Cuaca Ekstrim, BPBD Pacitan Sarankan Nelayan Jangan Melaut

oleh -1.025 views
Kawasan Pantai Tawang dengan perahu nelayan berjejer. (Foto: Dok Pacitanku)
Kawasan Pantai Tawang dengan perahu nelayan berjejer. (Foto: Dok Pacitanku)

Pacitanku.com, PACITAN – Angin kencang dan ombak yang tinggi mengintai perairan laut Pacitan. Kondisi itu masih bakal berlangsung hingga tiga hari ke depan. Nelayan diimbau lebih waspada cuaca ekstrim Samudera Hindia. Sebab, meski sebagian besar nelayan memilih menyandarkan kapalnya, namun masih ada beberapa nelayan yang nekat melaut untuk mencari ikan.

Kebanyakan merupakan nelayan dengan kapal yang berukuran kecil. ‘’Sebab, di laut ketinggian ombak bisa mencapai lima meter. Oleh karena itu nelayan wajib lebih waspada, lebih baik jangan melaut terlebih dulu,’’ ujar Sekretaris BPBD Kabupaten Pacitan, Ratna Budiono, baru-baru ini.

Imbauan Ratna bukan tanpa dasar. Saat ini, tekanan udara di perairan selatan Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Barat (NTB) sangat rendah. Hal itu menyebabkan perputaran angin yang cukup kuat. Akibatnya, dorongan angin pun mampu menyebabkan ombak menjadi lebih besar.




Selain jelas membahayakan wisatawan yang berkunjung ke pantai-pantai di Pacitan, hal itu juga ikut mengancam para nelayan. ‘’Kecepatan angin yang berembus bahkan bisa mencapai puluhan kilometer per jam. Dan selalu terjadi tidak mengenal waktu,’’ terangnya.

Ratna tahu betul pihaknya tidak memiliki wewenang melarang para nelayan untuk melaut. Namun, setidaknya, kewaspadaan para nelayan tidak boleh berkurang. Jika terpaksa harus melaut, pelampung hukumnya wajib dikenakan para nelayan.

Terlebih, menurut Ratna, saat ini musim juga sudah mulai menunjukkan tanda-tanda pancaroba. Ketika pancaroba, angin memang berhembus lebih kencang dari biasanya. Namun, setelah itu, langit akan kembali cerah.

‘’Kami menyadari tidak bisa melarang karena itu mata pencaharian para nelayan. Kami hanya mengimbau, setidaknya untuk lebih berhati-hati jika memang harus melaut. Karena yang dihadapi adalah cuaca ekstrim,’’ ujarnya.

Salah seorang nelayan pelabuhan Tamperan, Rin Samudera, mengaku sudah seminggu terakhir dia tidak melaut bersama para nelayan lainnya. Pasalnya, ombak di lautan bisa mencapai empat hingga delapan meter. Rin enggan menghadapi resiko kapalnya tergulung ombak.

Namun, dampak yang kemudian dirasakan, pendapatannya berkurang hingga 50 persen. Dari rata-rata sepuluh hingga 15 ton, berkurang hingga rata-rata lima ton saja. Jika dilihat dari ikan hasil tangkapannya, jenis yang didapat juga tidak sebagus di laut lepas. ‘’Jadinya harga jual ikan di pasaran pun juga tidak seberapa bagus,’’ ujarnya.

Selain Rin yang asli Pacitan, beberapa nelayan lain yang berasal dari luar daerah memilih mudik ke kampung halaman masing-masing. Sementara, beberapa kapal nelayan berukuran besar memilih bersandar di perairan Popoh, Trenggalek.

Suasana lengang di pelabuhan Tamperan diperkirakan akan berlangsung hingga sekitar sepuluh hari ke depan. Mulai 15 Februari nanti, menurut Rin, para nelayan sudah mulai banyak yang mencoba kembali melaut. Termasuk dia dan teman-temannya. ‘’Sebab sudah menjadi matapencaharian utama kami untuk mencari ikan. Kalau tidak melaut ya tidak ada pemasukan lagi buat keluarga,’’ sebutnya.