Siti Aminah, Sang Guru dan Saudagar Berhati Emas dari Tulakan

oleh -Dibaca 1.959 kali
Siti Aminah Pendiri Tiga Serangkai di Surakarta. (Foto: Solopos)
Siti Aminah Pendiri Tiga Serangkai di Surakarta. (Foto: Solopos)

Pacitanku.com, SURAKARTA – Hari ini, Rabu (25/11/2015) adalah hari spesial untuk para guru di tanah air. Dan mungkin, banyak diantara guru di Pacitan yang banyak menginspirasi, salah satunya adalah sosok guru SD yang kini sudah menjadi saudagar ini.

Mungkin banyak diantara masyarakat Indonesia yang mengenal penerbit buku terkemuka tanah air, yakni PT Tiga Serangkai. Namun, tahukah bahwa sejarah berdirinya toko buku dan penerbit terbesar di tanah air itu diawali dari jerih payah seorang saudagar yang gigih nan berhati emas.

Saat ini, PT Tiga serangkai telah menjadi penerbit buku terbesar yang berada di jantung kota Surakarta. Namun, awal kisahnya ternyata diawali dari seorang perempuan yang berasal dari Padi, Tulakan, Pacitan, yakni Siti Aminah.  Berdirinya penerbit Tiga Serangkai ini bermula dari kegiatan mengumpulkan bahan ajar yang dilakukan Siti Aminah di waktu senggang.

Siti Aminah yang lahir di Padi, Tulakan, tahun 1939 ini dulu memang berprofesi sebagai guru SD, namun karena keadaan yang sulit di daerahnya Pacitan dalam proses belajar mengajar inilah yang membuat kemudian Siti Aminah melakukan kegiatan pengumpulan bahan ajar. 

Siti Aminah dan suaminya Abullah Marzuki kemudian membukukannya menjadi diktat. Mereka juga memesan mesin stensilan dari Solo hingga kemudian terciptalah edisi satu buku yang dapat diberikan ke anak didik. Tidak disangka oleh Siti Aminah jika ternyata kemudian hasil buku cetakan pertamanya ini banyak yang meminati. Tidak hanya dari murid, para guru pun juga banyak yang akhirnya memesan buku yang awalnya berjudul Himpunan Pengetahuan Umum (HPO) itu. Dari sinilah kemudian Siti Aminah terbuka pikirannya untuk menjadikan bisnis buku.

Siti Aminah Pendiri Tiga Serangkai di Surakarta. (Foto: Solopos)
Siti Aminah Pendiri Tiga Serangkai di Surakarta. (Foto: Solopos)

Aminah kemudian meneruskan bisnis buknya dengan membuka agen toko buku “Tiga”. Saat bisnis tokonya mulai menunjukkan kemajuan, ia merubah nama tokonya menjadi “Tiga Serangkai” karena nasihat dari Wie Sang Giem, agar tokonya tak kena pajak tambahan.  Tahun 1969, Aminah dan keluarga kembali pindah rumah yang kali ini tujuannya adalah Solo.

Aminah melakukan ini karena saat di Wonogiri, akses kendaraan menuju tempatnya sangat terbatas. Di Solo, usaha toko buku “Tiga Serangkai” Aminah semakin maju. Bahkan untuk lebih fokus dalam bisnis buku ini, Aminha kemudian memutuskan keluar dari guru SD.

Karena permintaan buku pelajaran yang semakin tinggi, akhirnya Aminah dan suami tertantang untuk mencetak buku sendiri. Maka lahirlah beberapa buku seperti Himpunan Pengetahuan Alam (HPA), Sari Bumi Indonesia (SBI), Sari Hayati (SH) dan Intisari Bahasa Indonesia (IBI).

Namun ternyata bisnis buku tidak gampang. Cobaan pertama datang dari sistem dagang Tiga Serangkai yang seringkali menawarkan diskon sampai 30% kepada grosir dan toko buku. Keadaan ini akhirnya menemui tantangan saat banyak penerbit sejenis yang melakukan direct selling ke sekolah-sekolah. Dari sinilah Tiga Serangkai sempat menghentikan sistem grosir selama dua tahun dan harus ikut terjun dalam penjualan langsung dengan mempersiapkan segala sesuatunya.

Cobaan selanjutnya adalah saat muncul kebijakan buku pelajaran yang hanya berlaku lima tahun. Kebijakan dari pemerintah ini jelas menuntut semua penerbit termasuk tiga serangkai berubah dengan melakukan diversifikasi ke buku anak-anak dan umum.

Rintangan dan cobaan yang muncul dari perkembangan zaman yang terus berubah akhirnya membuat Tiga serangkai merubah citra perusahannya menjadi perusahaan yang lebih profesional dengan cara melakukan rasionalisasi terhadap karyawan dan memberi kesempatan kepada setiap karyawan atau mantan karyawan untuk menjadi mitra Tiga Serangkai.

Dari sinilah kemudian muncul usaha membuat LKS, kursus komputer dan sebagainya. Hingga saat ini, sejak berdiri 45 tahun lalu, PT. Tiga Serangkai Group kini telah tumbuh dan berkembang pesat dengan merambah ke berbagai sektor usaha lain seperti produksi alat-alat tulis, perdagangan, mesin cetak, toko buku, bengkel otomotif, pengadaan bahan kimia untuk keperluan cetak, perdagangan kertas dan terakhir membuka pasar swalayan Goro Assalam.

Untuk mengabadikan perjuangannya mendirikan usaha penerbitan buku, pada agenda 52 Tahun Tiga Serangkai Solo peduli pendidikan Indonesia dalam tajuk “Bagimu Guru, Terimakasihku”, 8 Januari 2010, kemudian diluncurkan Buku Biografi Hj. Siti Aminah Abdullah, sang saudagar berhati emas. Siti Aminah juga tak lupa kampung halamnnya, karena mayoritas karyawannya, yakni hampir 75 persen adalah orang orang yang berasal dari Padi dan Losari, Tulakan, Pacitan.

Mengapa Siti Aminah ini berjuluk saudagar berhati emas? Karena meski sudah kaya dengan banyak bisnisnya, dirinya tetap tidak lupa bahwa keberhasilannya berawal dari merangkak. Dan saat ini, saat dirinya meraih sukses, dirinya tak lupa untuk terus berbagi untuk sesama, salah satunya adalah dengan  memberangkatkan Haji kerabat dan karyawan yang punya prestasi, hampir setiap tahun.

Bahkan, Siti Aminah juga sering mendapatkan pujian karena menjadi pembayar pajak terbaik di Jateng beberapa waktu lalu. Seringkali juga, mahasiswa yang berasal dari Pacitan diajak kerumahnya di Solo untuk ikut agenda Ramadhan dan buka bersama, termasuk diantaranya diberikan souvenir Lebaran.

Dan mungkin, masyarakat Pacitan perlu meniru sosok Siti Aminah, yang sukses di negeri seberang, tapi tak lupa kampung halaman. Ibarat padi, sosok Siti Aminah adalah semakin berisi, semakin merunduk.

Semoga Allah karuniakan keberkahan hidup kepada Siti Aminah dan keluarga.

Sumber: Buku Pacitan The Heaven of Infonesia dan berbagai sumber terkait