Pacitan Butuh Kerja Keras dan Perhatian Khusus Tangani Stunting

oleh -Dibaca 256 kali
FOKUS PERIKANAN PERTANIAN. Khofifah didampingi Bupati Aji dan Wabup Gagarin saat jumpa pers pada Jumat (7/5/2021) di Pendopo. (Foto: Sulthan Salahuddin/Pacitanku.com)

Pacitanku.com, PACITAN – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meminta Kabupaten Pacitan, melalui tim penggerak (TP) Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kabupaten Pacitan dan dinas terkait untuk bekerja keras dalam penanganan stunting atau  masalah kurang gizi pada anak.

Dalam paparannya pada Jumat (7/5/2021) kemarin, Gubernur perempuan pertama di Jawa Timur ini menyebut berdasarkan data menurut bulan timbang pada Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (E-PPGBM) per Agustus 2020, prevalensi stunting Kabupaten Pacitan berada pada angka 34,47.

Baca juga: Khofifah Minta Aji-Gagarin Fokus Penguatan Sektor Pertanian, Perikanan Hingga SDM di Pacitan

Sementara angka tersebut masih jauh di atas rata-rata Jawa Timur yang berada pada angka 26,86.

Melihat kondisi itu, Khofifah meminta perlu adanya perhatian khusus. Meskipun, Khofifah mengakui soal angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di Kabupaten Pacitan terpantau rendah dari daerah lainnya.

“Stunting di Pacitan ini yang harus dijadikan pekerjaan rumah,”kata Khofifah.

Salah satu solusi yang bisa dilakukan, kata mantan Menteri Sosial (Mensos) RI ini, adalah dengan memanfaatkan potensi ikan melimpah di Pacitan.

“Ikannya Pacitan luar biasa, bisa jadi supply gizi yang bagus bagi masyarakat,”kata Khofifah.

Data pada tahun 2020, secara nasional, angka stunting saat ini yakni 26.9 persen. Jumlah tersebut ditargetkan turun menjadi 14 persen pada tahun 2024 mendatang. 

Dengan kondisi tersebut, jika dilihat dari jumlah balita secara Nasional maka ada 7 juta lebih balita mengalami stunting. Oleh karenanya, BKKBN berusaha keras untuk menekan bayi yang lahir dengan tinggi kurang dari standar.

Dari target 14 persen di tahun 2024, maka di tahun 2024 tidak boleh ada balita yang mengalami stunting sebanyak 3.6 juta balita. (red)