Sekolah Terancam Relokasi, Rumah Warga Ambruk

oleh -Dibaca 3.063 kali
Keramik SDN Kasihan III yang jebol akibat tanah retak. (Foto: Dok.Pacitanku)

Pacitanku.com, TEGALOMBO – Bencana alam yang terjadi pada Selasa (28/11/2017) tahun lalu masih menyisakan kepedihan dan kesedihan bagi masyarakat Pacitan. Salah satunya adalah Tumin, warga Dusun Kalitengah, Desa Kasihan, Kecamatan Tegalombo.

Tumin merupakan salah satu warga dari total 90 kepala keluarga (KK) di Desa Kasihan, Kecamatan Tegalombo yang terdampak tanah longsor pada selasa malam tersebut.

Selain satu rumah rusak berat, bencana alam tanah gerak juga mengancam sekolah di Dusun Kalitengah, Desa Kasihan, Kecamatan Tegalombo.

Rumah Tumin yang ambruk tertimpa longsor.

“Rusak sedanten mas, tapi pada saat terjadi bencana saat itu kita sudah mengungsi, dan untuk wilayah sini yang rumahnya rusak berat ya hanya saya,”katanya saat ditemui Pacitanku.com, baru-baru ini.

Tumin menyebutkan bahwa dirinya akan mendapatkan bantuan bedah rumah dan relokasi oleh pemerintah. Namun hingga saat ini bantuan rumah tersebut belum diterima. “Iya rencana dari pemerintah dapat bantuan rumah, untuk tempatnya tidak jauh dari sini, lha saya sendiri pun saat ini mengungsi di rumah menantu di Ngebrak,”ujarnya.

Sementara, satu sekolah di kawasan tersebut, yakni SDN Kasihan III yang terletak tak jauh dari rumah Tumin juga mengalami bencana tanah retak. “Ini lebih dari 10 retakan mas, yang paling banyak retak adalah tembok, keramik dan plafon,”kata Dwi Rijanto, salah satu guru di sekolah tersebut.

SDN Kasihan III terdampak tanah retak. (Foto: Dok.Pacitanku)

Dwi mengatakan bahwa pihaknya sudah mengajukan relokasi sekolah karena bahaya yang mengancam sekolah tersebut. Namun kepastian waktu relokasi masih belum jelas.

Atas kondisi yang semakin parah tersebut, Dwi berharap secepatnya sekolah di relokasi, mengingat semakin seringnya intensitas retakan yang terjadi di sekolah tersebut. “Rencana relokasi di Sawahan mas, kalau bisa ya secepatnya, ini bahaya banget soalnya, tak tek tak tek terus,”pungkasnya.

Pewarta/Penyunting: Dwi Purnawan