Mari Belajar Revitalisasi Kota dari Amsterdam

oleh -13533 views

Oleh: Andung Damar Sasongko (ADS)

Saya yang beberapa hari ini berada di negeri Kincir Angin memperhatikan betul renovasi yang dilakukan pemerintahan Amsterdam dalam melakukan revitalisasi kotanya, sehingga terdapat harmoni yang indah.

Antara berbagai fasilitas atau moda transportasi yang digunakan untuk pejalan kaki, sepeda, trem listrik serta kereta api, serta mereview pembangunan polder atau kanal-kanal, sehingga disamping sebagai pengemdali banjir bermanfaat untuk transportasi air.

Belajar dari negeri Belanda, yang terkenal dengan jagonya bangunan air. Untuk diketahui banjir yang pernah terjadi di belanda, bukan hanya menjadi salah satu yang paling destruktif, tapi juga menjadi titik-balik penting bagi orang Belanda dalam merencanakan tata ruang kotanya dalam menghadapi bencana air dengan cara yang lebih baik.

Foto Oleh

Kurang dari dua bulan pasca bencana banjir itu, sebuah proyek konstruksi untuk menghalangi air laut di sebelah Barat-daya Belanda digagas, saking besarnya proyek ini hingga tercatat sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia era modern. 

Dibangun dan memakan waktu yang lama, karena terus direvisi untuk menyesuaikan dengan perubahan kebutuhan dan tuntutan masyarakat.

Kini, air di Belanda dimanfaatkan dalam banyak bidang, bukan hanya pertanian dan energi, melainkan untuk sarana transportasi yang vital. Banyak kanal maupun sungai yang dijadikan jalur transportasi air, baik dalam kota maupun antar kota. Salah satunya kanal di kota Amsterdam.

Bahkan, saat ini pelayaran transportasi sungai dan kanal Belanda menjadi yang terbesar di Eropa.

Lebih jauh, transportasi air bukan hanya juga menjadi penggerak ekonomi melalui industri manufaktur, tapi juga sarana wisata.

Di Amsterdam misalnya, wisatawan asing banyak menjajal wisata kanalnya yang terkenal itu. ketiga kanal utama di kota Amsterdam yaitu Prinsengracht, Herengraht dan Keizergraht.

Kehadiran kanal-kanal ini, bukan hanya mengurangi jumlah dan resiko banjir di Belanda. Lebih daripada itu, bahkan membuat mereka “bersahabat” dengan air.

Menurut hemat saya, suatu sistem perencanaan tata ruang, pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan antara yang satu dan yang lain, dan harus dilakukan sesuai dengan kaidah penataan ruang.

Sehingga diharapkan dapat mewujudkan pemanfaatan ruang yang berhasil dan berdaya guna serta mampu mendukung pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan. Yaitu tidak terjadi pemborosan pemanfaatan ruang; dan tidak menyebabkan terjadinya penurunan kualitas ruang. 

Sehingga perlu “keberanian” dan “Kreativitas” tinggi dari pemerintah daerah untuk perencanaan tata ruang, pemanfaatan dan pengendaliannya serta mengelola tata ruang kotanya dan bersama warganya berkomitmen sehingga tercipta berbagai sarana dan fasilitas, diantaranya jalur transportasi air yang dilengkapi dengan publik space dan saling terkoneksi satu sama lain.

Tranportasi air yang tertata rapi, dipelihara kebersihannya serta bermanfaat besar untuk warganya dan tidak ada pembiaran perilaku yang merusak kanal tersebut.

Keberhasilan ini berkat pendidikan masyarakatnya yang secara sadar memahami perilaku baik dan buruk terhadap lingkungannya dan pemahaman ini harus diajarkan sejak usia dini.

Saya mengharapkan di Pacitan juga demikian. Dan sepertinya, Pacitan harus belajar banyak tentang revitalisasi kota dari negeri kincir angin.


*Penulis adalah putra asli Pacitan, saat ini menjabat di PT. HUTAMA KARYA (Persero) sebagai General Manager Departemen Konstruksi II
Andung lulus S1 bidang Arsitektur dan menyelesaikan S2 bidang Perencana Kota di Universitas Diponegoro Semarang
.


Kolom opini adalah kolom khusus yang disediakan untuk menyampaikan gagasan, atau permasalahan yang berujung terciptanya satu solusi dalam konteks pembangunan Pacitan. Opini sepenuhnya tanggung jawab penulis. Redaksi tidak bertanggungjawab atas muatan atau isi dari opini yang dikirim. Jika Anda tertarik, bisa mengirimkan opini Anda ke [email protected]