Pemkab-DPRD Belum Kompak Soal Landmark di Perempatan Penceng

oleh -1.218 views
Tempat Pembangunan Landmark pacitan di Penceng. (Dok.Paciitanku)
Tempat Pembangunan Landmark pacitan di Penceng. (Dok.Paciitanku)
Tempat Pembangunan Landmark pacitan di Penceng. (Dok.Paciitanku)
Tempat Pembangunan Landmark pacitan di Penceng. (Dok.Pacitanku)

Pacitanku.com, PACITAN – Pemerintah Kabupaten Pacitan dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) setempat rupanya belum kompak soal rencana soal rencana pembangunan landmark di perempatan Penceng.

Kalangan dewan sudah mendesak agar identitas daerah tersebut segera direalisasi. Sementara pemkab masih menanggapi dingin dengan alasan masih belum menemukan desain yang cocok. ‘’Sempat pernah dilombakan (pembuatan desain landmark). Tapi menurut beberapa tim perlu disempurnakan lagi,’’ kata Bupati Pacitan Indartato, Rabu (10/8/2016) kemarin.

Indartato menyampaikan bahwa pemkab sempat menganggarkan Rp 90 juta untuk merealisasikan pembangunan landmark tahun 2014 lalu. Tapi rencananya tersebut dibatalkan karena anggaran tersebut dinilai tidak mencukupi dan akhirnya dikembalikan ke kas daerah.

‘’Berdasarkan kesepakatan tim teknis perlu dibangun tugu yang megah, fenomenal dan berciri khas Pacitan serta sesuai dengan rancangan rencana tata bangunan dan lingkungan (RTBL) kawasan kota Pacitan,’’ jelasnya.

Selanjutnya, pemkab kemudian menganggarkan lagi pada tahun 2015 sebesar Rp 500 juta untuk keperluan yang sama. Tetapi pembangunan landmark urung terealisasi lagi. Sebab, beberapa desain yang masuk melalui proses sayembara publik tidak memenuhi kriteria.

‘’Setelah diadakan pembahasan antar pemangku kepentingan dilaksanakan beberapa kali rapat koordinasi (rakor) masih perlu dikaji lagi pelaksanaan pembangunan tugu ikon Kabupaten Pacitan,’’ terang Indartato.

Menurut dia, mewujudkan sebuah landmark daerah tidak gampang. Selain harus bisa diterima oleh masyarakat, wujudlandmark harus menggambarkan potensi daerah. ‘’Sementara ini, rencana yang akan kami buat adalah batu akik yang sudah berhasil di Pacitan. Tapi, protes juga banyak. Sehingga, kami harus mewadahi semuanya,’’ ungkapnya.

Sebelumnya, dalam rapat pandangan umum fraksi terhadap raperda tentang perubahan APBD 2016, fraksi Gabungan Pembangunan Nasional menilai pemkab terkesan setengah hati merealisasikan landmark tersebut. Sebab, sampai saat ini perencanaan atau keberadaan ikon daerah itu tidak jelas.

‘’Apakah ini memang perencanaan yang lemah dan setengah-setengah. Atau memang tidak mampu mewujudkan perencanaan itu,’’ sindir Nining Dyah Purwanita juru bicara fraksi Gabungan Pembangunan Nasional.

Sementara itu, Kasi Tata Bangunan Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Kebersihan (DCKTRK) Pacitan, Tonny Setyo Nugroho menjelaskan, proyek pembangunan landmark daerah tersebut diperkirakan menyedot anggaran sekitar Rp 500 juta.

Hanya saja, dalam perjalanannya perencanaan anggaran yang sudah dilakukan sejak awal tersebut meleset dari perkiraan. ‘’Rencananya anggaran untuk pembangunan itu akan diambilkan dari sisa dana yang ada di kami. Tapi tadi setelah dihitung tidak mencukupi,’’ terangnya.

Meskipun proyek itu dinilainya bagus, Tonny tak bisa berbuat banyak lantaran anggaran yang dibutuhkan belum mencukupi. Menurut dia, pembangunan landmark daerah tersebut bisa menjadi identitas Pacitan. Sehingga memudahkan para pendatang atau pengunjung mengingat tempat kelahiran Susilo Bambang Yudhoyono Presiden RI ke enam seperti halnya Tugu Nol Kilometer di Jogjakarta.

‘’Karena memang selama ini di Pacitan belum ada ikon seperti tugu yang melambangkan daerah ini. Lokasinya direncanakan di perempatan Penceng menggantikan papan reklame besar yang saat ini berdiri di tengah jalan,’’ tandasnya. (her/yup/RAPP002)

Sumber: Radar Madiun