Tanah Amblas Pasar Montongan, Warga dan Pedagang Tinggalkan Rumahnya

oleh -Dibaca 1.663 kali
Jalur Amblas di Tulakan depan pasar Montongan. (Foto: Imara Ashter/Obrolane Wong Pacitan)
Jalur Amblas di Tulakan depan pasar Montongan. (Foto: Imara Ashter/Obrolane Wong Pacitan)

Pacitanku.com, TULAKAN – Sebagian warga Dusun Montongan, Desa Ketro, Kecamatan Tulakan dirundung rasa waswas. Pasalnya, retakan tanah yang berada persis di sekitar Pasar Montongan makin meluas. Kondisi itu membuat beberapa warga terpaksa harus meninggalkan rumah dan kios mereka.

Sedikitnya ada lima kios milik pedagang dan dua rumah warga yang berada di pinggir Jalan Raya Wonokarto-Ponorogo terdampak. Bahkan dua kepala keluarga (KK) yakni Senen dan Marjuki telah mengosongkan tempat tinggalnya. ‘’Sementara lima kios milik pedagang lainnya memilih tutup dan pindah ke dalam pasar,’’ ujar Kepala Dusun Montongan Riyanto, kemarin (14/12).

Riyanto mengungkapkan, tanah di dusun tersebut cenderung labil saat hujan turun. Pergerakannya mencapai sekitar 5 sentimeter. Kini kedalaman tanah ambles sudah hampir mencapai setengah meter. ‘’Padahal, dua pekan lalu kedalaman tanah yang ambles itu hanya sekitar 10 sentimeter. Kini diperkirakan sudah mencapai 60 sentimeter,’’ terangnya.




Pemerintah desa dan warga sudah berupaya menutup retakan tanah dengan pasir dan terpal. Namun, tetap saja pergerakan tanah tetap terus saja terjadi saat hujan turun. Selain itu, kondisi badan jalan penghubung antara Pacitan-Ponorogo lewat Desa Ketro, Kecamatan Tulakan juga turut ambles dan retak. ‘’Panjang retakan mencapai sekitar 200 meter dengan lebar rongga tanah sekitar 10-15 sentimeter,’’ ungkapnya.

Selain mengancam akses jalan kabupaten, tanah ambles juga mengakibatkan jalan desa rusak parah. Terdapat retakan tanah yang membentang di jalan desa tersebut. Terkait masalah ini, Riyanto sudah berkoordinasi dengan pihak kecamatan. Bahkan, beberapa hari lalu Bupati Pacitan Indartato beserta dinas bina marga dan pengairan serta BPBD sudah meninjau titik tanah ambles tersebut. ‘’Rencananya akan dibangun saluran drainase untuk menampung aliran air. Begitu juga dengan jalannya akan ditingkatkan tahun depan,’’ kata Riyanto.

Terpisah, Sajiyem istri Senen yang terpaksa mengungsi mengaku pasrah. Dia tidak bisa berbuat banyak, selain harus pindah ke tempat yang lebih aman. Ini setelah tanah ambles membuat lantai dasar rumahnya retak-retak. ‘’Saya khawatir rumah ambruk sewaktu-waktu, makanya pindah,’’ ujar Sajiyem yang mengaku rumahnya tersebut baru ditinggali tiga tahun terakhir. (her/yup/RAPP002)

Sumber: Radar Madiun