Bencana Banjir Batu Hingga Tanah Retak Landa Pacitan

oleh -Dibaca 2.224 kali
Banjir bandang dan bebatuan di Pacitan. (Foto: Anaz Mst/Pegion Potography)
Banjir bandang dan bebatuan di Pacitan. (Foto: Anaz Mst/Pegion Potography)
Banjir bandang dan bebatuan di Pacitan. (Foto: Anaz Mst/Pegion Potography)
Banjir bandang dan bebatuan di Pacitan. (Foto: Anaz Mst/Pegion Potography)

Pacitanku.com, ARJOSARI – Hujan deras yang mengguyur wilayah Kecamatan Arjosari memicu terjadinya banjir batu, Jumat (18/11/2016) lalu. Kondisi itu mengakibatkan jalan penghubung antara Desa Karanggede dengan Karangrejo sempat terputus. Selain menutup akses jalan desa, banjir batu juga mengancam keberadaan jembatan Desa Karanggede.

Jembatan yang memiliki panjang sekitar 15 meter dan lebar 1,7 meter tersebut mengalami kerusakan pada bagian oprit. Material banjir berupa bebatuan yang berasal dari Gunung Tumo itu sudah menyumbat di bagian kolong jembatan. Kondisi itu membuat aliran air hujan yang menggerojok dari atas kian tak beraturan. Sehingga, mengancam pengguna jalan yang tengah melintas.

Meski demikian, banjir batu yang menghantam badan jembatan dan menutup akses jalan desa itu tak sampai mengganggu aktivitas proyek pembangunan Waduk Tukul oleh PT Brantas Abipraya. Sebaliknya, banjir batu tersebut seoalah menjadi berkah tersendiri bagi warga setempat menjadi pencacah batu dadakan. Mereka memanfaatkan batu-batu tersebut untuk kemudian dijual kepada pelaksana pembangunan Waduk Tukul.

Kepala Desa Karangrejo Sukhoiri mengatakan, setiap hujan turun di wilayahnya selalu terjadi banjir batu. Terkait persoalan tersebut, pihaknya sudah berkoordinasi dengan PT Brantas Abipraya untuk mengevakuasi material batu seandainya sampai menutup akses jalan desa. ‘’Banjir batu seperti ini sudah biasa terjadi setiap hujan deras turun. Dan, menjadi salah satu mata pencaharian warga sekitar,’’ ujarnya.




Sementara itu, Kabid Bina Marga Dinas Bina Marga dan Pengairan Pacitan Suparlan mengatakan, pihaknya tidak bertanggung jawab seandainya jembatan atau akses jalan tersebut kelak tertutup karena dihantam banjir batu. ‘’Itu wewenang dari PT Brantas Abipraya karena memang kontraknya lama,’’ ujarnya.

Dia beralasan karena lokasi jembatan berada di lokasi proyek pembangunan Waduk Tukul. Sehingga, segala tanggung jawab di sekitar lokasi pekerjaan waduk merupakan tanggung jawab pihak pelaksana proyek. Termasuk perbaikan jalan dan jembatan. ‘’Kami hanya bertanggung jawab apabila ada kerusakan jalan dan jembatan mulai dari Pemandian Banyuanget hingga ke Arjosari saja,’’ tegasnya. 

Selain banjir batu, bencana alam lain, yakni tanah retak terjadi di RT 4 RW 8 Dusun Buleh, Desa Wonoanti, Kecamatan Tulakan. Kejadian tersebut mengancam rumah warga setempat. Di antaranya rumah milik Widodo, Priyo Dwiarno, dan Muhammad Nurrokhim.

Kerusakan rumah akibat tanah retak paling parah diderita oleh Widodo. Halaman rumahnya retak sepanjang 2 meter dengan lebar sekitar 4-5 sentimeter. Selain itu, tanah retak juga mengakibatkan fondasi rumahnya miring dan rawan ambruk. Lantai dasar rumahnya saat ini sudah dikosongkan juga mengalami retak-retak. Begitu pula dengan bagian dinding rumahnya.

Hal serupa juga dialami oleh Priyo Dwiarno. Bedanya, kerusakan akibat tanah retak hanya terjadi di bagian dapur. Namun, dinding rumahnya juga telah mengalami retak di beberapa titik. Sedangkan, tempat tinggal milik Muhammad Nurrokhim hanya mengalami retak-retak di bagian dinding dan halaman rumah.

Selain merusakkan rumah warga, jalan desa penghubung antara Desa Wonoanti dengan Desa Jetak juga ambles sekitar 10 sentimeter dengan panjang mencapai 10 meter. Bencana itu juga mengakibatkan talut selokan di pinggir jalan retak menganga dan sebuah warung nyaris ambruk karena tiang penyangganya terpisah dari bangunan.

Widodo mengatakan, tanda-tanda tanah retak sebenarnya sudah muncul sekitar dua pekan lalu. Saat itu hujan deras sedang turun. Tiba-tiba jalan desa yang berada tepat di depan rumahnya ambles. Kemudian merembet ke rumahnya. ‘’Namun saat itu amblesnya masih belum seberapa,’’ katanya, kemarin (20/11).

Namun demikian, dalam beberapa hari terakhir kerusakan makin bertambah parah. Lantai dasar rumah Widodo mulai retak-retak. Kondisi itu diakibatkan karena hujan yang terus menerus turun serta aliran air dari talut masuk ke dalam rekahan tanah yang menganga. ‘’Kejadian itu sudah kami laporkan ke pemerintah desa,’’ ujarnya.

Merasa terancam, Widodo kemudian berniat pindah dari rumah yang saat ini ditempatinya. Meski begitu, dirinya masih menunggu waktu yang tepat. ‘’Kalau hujan sering was-was. Soalnya, memang sudah rawan sekali. Rencananya mau pindah rumah,’’ ungkapnya.

Beda halnya dengan Priyo Dwiarno. Meski kerap resah ketika hujan deras turun, namun dirinya belum berniat mengungsi atau pindah rumah. Selain tak memiliki tempat tinggal lain, Priyo mengaku belum punya biaya membangun rumah baru. ‘’Sementara ini nggak mengungsi. Tetap bertahan disini,’’ terangnya.

Sementara itu, Kepala Desa Wonoanti Agus Riyono mengaku, sudah melaporkan kejadian tersebut kepada BPBD untuk segera mendapatkan penanganan lebih lanjut. Dia juga meminta kepada warganya untuk segera mengungsi, khususnya bagi Widodo yang kondisi rumahnya sudah rusak parah. (her/yup/RAPP002)

Sumber: Radar Madiun