Budi Hari Santoso Mundur dari Bursa Bacawabup Pacitan

oleh -488 views
Kasie PJJ UPT PJJ Dinas PU dan Binamarga Pemprov Jatim (Foto: Yuniardi Sutondo)

Pacitanku.com, PACITAN – Dua puluh tahun mengabdi untuk pembangunan Kabupaten Pacitan melalui jalur birokrasi di Pemprov Jatim, dinilai belum cukup bagi seorang Budi Hari Santoso, cicit dari Adipati Kandjeng Djimat ini untuk ikut ambil bagian di bursa calon wakil bupati Pacitan tahun 2020.

Menurut Budi, ditilik dari bobot, bibit dan bebet (kualitas dan pertalian darah), sebenarnya bukan suatu kendala bagi dirinya untuk ikut ambil bagian pada kontestasi mendatang.

Namun begitu, pejabat di UPT Pembangunan Jalan dan Jembatan, Dinas PU dan Binamarga, Pemprov Jatim wilayah Pacitan ini, logika harus lebih dikedepankan dari sekedar ambisi pribadi.

“Logika saya mungkin mengabdi untuk daerah tak hanya melalui jalur politik sebagai bupati atau wakil bupati. Namun di jalur birokrasi, juga bisa. Hal inilah yang mendasari saya dan keluarga untuk lebih memilih tidak ambil bagian sebagai kontestan pemilu di Pilbup Pacitan nantinya,” tuturnya, Senin (27/1/2020).

Pejabat yang masih sepupu dari mantan Bupati Pacitan, HG Soedibyo ini, mengakui bila belakangan arus dukungan kepada dirinya untuk maju sebagai wakil bupati sangatlah deras.

Utamanya masyarakat dari belahan Utara Pacitan. Bahkan Bupati Indartato, konon juga pernah menawarinya untuk ikut mencalonkan diri seperti rekan sejawatnya, KH  Moh Nurul Huda, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Pacitan.

“Masyarakat memang banyak yang memberi support agar saya maju sebagai cawabup. Namun logika saya lebih dominan untuk berhenti sementara,” kata dia, diplomatis.

Budi menegaskan, saat ini ia masih berusia 52 tahun. Praktis masih ada sisa masa pengabdian selama 6 tahun lagi. Sedangkan untuk prasyarat pencalonan, terutama bagi ASN harus mengajukan pensiun dini atau mundur sebagai abdi negara.

“Karena alasan itulah, saya lebih baik undur diri. Saya siap maju lima tahun mendatang. Insyaallah sudah siap semuanya,” pungkasnya.

Pewarta: Yuniardi Sutondo
Penyunting: Dwi Purnawan