Seni Pertunjukan Memetri Urup Semarakkan Pelem Festival Edisi ke-4

oleh -Dibaca 983 kali
Memetri Urup digelar oleh sanggar Pradapa Loka Bakti dalam pembukaan Pelem Festival pada selasa sore (09/08/2022) di Sampang Arts Space yang berada di desa Pelem kecamatan Pringkuku. (Foto: Lilik Vinaya/PKL STKIP PGRI Pacitan)

Pacitanku. Com, PACITAN – Agenda seni budaya Pelem Festival edisi ke-4 sudah dimulai. Pada tahun 2022 ini, penyelenggaraan Pelem Festival merupakan edisi ke-4 yang digelar mulai Selasa (9/8/2022) hingga Minggu (13/8/2022) di Desa Pelem, Kecamatan Pringkuku, Pacitan.

Pada tahun ini, rangkaian Pelem Festival edisi 4 tahun 2022 yang digelar ini terdiri dari workshop, performance, pameran dan warung rakyat.

Baca juga: Pelem Festival Edisi ke-4 Digelar, Tampilkan Workshop, Performance Budaya, Hingga Pameran dan Warung Rakyat

Dan salah satu yang cukup menarik dalam agenda hari pertama Pelem Festival adalah Memetri Urup.

Memetri Urup merupakan sebuah ritual yang di gelar oleh sanggar Pradapa Loka Bakti dalam pembukaan Pelem Festival edisi ke-4, yang digelar pada Selasa (9/8/2022) sore di Sampang Arts Space yang berada di desa Pelem Kecamatan Pringkuku. 

“Ritual memetri urup adalah perwujudan doa dan permohonan kita kepada Tuhan, kepada alam, kepada semesta untuk menjaga kebermanfaatan kita sebagai manusia kepada alam sekitar, kepada sesama manusia dan kepada semesta,”kata venue manager Pelem Festival sekaligus penggagas memetri urup, Anang Setiawan, Selasa (9/8/2022).

Agenda ini, imbuh Anang, terinspirasi dari kebiasaan di masyarakat untuk selametan dalam bentuk genduren atau bancaan untuk memperingati kelahiran, atau ternak yang melahirkan.

“Dari situ saya menarik tradisi itu menjadi sebuah seni pertunjukan, setelah itu kami (anggota sanggar) sharing, lalu terbentuklah konsep memetri urup ini,”tandasnya.

Tahun ini merupakan kali pertama ritual memetri urup di laksanakan dalam rangkaian acara Pelem Festival.

Rangkaian acara memetri urup sendiri dimulai dari  prosesi membawa tumpeng ke bagian tengah altar berbentuk segitiga yang telah di sediakan lalu semua yang hadir di sekeliling diarahkan membentuk lingkaran dan duduk bersila.

Prosesi dilanjutkan dengan membawa  kepala sapi dan kendi berisi air dari kali di desa tersebut ke tengah. Beberapa perwakilan undangan yang hadir mewakili untuk duduk membentuk lingkaran kecil mengelilingi tumpeng, kendi dan kepala sapi.

Setelah itu prosesi diakhiri dengan pemotongan tumpeng. Selama prosesi memetri urup diiringi oleh gamelan, tembang singgah singgah, dan doa yang di lafalkan oleh pemimpin ritual.

Baca juga: Hidupkan Semangat Kolaborasi, Bupati Pacitan Apresiasi Penyelenggaraan Pelem Festival Edisi ke-4

Anang mengatakan, tumpeng memiliki makna secara umum yaitu bentuk doa kepada Tuhan yang harus mengerucut ke atas.

“Yang berbeda itu memang kepala sapi, kepala sapi itu adalah simbol dari kesenian yang kita pegang, ruang ini, tempat ini lahir dari tari eklek, tari ini merupakan simbolisasi dari karakter sapi, dan kita punya satu ruang disini yang kami sebut sampang semacam  danyang, nah kayu yang dibuat kepala sapi itu berasal dari sana, jadi kepala sapi itu adalah simbol dari kesenian yang kita pegang,”papar dia.

Selain itu, Anang menjelaskan untuk kendi yang dibawa adalah karena Pelem festival adalah miliknya desa.

“Jadi kita membawa air dari desa yang kita arak kesini, ke sampang, ke pusat kesenian, kita temukan dengan kesenian yang kita pegang yaitu kepala sapi. Sebenarnya formasi ini merupakan antara kesenian, pemerintah desa dan panyuwunan kepada Tuhan,” ujarnya.

Memetri urup diikuti oleh ratusan orang  yang terlibat dalam seluruh rangkaian kegiatan kesenian di Pelem Festival yaitu tetua di desa Pelem, pak Lurah serta perangkat desa, peserta yang berpartisipasi dalam kesenian serta masyarakat yang mendukung Pelem Festival.

“Memetri urup itu permintaan kepada Yang Maha Kuasa harapannya selama jalannya kegiatan diberikan keselamatan kepada semuanya, baik sebagai panitia, pelaku, penonton dan yang berkontribusi dalam kegiatan Pelem Festival ini,”kata Ponimin selaku pembawa kendi dan pelafal doa dalam ritual memetri urup.

No More Posts Available.

No more pages to load.