Fenomena Tanah Gerak Purworejo Semakin Parah, 19 Rumah Terdampak

oleh -Dibaca 1.924 kali
Salah satu rumah terdampak tanah gerak di Purworejo Pacitan. (Foto: Pujono/BPBD Pacitan)

Pacitanku.com, PACITAN – Fenomena retakan tanah di Dusun Krajan, Desa Purworejo, Kecamatan Pacitan Kota semakin gawat. Retakan terus berkembang hingga ke jalan dan perkebunan warga. Yang paling parah, dari awalnya 17 rumah terdampak, kini sudah ada 19 unit rumah yang terdampak retakan.

Dari 19 rumah itu, 11 rumah dalam kondisi rusak parah. ‘’Perkembangan retakan yang ada di Purworejo memang diluar prediksi,’’ ujar Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Pacitan, Pujono, dilansir dari Radar Madiun, Minggu (19/2/2017).

Perkembangan paling parah dirasakan 11 unit rumah. Menurut Pujono, data terakhir di awal Februari lalu, hanya ada empat rumah yang rusak parah. Memasuki pertengahan bulan ini, rumah yang rusak parah menjadi 11 unit.

Retakan di 11 rumah tersebut sudah menjalar di lantai, dinding, bahkan hingga plafon. ‘’Dari yang awalnya hanya ada empat keluarga yang mengungsi ketika malam, kini ada sebelas keluarga yang terdampak ikut mengungsi,’’ terangnya.




Pujono menyebut, pihaknya sudah berkoordinasi dengan pemerintah desa (pemdes) dan warga setempat yang terdampak retakan tanah. Antisipasi yang harus dilakukan oleh warga, antara lain, mengungsi ketika hujan lebat atau malam hari. Perkembangan retakan harus dilaporkan kepada pemdes. Maklum, curah hujan masih diperkirakan tinggi hingga Maret mendatang.

Pujono tidak ingin jika kondisi rumah yang kini sudah rusak parah dapat menimbulkan korban jiwa. ‘’Jadi lebih baik mengungsi. Begitu hujan atau malam hari. Sebab, perkembangan retakan tidak mengenal waktu,’’ ujar Pujono.

Menurut dia, kerusakan parah di 11 rumah tersebut sesuai dengan analisa tim Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung, awal Februari lalu. Menurut PVMBG, kondisi geografis yang tidak menguntungkan di Krajan, memang membuat rumah mudah rusak parah karena retakan di tanah mudah berkembang.

Karena itu, warga lebih baik kelak membangun rumah semi permanen. Ini agar beban yang ditanggung tanah tidak terlalu berat. Sehingga, dapat meminimalisasi perkembangan retakan, baik di tanah maupun bangunan. ‘’Idealnya menurut rekomendasi mereka, memang bangunan semi permanen. Itu aman untuk jiwa penghuninya juga,’’ terangnya.

Kepala Desa Purworejo, Rosid Subianto, mengaku sudah bersiap akan bahaya terburuk yang mungkin bisa terjadi di Krajan. Pihaknya sudah mulai menyediakan tiga lokasi evakuasi untuk warga terdampak retakan. Diantaranya, di balai desa, balai dusun dan balai RT 4/ RW 2.

Masyarakat dianjurkan mengungsi di tiga tempat tersebut jika hujan mulai turun dengan lebat. Untuk solusi jangka panjang, Rosid menyebut sudah mulai memikirkan untuk menyediakan lahan bagi warga agar bisa relokasi. Lahan rencananya menggunakan tanah kas desa.

Kendati, sejauh ini yang sudah siap baru lahan untuk empat rumah saja. ‘’Jangka panjangnya, kami upayakan menyediakan lahan. Namun memang yang telah tersedia baru cukup untuk empat rumah,’’ jelasnya.