BPBD Pacitan: Curah Hujan Awal Tahun Tinggi, Waspada Bencana Longsor

oleh -Dibaca 1.424 kali
Indartato saat menemui korban longsor di Desa Sempu, Nawangan. (Foto: Doc Info Pacitan)
Indartato saat menemui korban longsor di Desa Sempu, Nawangan. (Foto: Doc Info Pacitan)

Pacitanku.com, PACITAN – Memasuki bulan Januari 2017, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jawa Timur memprediksi curah hujan bakal tinggi. Warga Pacitan yang tinggal di daerah rawan longsor diminta waspada. Terutama bagi masyarakat yang menghuni zona merah atau kawasan bencana.

‘’Yang paling rawan menghantui ketika curah hujan tinggi adalah longsor, karena Pacitan dikepung perbukitan dengan tanah yang gembur,’’ terang Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemkab Pacitan, Ratna Budiono, kemarin (3/1).

Berdasarkan data yang diterima Ratna dari BMKG Jatim, Pacitan bakal kerap diguyur hujan hingga akhir Januari. Hujan tidak turun di seluruh wilayah secara bersamaan, namun terus berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain.

Pun, hujan juga diprediksi tidak akan berlangsung selama satu hari penuh, melainkan selama beberapa jam. Berdasar data prediksi tersebut, yang awalnya menjadi prioritas mitigasi adalah wilayah-wilayah yang memiliki objek wisata. ‘’Karena prioritasnya untuk pengamanan wisatawan. Terutama memasuki libur panjang hari raya Natal hingga tahun baru kemarin,’’ ujarnya.




Begitu tahun baru lewat, BPBD fokus memberikan sosialisasi kepada masyarakat. Sebab, siklus hujan memunculkan potensi rawan longsor. Ratna menyebut, sembilan dari 12 kecamatan wajib waspada akan potensi terjadinya bencana tersebut.

Tiga kecamatan, yakni Donorojo, Punung, dan Pringkuku, disebutnya lebih aman karena perbukitan di daerah itu didominasi batuan karst. Sementara di sembilan kecamatan lainnya, bukit-bukit yang terbentang didominasi batuan dan tanah yang gembur. Terlebih di Tegalombo dan Kebonagung. Di dua kecamatan tersebut, kemiringan tebing melebihi 25 derajat. ‘’Bahkan ada beberapa tebing yang nyaris tegak,’’ sebutnya.

Ratna menjelaskan, karena bukit didominasi tanah yang gembur dan bebatuan, ketebalan tanah pun jadi berkurang. Akibatnya, ikatan tanah menjadi lemah. Sehingga ketika diguyur hujan selama dua jam saja, muncul celah retakan tanah yang kemudian dimasuki air hujan. Dengan kondisi demikian, tanah pun mudah bergerak terdorong air.

Terlebih, jika dirangsang getaran seperti yang diakibatkan kendaraan besar ketika melintas jalan. ‘’Oleh karena itu titik yang kemudian rawan longsor kebanyakan ada di dekat jalan. Karena getaran akibat kendaraan yang melintas itu merangsang tanah bergerak,’’ jelasnya.

Karena itu, Ratna mengimbau kepada para pengguna jalan untuk lebih berhati-hati. Terutama ketika melintas di jalan bertebing ketika turun hujan. BPBD belakangan juga kerap memberikan pelatihan kepada masyarakat agar lebih tanggap bencana khususnya longsor. Melalui cara itu, Ratna berharap kewaspadaan masyarakat dapat semakin meningkat. ‘’Penanggulangan bencana itu kewajiban tiga unsur, yakni pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Ketiganya harus bersinergi. Tidak bisa jalan sendiri mengandalkan teknologi,’’ ujar Ratna. (mg4/rif)

Sumber: Radar Madiun