Ekonomi Belum Pulih, Mahasiswa di Pacitan Sebut Kebijakan Kenaikan Harga BBM Tidak Berpihak Kepada Rakyat

oleh -Dibaca 1,041 kali
Puluhan mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Pacitan dan BEM STKIP PGRI Pacitan melaksanakan unjuk rasa menyikapi kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) pada Selasa (6/9/2022). (Foto: Sulthan Shalahuddin/Pacitanku)

Pacitanku.com, PACITAN – Puluhan mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Pacitan dan BEM STKIP PGRI Pacitan melaksanakan unjuk rasa menyikapi kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) pada Selasa (6/9/2022).

Mereka awalnya berunjuk rasa di depan Gedung DPRD, lantaran keinginan mahasiswa untuk bertemu dengan Ketua DPRD tidak dikabulkan, akhirnya diputuskan untuk menggeruduk Kantor Bupati Pacitan.

Baca juga: Sah! Harga BBM Naik, Pertalite Jadi Rp10 Ribu Per Liter, Pertamax Jadi Rp14.500 Per Liter

Presiden BEM STKIP PGRI Pacitan Yusuf Mukib menyampaikan bahwa kebijakan kenaikan harga BBM merupakan keputusan yang tidak berpihak kepada kepentingan masyarakat.

Yusuf menyampaikan kebijakan tersebut bisa berdampak pada inflasi, kenaikan harga pangan dan menambah angka kemiskinan.

Yusuf juga menambahkan bahwa perekonomian masyarakat belum pulih, sehingga akan menambah beban rakyat jika permasalahan kenaikan harga BBM tidak segera ditangani.

Maka dari itu, pihaknya menuntut Pemerintah Daerah dan DPRD agar hadir ditengah masyarakat memberikan solusi konkrit mengatasi dampak kenaikan harga BBM.

Meski pemerintah akan memberikan subsidi yang diwujudkan dalam bentuk Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebesar Rp600 ribu sebagai konsekuensi dari kenaikan harga BBM akan tetapi Tian Dwi Widodo menegaskan bahwa mahasiswa tetap sinis dengan kebijakan tersebut.

Tian Dwi Widodo, selaku koordinator lapangan aksi menilai adanya BLT ini tidak akan mampu menyelesaikan masalah di masyarakat karena menurutnya penyaluran BLT sering tidak tepat pada sasaran lantaran banyaknya data yang tidak sesuai.

“Bagi kami, BLT tidak akan menyelesaikan masalah yang ada di masyarakat. BLT hanya akan menjadi peluang penyelewengan. Oleh karena itu kami menuntut Pemerintah Daerah untuk mengawal kebijakan BLT supaya tepat sasaran dengan melakukan penyaluran yang adil dan transparan,”tutur pria yang akrab disapa Tian itu.

Selain itu, mahasiswa unjuk rasa juga menuntun pengawasan dan ketegasan dari DPRD Pacitan mengenai mafia migas serta mendesak Pemerintah Daerah Pacitan untuk memberantasan dengan melakukan penegakan hukum yang adil dan transparan dari hulu ke hilir.

“Kami melihat dan mengamati keresahan masyarakat terkait mafia migas yang tentunya merugikan kepentingan publik. Pemerintah harus hadir untuk memberikan ketegasan kepada pihak-pihak yang merusak distribusi migas kepada konsumen,”kata Ketua Umum HMI Pacitan Imam Rifai.

Sebagai informasi, Presiden RI secara resmi menaikkan harga BBM per Sabtu (3/9/2022) lalu. Kenaikan harga BBM bersubsidi, antara lain pertalite dari Rp 7.650 per liter menjadi Rp 10.000 per liter, kemudian solar bersubsidi dari Rp 5.150  per liter menjadi Rp 6.800 per liter. Kemudian Pertamax non subsidi dari Rp 12,500 per liter menjadi Rp 14.500 per liter.

No More Posts Available.

No more pages to load.