Bupati Indartato dan Keinginannya Mewujudkan Rakyat Pacitan dengan “Dompet Kandel”

oleh -Dibaca 232 kali
Ngopi bareng Pak Indartato beberapa waktu lalu. (Foto: Sulthan Salahuddin/Pacitanku.com)

Pacitanku.com, PACITAN – Beberapa bulan lagi, Bupati Pacitan Indartato akan mengakhiri kepemimpinannya seiring dilantiknya Bupati dan Wakil Bupati Pacitan yang baru hasil Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Pacitan 9 Desember 2020 lalu.

Untuk diketahui, Bupati Pacitan Indartato adalah Bupati Pacitan pertama yang menjabat dua kali masa bhakti sejak adanya Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati secara langsung, yaitu masa bhakti tahun 2011-2016 dan 2016-2021. Dalam dua kali masa kepemimpinan Indartato, banyak capaian yang diraih oleh pria yang merupakan sosok birokrat tulen sejak mengawali kariernya.

Beberapa waktu lalu, Pacitanku.com berkesempatan untuk berbincang-bincang dengan pria yang akrab disapa Pak In ini, tentang harapan dan juga keinginan Pak In untuk masyarakat Pacitan. Dialog Ngobrol Inspirasi (Ngopi) tersebut sudah tersedia di kanal Youtube Pacitanku.

“Terimakasih pak Dwi dari Pacitanku.com, jadi intinya gini, sebuah pekerjaan, sebuah kepemimpinan itu hasilnya dua, yang pertama adalah kehormatan, dan yang kedua adalah kehinaan. Lha kita berangkat tujuan kita kemana? kehormatan atau kehinaan. Lha kaitan ini banyak suka dukanya, kalau kehormatan, kita harus berbuat baik harus baik dengan siapapun dan jangan sampai salah,”kata Indartato mengawali perbincangannya.

Namun dalam perjalanannya, kata Pak In, masalah yang dihadapi banyak kekurangannya. Menurutnya, banyak kekurangan sehingga menjadi ganjalan atau halangan untuk berbuat yang lebih baik.

“Kalau larinya ke kehinaan, kita lebih mudah, dengan kesombongan mungkin. Walaupun saya juga jadi sombong setelah jadi bupati. Juga suka dukanya banyak sekali,”ujar Pak In.

Terkait keinginan masyarakat yang didapati dari hasil kunjungannya, Bupati dua periode ini mengatakan masyarakat Pacitan pada umumnya yang penting adem, ayem dan tentrem.

“Artinya kebutuhan (masyarakat) tercukupi, lha ini dukanya itu, saya tidak bisa mencukupi itu, karena semua karena keterbatasan. Lha salah satu upaya yang saya lakukan dengan teman-teman Pemda adalah tilik warga itu menyambangi, sehingga saya bisa cerita disitu misalnya ada masukan, usulan kritik, saran demi perbaikan kedepan untuk pembangunan kedepan, saya cerita disitu kemampun kita sangat terbatas, karepe itu nek iso dituruti, tapi karena keterbatasan ya tidak bisa.

Sementara itu, menghadapi orang-orang yang tidak senang dengan dirinya, Pak In mengatakan hal itu bukan halangan, melainkan adalah tantangan.

“Tantangan kedepan supaya lebih baik, sehingga pikiran saya sederhana nanti kalau saya setelah jadi bupati kalau ini merupakan tantangan yang jelek-jelek ini akan hilang dengan sendirinya,”ujar Pak In.

Dalam perjalanannya memimpin Pacitan, Pak In merasakan masih banyak pekerjaan rumah yang belum terselesaikan, salah satunya adalah persoalan kemiskinan.

“Ini yang menjadi masalah, menurut teori para ahli, pemerintah yang baik itu apabila bisa mengurangi penduduk miskin, dan Pacitan ini masih tinggi, dibanding rata-rata Jawa Timur angka kemiskinan tinggal 10 persen, Indonesia atau nasional 9 persen, sementara Pacitan masih 13 persen. Ini masalah yang kita hadapi,”paparnya.

Menurut Indartato, perjalanan pemerintahan yang dipimpinnya selama dua periode, cukup sulit mengurangi angka kemiskinan.

“Karena dari semua sektor yang kita kerjakan, baik sektor kesehatan supaya semuanya sehat, yang kedua pendidikan agar semuanya pinter, dan ketiga ekonomi, utamanya termasuk infrastruktur, didalamnya supaya rakyatnya dompetnya kandel ini sulit sekali,”tandasnya.

Sehingga, kemiskinan, kata dia, adalah yang harus diperangi bersama, bagaimana caranya kemiskinan ini semakin hari semakin berkurang.

Lha ini yang menjadi kurang puasnya adalah kemampuan kami terbatas untuk menangani itu. Oleh karena itu saya mohon maaf pada seluruh warga masyarakat, ternyata apa yang diharapkan belum bisa tercapai,”katanya.

No More Posts Available.

No more pages to load.