Duta Batik Pacitan Berharap Ronthek Jadi Media Edukasi Industri Kreatif

oleh -506 views

Oleh: Richo Dwi Cahyono*

FESTIVAL Ronthek Pacitan 2017 telah usai digelar. Berbagai tanggapan dari masyarakat muncul dengan berbagai warna mulai dari yang pro dan yang kontra, tapi itu hal yang lumrah karena semakin besar hal yang kita lakukan semakin besar pula feedback yang akan kita terima, dan seperti biasa hal miring lebih impressive ketimbang hal dianggap normal, wajar dan baik, bagaimanapun itu lah kehasan manusia yang harus di tanggapi bijaksana oleh pemerintah kabupaten pacitan sebagai pelayan masyarakat.

Ada pepatah yang mengatakan tak ada gading yang tak retak, masyarakat juga harus menyadari ini, jangakan even sekelas kabupaten, acara yasinan RW aja seringkali menjadi topik perbincangan yang asik, tapi itu bukan berarti kita harus memaklumi dan menutup mata dengan kesalahan yang kita perbuat, mengantisipasinya melalui aspirasi masyarakat merupakan satu solusi yang baik, bukan berarti kita menyenangkan banyak orang tapi caretaker bisa mendapatkan satu literasi kuat dalam menentukan kebijakan yang tidak kontra produktif di mata masyarakat.

FRP 2017  telah nyata menjadi satu acara besar yang benar benar menjadi milik masyarakat kabupaten Pacitan, melibatkan peran serta masyarakat dari berbagai bidang, lintas agama, politik, ekonomi, sosial dan budaya.

Tak semua daerah mampu melakukannya, hebat bukan? ketika yang kristen menjadi penari si muslim menabuh gendang, ketika sang ustadz bermain seruling santrinya menabuh thethek, ketika pengusaha menyewakan sound ibu rumah tangga menyiapkan konsumsinya, mereka menciptakan harmonisasi kerukunan bermasyarakat dengan tujuan yang sama, yaitu menghibur msyarakat Pacitan.




Berbicara pertunjukan seni budaya tak lepas dari produk budaya, pariwisata, dan industri kreatif, dari FRP 2017 dengan keberhasilan penyelenggaraannya yang cukup baik, akan menjadi ideal jika ronthek ini juga bisa menjadi satu media promosi apapun yang masyarakat Pacitan ciptakan dengan ke khasannya, mulai dari paket pariwisata, seni pertunjukan, fotografi, kuliner atau BATIK PACE yang telah menjadi icon produk unggulan kabupaten Pacitan, sehingga dampaknya akan lebih bisa dirasakan masyarakat pacitan.

Melihat pertunjukan ronthek  satu yang menjadi gagasan saya, selaku pembina duta batik Pacitan, kenapa group ronthek sebanyak itu minim sekali menggunakan Batik Pace? bukan kah acara sebesar ini sekaligus bisa menjadi ajang promosi BATIK PACE setidaknya mewakili RENTETAN PRODUK IKM yang sudah ada, sebagai simbol keberadaan ronthek yang memang telah menjadi media promosi, sosialisasi dan edukasi warga tentang khasanah budaya lokal kita yang telah susah payah diperjuangkan oleh ketua dekranasda Pacitan? disini kepekaan panitia dibutuhkan, tapi saya pribadi memaklumi, semua butuh proses dan waktu.

FRP telah menjadi icon Pacitan. Idealnya ketika kita melihat acara tersebut seakan akan kita terbawa kedalam miniatur kabupaten Pacitan walau hanya melihat atribut dan property yang digunakan. Jadi value acara FRP lebih kuat lagi, bukan hanya untuk media menghibur masyarakat tapi juga sebagai media promosi seni, budaya, pariwisata dan industri kreatif.

Pemerintah harus mulai duduk bersama masyarakat dari berbagai sudut pandang, agar bisa merumuskan satu konsep matang FRP agar kualitas acara ini lebih baik, karena keberhasilan acara bukan hanya dilihat dari kualitas peserta tapi juga bagi kesejahteraan masyarakat setelah penyelenggaraan annual festival berkelas ini, untuk sekelas kabupaten kecil Pacitan sudah melakukan yang terbaik.

Eksistensi acara ini harus tetap diawasi walau nanti pemerintah sudah berganti, karena ronthek adalah media pemersatu dan penguat jati diri masyarat Pacitan di tengah globalisasi.

* Penulis adalah pembina duta batik Pacitan