Cerita Relawan Pulihkan Suasana Hati Warga Terdampak Bencana Pacitan

oleh -131.473 views
Tim Trauma Healing saat melakukan trauma healing untuk korban bencana alam di Pacitan. (Foto: Karto Rejo)

Pacitanku.com, PACITAN – Musibah tanah longsor dan banjir tidak hanya memporak-porandakan bangunan, tetapi juga menimbulkan kesedihan dan trauma mendalam bagi warga terdampak bencana di Pacitan.

Trauma dialami orang dewasa, anak-anak, tua dan muda. Mereka sedih karena harus kehilangan tempat tinggal, kehilangan keluarga tercinta. Trauma mengingat suara gemuruh yang diikuti oleh longsoran tanah dari atas bukit, menghantam lingkungan mereka.

Duta Relawan Indonesia (Relindo), Martha Dewi Samodrawati, Senin (25/12/2017) di Pacitan menuturkan bahwa pasca bencana di Pacitan yang terjadi pada Selasa (28/11/2017), terlihat orang tua dengan raut stres dan trauma, kepanikan dan ketakutan, tidak hanya dirasakan warga yang kehilangan sanak keluarga, tapi juga anak-anak.

Menurutnya, tugas dari para relawan tidak hanya memenuhi kebutuhan dasar, menyalurkan logistik tapi juga pemulihan psikis dengan terapi melalui program trauma healing.

Marta yang diterjunkan menjadi trainer di Pacitan bergabung dengan beberapa elemen relawan lokal sampai hari ini terus bergerak melakukan pemulihan psikologi warga terdampak bencana.

“Hari pertama kami terjun bersama Griya Quran Pacitan, kemudian di hari kedua, sampai hari ini membersamai BKPRMI dan Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) Pacitan memberikan trauma healing di wilayah kecamatan kebonagung dan Kecamatan Pacitan,”kata relawan dari Jambi ini.

Senada dengan Marta, Suwasti, relawan BSMI Pacitan menuturkan bahwa, trauma healing sangat efektif untuk pemulihan suasana kebatinan warga yang trauma atas musibah yang dialami.

“Mbak Marta yang spesialis trauma healing untuk anak-anak sudah memberikan andil pemulihan psikologis anak-anak di daerah bencana, “kata Wasti kepada Pacitanku.com.

Lebih lanjut, Wasti menuturkan bahwa pemulihan atas dampak bencana ternyata tidak cukup hanya dengan memberi warga berupa bahan-bahan pokok, kebutuhan dapur dan alat-alat rumah tangga, tetapi juga diperlukan kampuan khusus untuk memulihkan suasana hati mereka.

“Semua pasti dibutuhkan. Kalau awal-awal bencana kita siapkan amunisi berupa nasi bungkus dan air gelasan melalui dapur umum yang kami siapkan di beberapa lokasi, kemudian di hari ke empat pasca bencana ketika warga sudah bisa menghela napas, kita bantu mereka peralatan masak dan bahan makanan instan serta perbaikan tempat tinggal, relawan pun membantu pembersihan lokasi rumah, maka pada tahapan berikutnya adalah pemberian trauma healing baik kepada anak-anak maupun kepada orang tua,”jelasnya.

Wasti menuturkan bahwa trauma healing yang menghadirkan pendongeng nasional terasa sangat mengena.

“Karena penyampaian materi rohani yang ringan, bersifat menghibur serta memotivasi peserta untuk selalu berserah diri kepada Sang Maha Kuasa, peserta dilibatkan langsung dengan diberi pertanyaan selingan, di apresiasi dengan hadiah dan pujian, serta kegiatan menarik lainnya seperti permainan lucu khas anak-anak,”papar Wasti.

Di akhir acara, kata Wasti, mereka diberi bingkisan sesuai kebutuhan anak seperti alat tulis sekolah, makanan penganan dan sekedar cindera mata.

“Mbak Marta yang alumnni pasca sarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) selaku pendongeng juga sangat memukau anak-anak, sehingga membuat ceria dan se-begitu gembira. Kami berharap banyak lembaga sudi menurunkan tim trauma healing ke Pacitan dalam beberapa waktu kedepan,”tandasnya.

Wasti mengatakan bahwa sudah enam titik bencana di Pacitan yang dikunjungi Marta dan tim pendongeng nasional dari Relindo, diantaranya Desa Bolosingo, Kecamatan Pacitan, pengungsian di Desa Mangunharjo, Kecamatan Arjosari.

Kemudian di Dusun Banyuanget, Desa Kedungbendo Arjosari, Desa Punjung dan Desa Karangnongko Kecamatan Kebonagung serta satu lokasi bencana di Kecamatan Punung.

“Mbak Marta juga sangat terkesan dengan indahnya alam Pacitan, meskipun terjadi bencana warga tetap nampak tawakkal sangat tinggi. Dia juga terkesan  dengan makanan yang khas yang selama ini disantapnya dari pasugatan (suguhan-red) yang disiapkan tuan rumah acara TH,”pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, 25 orang meninggal dunia dan 1.709 unit rumah dinyatakan rusak berat akibat bencana alam di Pacitan pada Selasa (28/11/2017) lalu. Selain itu, 126 unit sekolah, 19,5 Kilometer jalan di 78 ruas, 21 jembatan dan meruak 832 meter jaringan air bersih juga turut rusak akibat bencana tersebut.

Bencana alam juga membuat enam kecamatan dengan 34 desa dengan luas total wilayah 205,58 km2 terdampak banjir, 176 titik di 68 desa di 12 Kecamatan terdampak longsor, 1.747 lahan pertanian rusak, sebanyak 23 titik tanggul dan 462 meter irigasi rusak, serta 155 ekor sapi dan 1925 ekor kambing hilang. Adapun total kerugian akibat bencana tersebut sebesar Rp 580,9 miliar.

Pewarta: Karto Rejo
Penyunting: Dwi Purnawan