Pacitanku.com, PACITAN – Musim kemarau basah yang intens terjadi pada 2025 memberikan tantangan berat bagi para petani tembakau di Pacitan.
Kondisi cuaca yang tidak menentu ini membuat petani harus lebih kreatif, mulai dari proses tanam hingga pascapanen, demi menjaga kualitas dan kuantitas hasil panen.
Seorang petani tembakau jenis grompol, Suhadi, merasakan langsung dampak perubahan cuaca ekstrem ini.
Menurutnya, musim kemarau basah tahun ini menjadi yang terberat baginya sejak menekuni tanaman tembakau tiga tahun terakhir.
“Tahun ini 2025, bagi petani tembakau cukup berat, Mas. Musim yang tidak menentu banyak menyebabkan tanaman layu dan mati,”katanya, Minggu (21/9/2025) di Pacitan.
Suhadi mengungkapkan, kondisi ini memaksa petani untuk melakukan penyulaman bibit hingga tiga kali dalam satu lahan. Tanaman tembakau sangat rentan terserang jamur dan penyakit layu akibat kelembapan tinggi.

Meskipun menghadapi kesulitan, Suhadi optimistis harga tembakau akan lebih tinggi. Ia berharap harga jual tetap stabil dan tidak ada permainan harga yang merugikan petani.
“Jika prediksi saya harga lebih tinggi panen ini, Mas, ya karena cuaca kemarau basah. Harapannya ya tentu harga stabil, Mas, dan tidak ada permainan harga. Karena itu merugikan untuk petani,”pungkasnya.
Pihak berwenang juga mengingatkan masyarakat, khususnya petani, akan bahaya rokok ilegal. Rokok ilegal dapat dikenali dari lima ciri utama, yaitu tanpa pita cukai, pita cukai palsu, pita cukai bekas, salah peruntukan, dan salah personalisasi.
Menjual rokok ilegal merupakan pelanggaran hukum yang diancam pidana penjara satu hingga lima tahun dan/atau denda yang besar.











