Jelang Pilbup, Tugas Satpol PP Semakin Krusial Meski tak Dibekali Senjata Api

oleh -624 views
Peringatan HUT Ke 6 Satpol PP Pacitan. (Foto: Doc Info Pacitan)
Peringatan HUT Ke 6 Satpol PP Pacitan. (Foto: Doc Info Pacitan)

Pacitanku.com, PACITAN – Jelang pelaksanaan Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Pacitan 2020, tensi politik tentu bakal mengalami ekskalasi. Untuk itu, fungsi pengamanan sipil dari Satpol PP kepada keselamatan bupati dan keluarganya sangat dibutuhkan dan semakin krusial.

Terlebih saat ini, Korps Praja Wibawa di Pemkab Pacitan tersebut tanpa pembekalan persenjataan api. Mereka hanya dibekali pentungan dan borgol.

Kepala Satpol PP Pacitan, Widy Sumardji menegaskan, kalau organisasi perangkat daerah yang dipimpinnya lebih mengedepankan pendekatan sosial. Sehingga kelengkapan persenjataan api dipandang bukan sebagai kebutuhan mendesak.

Sekalipun dari sisi aturan, Satpol PP diperbolehkan menggunakan senjata api meski dengan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh personil.

“Seandainya terjadi sesuatu hal, kita serahkan sepenuhnya kepada TNI dan Polri. Sebab dua institusi tersebut yang lebih memiliki kewenangan soal stabilitas Kamtibmas,” kata Widy, saat dikonfirmasi melalui ponselnya, Rabu (15/1/2020) di Pacitan.

Widi menegaskan, pihaknya lebih menekankan pada kemampuan personal. Baik dari sisi pembekalan bela diri serta kemampuan psikologi untuk melakukan upaya-upaya preventif dengan masyarakat.

“Karena itu saat rekrutmen personil, kita upayakan yang memiliki keahlian bela diri. Ini syarat dasar yang harus dimiliki personil Satpol-PP. Selain juga kemampuan berkomunikasi yang baik dan lebih menekankan pendekatan bukan penindakan,” jelas pejabat jebolan APDN ini.

Pada kesempatan yang sama, Widy juga mengungkapkan, bila saat ini Satpol-PP ditunjuk sebagai institusi yang punya peran vital dalam memberikan edukasi kepada petugas pengamanan swadaya di masing-masing desa.

“Termasuk petugas keamanan di setiap TPS, PPS dan PPK, merupakan tugas pokok dan fungsi Satpol PP untuk melakukan pembinaan,” pungkasnya.

Pewarta: Yuniardi Sutondo
Penyunting: Dwi Purnawan