Pacitanku.com, PACITAN – Suasana magis menyelimuti Desa Sukoharjo, Pacitan, pada Jumat malam (18/7/2025).
Alunan gamelan yang lembut dan nyaring terdengar berbeda, memecah keheningan. Ini bukanlah suara gamelan biasa, melainkan Gamelan Beling, sebuah mahakarya inovatif yang lahir dari tangan-tangan kreatif seniman Sanggar Song Meri.
Pagelaran Budaya bertajuk “Whistle of the Ancients Pacitan” menjadi panggung utama bagi Gamelan Beling untuk unjuk kebolehan.
Acara yang merupakan puncak dari program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) Telkomsel “Baktiku Negeriku” ini sukses menyedot perhatian masyarakat.
Baca juga: Pagelaran Budaya Song Meri Pacitan Hidupkan Tradisi dan Gerakkan Ekonomi Lokal
Berbagai kesenian, mulai dari tari-tarian, kontekan lesung, hingga penampilan istimewa Gamelan Beling dari para seniman lokal, disajikan dengan apik.
Gamelan Beling tak pelak menjadi bintang utama malam itu. Ikon kebanggaan Sanggar Song Meri ini lahir dari sebuah eksperimen di tengah sunyinya pandemi COVID-19.
“Alhamdulillah jadi ikon Song Meri. Kebetulan pas COVID kemarin tidak ada kegiatan, dan beberapa teman seniman ngumpul di sini membuat sesuatu, eksperimen dari limbah kaca, dan terjadilah Gamelan Beling,” ungkap Amin Sastro, pimpinan Sanggar Song Meri.
Proses penciptaannya menunjukkan kepedulian yang mendalam terhadap lingkungan. Para seniman mengumpulkan limbah kaca dari toko-toko etalase dan botol-botol bekas tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun.
“Itupun kita tidak beli, kita harus meminta atau mengambil limbah kaca karena tujuan awal kita memanfaatkan limbah, jadi semuanya harus cari,” jelas Amin.
Ketenangan Batin, Kunci Harmoni Suara Kaca
Menariknya, di balik keunikan bahan dasarnya, terdapat sebuah filosofi mendalam dalam memainkan Gamelan Beling.
Menurut Amin, kunci agar bilah-bilah kaca tidak pecah saat ditabuh terletak pada ketenangan batin sang penabuh atau pengrawit.
“Ada trik tertentu. Jadi, setiap pengrawit atau orang yang ingin menabuh itu diharapkan dalam hatinya tidak ‘grundel’ (suasana hati kacau) pada saat memukul gamelan, tidak ada emosi,” ujarnya.
Ia menegaskan, jika seseorang datang dengan beban masalah dan emosi yang tak terkendali, energi negatif itu bisa tersalurkan dan menyebabkan kaca pecah.
Secara musikal, Gamelan Beling menghasilkan karakter suara yang khas, berbeda dari gamelan berbahan logam.
“Seperti gamelan pada umumnya, cuma lebih ke lembut dan nyaring. Kalau gamelan besi kan hentakannya tajam, kalau ini tidak begitu tajam hentakannya,” tutur Amin.
Upaya pelestarian kesenian ini terus digalakkan, terutama dengan merangkul generasi muda. Sanggar Song Meri secara rutin mengadakan berbagai kegiatan dan menerapkan metode khusus agar kaum muda tertarik untuk terlibat dan melanjutkan warisan budaya ini.
Sanggar Song Meri sendiri telah menjadi rumah bagi para seniman dari Pacitan maupun luar daerah untuk berkumpul, berkreasi, dan menggelar acara.
“Banyak yang ngumpul di sini, jadi setiap ada teman yang ingin mengadakan sesuatu di sini kita siapkan,” kata Amin.
Melalui pagelaran ini, Amin Sastro berharap inovasi dan semangat kolaborasi yang terjalin dapat menginspirasi lebih banyak pihak untuk terus menghidupkan dan melestarikan kekayaan seni dan budaya lokal sekaligus Makin Tahu Indonesia.












