Dorong Literasi Sosial, Dewan Kesenian Pacitan Gelar Dialog Budaya Soroti Nilai Tawar Puisi dalam Kebijakan

oleh -156 Dilihat
Dewan Kesenian Pacitan (DKP) menggelar Dialog Budaya (Sabtu, 11/10/2025), membahas nilai tawar puisi dalam realitas sosial. Sekretaris DKP, Bambang, menekankan pentingnya puisi sebagai ekspresi budaya yang mampu memengaruhi kebijakan dan mendorong literasi sosial-budaya di masyarakat. (Foto: Dok. Dewan Kesenian Pacitan)

Pacitanku.com, PACITANDewan Kesenian Pacitan (DKP) sukses menyelenggarakan Dialog Budaya bertajuk “Nilai Tawar Puisi Dalam Realitas Sosial” yang dihadiri peserta dari berbagai kalangan. Acara ini berlangsung di Gedung Muhammadiyah Pacitan pada Sabtu malam (11/10/2025) malam WIB.

Sekretaris Dewan Kesenian Pacitan, Bambang, menjelaskan bahwa dialog ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk menyelaraskan kembali pemahaman bahwa budaya menjadi pijakan laku dalam realitas masyarakat.

“Budaya menjadi penting untuk kembali direfleksikan dalam segala lini kebijakan, baik sosial, politik, maupun ekonomi,”kata Bambang.

Ia menambahkan bahwa tema yang diangkat bertujuan membaca ulang kontribusi karya sastra bergenre puisi—sebagai ekspresi dari budaya—dalam dinamika kehidupan masyarakat.

Menurutnya, karya puisi mampu memengaruhi kebijakan yang berkenaan dengan hidup masyarakat secara umum.

Kelompok yang paling terpengaruh oleh daya tawar puisi adalah pemuda/kalangan kampus, dunia pendidikan, dan praktisi kesenian.

Dalam konteks lokal, Bambang menyoroti peran nyata puisi dan sastra dalam membangun dan menggelorakan norma-norma budaya masyarakat setempat, yang terbukti dari karya-karya Ranggawarsita dan lirik tembang tradisional.

Menindaklanjuti dialog ini, DKP berencana melanjutkan program penguatan laku budaya dengan memperkuat kantong-kantong kebudayaan di desa-desa atau kampung-kampung di Pacitan.

Dialog ini menghasilkan kesepakatan untuk fokus pada penulisan karya sastra berbasis inspirasi folklor yang ada di Pacitan. Harapan besar DKP adalah terciptanya masyarakat yang sadar akan literasi sosial-budaya.

“Literasi sosial-budaya yang diharapkan, yaitu hasil dari pengembangan literasi sosial masyarakat yang beradab dan berintelektual, diharapkan mampu mencinta proses kreatif yang kondusif dari masyarakat,” tutup Bambang.

No More Posts Available.

No more pages to load.