Pembangunan Ruas Jalan Baru di Gemaharjo Molor

oleh -101.395 views
Bupati Pacitan bersama dinas terkait membicarakan relokasi jalur amblas di Gemaharjo, Tegalombo. (Foto: Rakhmad Adi Mandego/Info Pacitan)
Bupati Pacitan bersama dinas terkait membicarakan relokasi jalur amblas di Gemaharjo, Tegalombo. (Foto: Rakhmad Adi Mandego/Info Pacitan)
Bupati Pacitan bersama dinas terkait membicarakan relokasi jalur amblas di Gemaharjo, Tegalombo. (Foto: Rakhmad Adi Mandego/Info Pacitan)
Bupati Pacitan bersama dinas terkait membicarakan relokasi jalur amblas di Gemaharjo, Tegalombo. (Foto: Rakhmad Adi Mandego/Info Pacitan)

Pacitanku.com, TEGALOMBO – Pembangunan ruas jalan baru akibat ambrolnya jembatan Bailey itu belum juga terealisasi. Kendati, Pemprov Jatim sudah menjanjikan pengerjaan jalan baru bakal dilakukan Maret. Namun, hingga memasuki April, belum ada upaya apapun yang tampak berkaitan dengan pembangunan ruas jalan.

Penyebabnya, lantaran munculnya tanah gerak di lokasi bakal jalan baru tersebut. ‘’Pembebasan lahan sudah beres seratus persen sejak tahun lalu. Tetapi sampai sekarang memang belum ada lagi kelanjutannya dari pemprov,’’ ujar Kades Gemaharjo, Wahyu Pujiono, Senin kemarin.

Wahyu menuturkan, luas lahan yang telah dibebaskan untuk pengalihan ruas jalan di dusun Dondong, Gemaharjo, mencapai 500 meter persegi. Ada sembilan warga terdampak yang mendapat ganti rugi dari pemprov. Rata-rata mendapatkan duit antara Rp 500 juta hingga Rp 600 juta. Total ganti rugi mencapai Rp 4,9 miliar.

Pembayaran juga sudah rampung dilakukan di akhir tahun lalu. Menurut Wahyu, saat pembebasan tahun lalu, Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Bina Marga Jatim menjanjikan pengerjaan dimulai bulan Maret. ‘’Mundur karena ada temuan tanah gerak juga di lokasi bakal jalan baru,’’ sebutnya.

Garis retakan di lokasi bakal jalan baru Gemaharjo diperkirakan merupakan imbas perkembangan pergerakan tanah yang merusak jembatan Bailey. Menurut Wahyu, tanah dusun Dondong memang sudah lama diketahui labil.

Tetapi, baru mulai berkembang parah sejak dua tahun terakhir. Panjang retakan dari lokasi bakal jalan baru hingga ke jembatan Bailey mencapai 500 meter. ‘’Temuan retakan tanah itu sudah dikomunikasikan dengan pemprov. Desa juga sudah melaporkan ke pemkab,’’ terangnya.

Wahyu mengatakan, sebelumnya pemprov menjanjikan kepada desa, Maret lalu mulai dilakukan pengerjaan jalan baru. Namun, karena ada temuan retakan tanah tersebut, realisasi pengerjaan jalan baru pun menjadi molor.

Menurutnya, target jalan dapat dioperasikan sebelum lebaran Juni mendatang bisa terealisasi. Dia menilai waktu tiga bulan cukup mengerjakan ruas jalan baru tersebut. ‘’Meski mungkin belum sampai finishing, tetapi kemungkinan sudah bisa dan layak kok untuk dilewati kendaraan sebelum lebaran Juni nanti,’’ ujarnya.




Wahyu memandang, retakan tanah di lokasi bakal jalan baru tidak mengancam proyek tersebut. menurutnya lokasi tersebut masih layak dibangun jalan. Asalkan, dengan penghitungan dan pengerjaan yang matang.

Lain halnya dengan Wahyu, Kepala Disparpora, Endang Surjasri justru pesimis dengan proyek tersebut. Dia menilai, kelanjutan pengalihan ruas jalan Gemaharjo tidak jelas. ‘’Sudah ada pembebasan, tetapi tidak kunjung dieksekusi karena ada tanah gerak juga. Sepertinya akses Gemaharjo memang sulit sekali diatasi,’’ ujarnya.

Wajar jika Endang pesimis terhadap kelanjutan pengalihan ruas jalan Gemaharjo. Sebab, potensi kenaikan kunjungan wisatawan sudah sangat terhambat oleh gangguan akses di Gemaharjo. Dia menyebut, 50 persen wisatawan di Pacitan berasal dari Jatim. Sisanya dari Jateng. Wisatawan Jateng bisa masuk ke Pacitan melalui Wonogiri, sementara dari Jatim, wisatawan masuk melalui Trenggalek dan Ponorogo.

‘’Masalahnya, wisatawan Jatim yang melalui Ponorogo sama banyaknya dengan yang melalui Trenggalek. Potensi wisatawan Jatim itu sangat besar. Harus ada jaminan akses agar potensi itu benar-benar bisa terserap menjadi pendapatan daerah,’’ terangnya.

Terpisah, Wakil Bupati Yudi Sumbogo mengatakan bahwa ruas jalan baru Gemaharjo yang dijanjikan Pemprov Jawa Timur bakal bisa digunakan sebelum lebaran tahun ini.

Menurut Yudi, usai pembebasan lahan dirampungkan tahun lalu, pemprov bakal mulai mengerjakan pengalihan ruas jalan dari jembatan Bailey tersebut paling lambat bulan ini. Itu berdasarkan hasil koordinasi terakhir antara pemkab dengan pemprov. ‘’Hasil koordinasi terakhir dengan pemprov, proyek tetap jalan sesuai jadwal. Sebelum lebaran Juni nanti sudah siap digunakan,’’ katanya.

Menurut Yudi, sempat ada keraguan terhadap rencana pengalihan ruas jalan di Gemaharjo. Dari yang digadang-gadang mulai dilaksanakan Maret lalu, tetapi hingga April tidak kunjung terealisasi. Penyebabnya tak lain karena tanah gerak yang melanda lahan bakal jalan baru tersebut.

Namun, setelah dilaporkan kepada pemprov, mereka menjamin proyek tetap aman dilaksanakan. Menurut Yudi, pemprov juga sudah melakukan kajian mendalam soal keamanan lahan bakal jalan baru tersebut. ‘’Memang kami akui, molornya proyek pengalihan arus ini karena ada tanah amblas di lokasi baru. Namun setelah koordinasi lagi, mereka menyatakan siap melanjutkan,’’ ujarnya.

Sisa waktu tiga bulan sebelum lebaran dinilai Yudi cukup untuk membuat jalan baru Gemaharjo bisa dilewati. Padahal, saat ini, proyek baru akan memasuki tahap lelang. Menurut Yudi, jalan tidak harus jadi seratus persen sebelum lebaran. Meski baru berupa beton, yang terpenting kendaraan bakal bisa melewati jalan tersebut.

Yudi menyebut, yang diprioritaskan terlebih dahulu diantaranya kendaraan pribadi, serta angkutan penumpang dan barang yang tonasenya rendah hingga sedang. ‘’Kemungkinan waktunya cukup meski kondisi jalan seadanya terlebih dahulu. Yang terpenting kendaraan pribadi, angkutan penumpang, serta suplai barang bisa lewat,’’ kata Yudi.

Menurut Yudi, pemkab memang getol mendesak pemprov segera merealisasikan pengalihan ruas jalan Gemaharjo. Bupati Indartato bahkan kerap berkirim surat kepada pemprov meminta mereka segera turun tangan. Pasalnya, ruas jalan Gemaharjo dipandang penting.

Tidak hanya sebagai jalur mudik lebaran Juni mendatang, tetapi juga sebagai akses bagi para wisatawan. Maklum, libur lebaran selalu menjadi musim panen bagi sejumlah objek wisata Pacitan. ‘’Libur lebaran itu peak season wisata di Pacitan. Harus ada perubahan di tahun ini, jangan sampai wisatawan dari arah Ponorogo terus saja terhambat. Akses Gemaharjo itu vital,’’ tutupnya.

Sumber: Radar Madiun