Cerita Rofah Kradenan, Bikin Produk Jamu Jahe Instan untuk Jaga Kesehatan

oleh -Dibaca 401 kali
Di Dusun Kradenan, Desa Sanggrahan, Kebonagung olahan jamu instan berbahan dasar jahe ini dikemas dalam konsep modern dan estetik sehingga menarik untuk dikonsumsi semua kalangan. (Foto: Siska Nurma Yuniar/PKL STKIP PGRI Pacitan)

Pacitanku.com, KEBONAGUNG –  Jahe biasanya dikenal dengan rempah atau jamu tradisional yang kurang diminati oleh kalangan muda.

Namun jangan salah, di Dusun Kradenan, Desa Sanggrahan, Kebonagung olahan jamu instan berbahan dasar jahe ini dikemas dalam konsep modern dan estetik sehingga menarik untuk dikonsumsi semua kalangan.

Di tangan Musyarofah atau wanita yang kerap disapa Rofah, jahe bisa diolah menjadi minuman yang berbeda dari umumnya.

Usaha ini ia tekuni bersama sang suami Riski Pranata sejak pertengahan tahun 2021 yang pada saat itu harga jahe sedang menurun.

Hal tersebut membuat Rofah mencari inovasi untuk mengembangkan jahe agar harga jualnya lebih tinggi.

Sehingga tercetus ide untuk membuat jamu jahe instan yang bisa dinikmati semua kalangan dan pastinya memiliki nilai keunggulan tersendiri.

Produk jamu jahe instan ini diberi nama Jaheman yang berarti jamu jahe instan kekinian serta mudah untuk diingat.

Memang, jamu biasanya identik dengan rasa rempah yang kuat dan khas, namun jamu disini berbeda karena dibuat menggunakan 100 persen bahan alami sehingga dapat menghasilkan rasa yang baru seperti jahe pilihan, cengkeh, kayu manis, sereh, pandan, dan bahan-bahan alami lainnya.

Sehingga Jaheman bisa menjadi pilihan minuman yang menyehatkan sekaligus menghangatkan dan cocok untuk cuaca dingin seperti ini.

Jaheman jamu instan yang berbentuk serbuk siap seduh. Proses pembuatannya hampir sama seperti pembuatan jamu instan pada umumnya.

Bahkan, produk ini sudah memiliki izin edar dari pemerintah dengan P-IRT: 710350 1010095-27 sehingga sudah tidak diragukan lagi keamanan dan keasliannya.

“Keunikan produk kita adalah yang pertama rasanya kita buat setradisional mungkin dari bahan alami tapi cocok untuk dinikmati semua kalangan seperti anak-anak, remaja, orang tua. Juga kemasan kita buat sepraktis mungkin menggunakan standing pouch. Intinya minuman produk kita ini tanpa ribet tinggal seduh dan cocok untuk dibawa travelling,”tutur Rofah saat ditemui baru-baru ini.

Tidak perlu merogoh kocek dalam untuk bisa menikmati produk yang satu ini. Rofah mematok harga Rp 10 ribuuntuk kemasan 100 gram dan Rp 8 ribu untuk kemasan 80 gram. Untuk varian rasa baru tersedia rasa original saja. Untuk kedepannya Rofah merencanakan akan menambah varian rasa lain agar lebih menarik minat pembeli. 

“Bulan Mei lalu Jaheman sempat mengikuti event virtual, dan emasaran Jaheman pada awalnya hanya melalui whatsapp dan dititipkan di warung, namun sekarang sudah meluas yakni tersedia di marketplace seperti Shopee dan Tik Tok Shop,”kata Rofah.

Dengan pemasaran tersebut, kata dia, masyarakat lebih mudah dalam bertransaksi dan bisa dikirim ke berbagai wilayah di Indonesia.

Hasilnya, Rofah mengatakan setidaknya dalam 1 bulan Jaheman terjual kurang lebih 300-500 bungkus.

Rofah berharap produk Jaheman yang dikelolanya terus dikembangkan produksi dan pemasaranya, agar dapat meningkatkan perekonomian.

Selain itu ia juga berharap agar mendapat perhatian dari pemerintah dan mendukung secara penuh produk-produk UMKM di lingkungan setempat.

“Karena mengingat di wilayah Sanggrahan terdapat banyak bahan baku dari alam yang berpontensi untuk diolah menjadi suatu produk yang baru dan lebih meningkatkan nilai jual,”pungkasnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.