendidik Generasi Rabbani”, seminar ini berhasil menyedot perhatian sekitar 500 peserta yang didominasi oleh kaum ibu sebanyak 90 persen, sementara kalangan ayah turut hadir mengisi sekitar 5 persen dari total audiens.

Ketua Panitia Pelaksana sekaligus Ketua Majelis Taklim Perempuan IPHI, Ririn Subianti, mengungkapkan bahwa momentum ini adalah saat yang tepat bagi seluruh elemen masyarakat untuk menepikan perbedaan dan bersatu demi masa depan anak-anak.
Menurutnya, kolaborasi lintas lembaga dan organisasi masyarakat ini menunjukkan bahwa kepedulian terhadap pendidikan karakter generasi muda adalah tanggung jawab kolektif yang tidak bisa ditawar lagi.
“Saatnya kita bersatu, bergandeng tangan, dan berkolaborasi demi masa depan anak-anak bangsa. Kami berharap akan ada lagi kegiatan kolaboratif yang lebih besar dengan tema yang beragam,”kata perempuan yang juga anggota DPRD Pacitan ini.
“Yang pasti, potensi umat harus bangkit bersama-sama agar lebih optimal dalam memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat di Kabupaten Pacitan,”imbuh Ririn, sapaan akrabnya.
Sementara, dalam paparannya yang menyentuh hati, Ayah Irwan Rinaldi menekankan pentingnya kesamaan visi dalam mendidik anak, terlepas dari perbedaan latar belakang atau afiliasi kelompok.
Ia mengingatkan bahwa kondisi pengasuhan anak di Indonesia saat ini sedang tidak baik-baik saja, ditandai dengan maraknya kasus bunuh diri pada anak, perundungan (bullying), perilaku LGBT, seks bebas, hingga penyalahgunaan narkoba.
Oleh karena itu, keluarga harus kembali difungsikan sebagai benteng utama perlindungan anak.
“Beda baju perjuangan boleh, tapi terhadap urusan generasi penerus, kita harus punya visi misi yang sama. Bahwa pengasuhan dan pendidikan anak-anak di negeri ini adalah tugas kita bersama,”tegas Irwan Rinaldi.
“Di tengah situasi darurat pengasuhan anak saat ini, tantangan pola asuh harus menjadi prioritas kita dalam mengembalikan peran keluarga dan lingkungan sebagai tempat yang paling nyaman dan aman bagi tumbuh kembang anak-anak kita,”jelasnya.
Antusiasme peserta terlihat jelas sepanjang acara berlangsung. Materi yang disampaikan dinilai sangat relevan dengan tantangan yang dihadapi orang tua di era digital saat ini.
Wulan, salah satu peserta, mengaku mendapatkan banyak wawasan baru untuk diterapkan dalam keluarganya. Hal senada diungkapkan Supriyono yang merasa materi seminar sangat menyentuh emosi dan tepat sasaran dengan kondisi sosial saat ini.
“Matur nuwun, materinya bagus sekali. Acaranya sangat menyentuh dan tepat saat situasi yang sekarang ini,”kata Supriyono.
Selain menjadi ajang menimba ilmu, kegiatan ini juga menjadi ladang amal kemanusiaan. Seluruh dana infak yang terkumpul dalam acara tersebut didonasikan melalui LMI untuk membantu korban bencana alam di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara, serta untuk bantuan kemanusiaan di Palestina.










