Cerita Relawan Tentang ‘Kemesraan’ Politik Indartato dan Indrata Nur Bayuaji

oleh -13175 views
Indartato (berbaju batik) dan Indrata Nur Bayuaji (Berjas).

Pacitanku.com, PACITAN — Menengok sejarah perjalanan karier politik Bupati Pacitan, Indartato dan Ketua DPRD Pacitan, Indrata Nur Bayuaji menjadi hal yang menarik.

Mungkin banyak orang tak menyangka, kedua politikus kawakan tersebut punya hubungan cukup mesra sejak pertama kali bersama mengadu nasib di dunia politik praktis.

Dimana Indartato sebagai purna bhakti aparatur sipil negara (ASN), saat itu hendak maju sebagai calon Bupati Pacitan. Sementara Indrata Nur Bayuaji, sudah duduk sebagai anggota DPRD Pacitan untuk kali pertama.

Lantas sejarah apa yang mereka sama-sama pernah torehkan, hingga keduanya saat ini berhasil mencapai puncak prestasi di jabatan politik masing-masing?

Rahman Wijayanto, salah seorang saksi hidup hubungan kemesraan antara Indartato dan Indrata Nur Bayuaji, mengungkapkan, selepas pensiun dari ASN, Indartato saat itu berkeinginan maju sebagai kontestan di Pilbup, Tahun 2010 lalu.

“Karena beliau seorang birokrat, tentu masih bingung akan melalui kendaraan politik mana, agar beliau bisa lolos sebagai calon Bupati Pacitan,”terang pria yang akrab disapa Wiwid ini, Rabu (15/7/2020).

Ditengah kegalauannya itulah, Indartato, lanjut Wiwid, sempat melangkah mengambil formulir pendaftaran calon bupati dari partai politik selain Partai Demokrat. Namun sebelumnya, Indartato sudah menjalin komunikasi personal dengan pria yang akrab disapa Aji itu.

“Waktu itu sempat saya ingatkan, kalau Pak Indartato berkeinginan maju lewat Demokrat, kenapa harus mendaftar lewat partai politik lain,”kata Wiwid.

Padahal saat itu, kata Wiwid, Aji sudah mulai membuka komunikasi dengan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrat, soal keinginan Indartato hendak maju sebagai calon Bupati Pacitan.

“Jujur, saat itu nama Indartato sama sekali belum dikenal sama DPP Partai Demokrat, apalagi di lingkungan keluarga Cikeas,”cerita Wiwid yang saat itu masih bergerak sebagai aktivis Non Government Organization (NGO).

selebaran sosialisasi pendaftaran Indartato dan Indrata pada tahun 2010 lalu. (Foto: istimewa)

Wiwid mengakui, saat itu elektabilitas Indartato memang tak terbendung. Akan tetapi di sisi lain, ia masih bingung menentukan kendaraan politik yang akan dikendarai menuju panggung Pilbup.

Hingga akhirnya, untuk menyiasati persoalan tersebut, Indrata Nur Bayuaji, bersedia berpasangan dengan Indartato, sebagaai bakal calon bupati dan wakil bupati. Dengan harapan, agar nama mantan Kepala Bappeda itu bisa dikenal di DPP Partai Demokrat dan juga keluarga besar Cikeas.

“Mas Aji-lah yang saat itu ‘cancut’ agar nama Pak Indartato bisa dikenal di jajaran DPP Partai Demokrat dan keluarga Cikeas. Hingga akhirnya jatuh-lah surat rekomendasi pencalonan ke beliau dan alamarhum Pak Prayitno sebagai calon wakil bupati. Sedangkan Mas Aji, memilih kembali meneruskan karier politiknya di DPRD Pacitan sekalian sambil belajar berpolitik kala itu,”bebernya.

Dengan jatuhnya surat rekomendasi pencalonan dari DPP Partai Demokrat, karier politik Indartato kian melesat. Ia pun berhasil memimpin Kabupaten Pacitan selama dua periode.

Tak hanya itu, berkat kepiawaiannya menjadi pemimpin di daerah dan magnet elektoralnya yang begitu kuat, hingga akhirnya DPP Partai Demokrat mempercayakan kursi Ketua DPC Partai Demokrat kepada Indartato hingga saat ini.

Lebih lanjut Wiwid mengungkapkan, tidak ada maksud tertentu dirinya harus membuka kembali sejarah perjalanan politik Bupati Indartato besama Indrata Nur Bayuaji.

Hal itu disampaikan hanya sekedar mengenang perjuangan dua politikus gaek di Pacitan itu, hingga mereka berhasil meriah posisi puncak di bidangnya masing-masing. Indartato menjadi Bupati dua periode, Aji saat ini menjadi Ketua DPRD Pacitan.

Nah, saat ini, Mas Aji hendak maju sebagai calon bupati dengan mengendarai Partai Demokrat. Semoga Pak Indartato, bisa terkenang kembali sejarah tersebut,”pungkasnya.

Pewarta: Yuniardi Sutondo
Editor: Dwi Purnawan