Sistem Pendingin Tenaga Surya di Tamperan Bantu Peningkatan Kualitas Ikan di Pacitan

oleh -Dibaca 1.893 kali
Solar Panel berjejer di atas atap di pelabuhan perikanan Temperan Pacitan. (Foto: Tommy Apriando/Mongabay Indonesia)
Solar Panel berjejer di atas atap di pelabuhan perikanan Temperan Pacitan. (Foto: Tommy Apriando/Mongabay Indonesia)
Solar Panel berjejer di atas atap di pelabuhan perikanan Temperan Pacitan. (Foto: Tommy Apriando/Mongabay Indonesia)
Solar Panel berjejer di atas atap di pelabuhan perikanan Temperan Pacitan. (Foto: Tommy Apriando/Mongabay Indonesia)

Pacitanku.com, PACITAN – Pelabuhan ikan Tamperan di Pacitan dikenal sebagai pelabuhan ikan terbesar di kawasan Pacitan. Di pelabuhan ini, untuk menunjuang peningkatan produksi perikanan, berbagai cara pun dilakukan oleh pengelola pelabuhan dengan berbagai sarana dan prasarana penunjang, salah satunya adalah Sistem Lemari Pendingin atau Cold Storage Tenaga Surya.

Sistem ini adalah sebuah sistem pendingin yang berguna untuk menjaga suhu ikan yang sudah ditampung di gudang penyimpanan tetap dalam keadaan dingin. Hal ini dikarenakan peningkatan kualitas hasil produksi perikanan sangat berkaitan erat dengan sistem rantai dingin. Kualitas produk perikanan yang bagus akan meningkatkan kenaikan harga jual yang berdampak pada kenaikan pendapatan, sehingga dapat dilakukan jika fasilitas pendingin tersedia.

“Suhu dinginnnya mencapai minus lima derajat celcius. Untuk menyimpan 200 kilo gram ikan tanpa es per hari,” kata Nugraha Widyatmono, Project Coordinator Contained Energy Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tamperan, seperti dilansir dari laman Mongabay Indonesia, Rabu (21/5/2014).

Namun demikian, dikarenakan jangkauan listrik PLN belum dapat memenuhi kebutuhan listrik, sementara solusi menggunakan genset sering kali tidak berfungsi secara optimal karena biaya bahan bakar minyak yang cukup tinggi, maka sistem tenaga surya dipakai untuk menjawab persoalan cold storage tersebut. Lemari pendingin bertenaga surya berbiaya ekonomi yang cukup efisien karena menggunakan aplikasi penyimpanan energi termas (TES) yang dikombinasikan dengan paket kompresor ulta efisien.

“Kehadiran Cold Storage tenaga Surya menjadi jawaban dari permasalahan masyarakat nelayan. Selain ramah lingkungan, alat ini diharapkan bisa meningkatkan harga jual hasil tangkapan nelayan,” jelasnya.

Ia kemudian menyampaikan bahwa fitur unik dari sistem ini adalah unit ini menerapkan Phase Charge Material (PCM) dalam volume yang besar pada langit-langit, sehingga mampu menyimpan dan melepaskan 15 kWh pada kapasitas pendingin -4 derajat Celcius.

Dengan demikian, teknologi penyimpanan panas ini memungkinkan paket kompresor melakukan sebagian besar pendinginan selama siang hari ketika energi surya tersedia dan menyimpan dalam jumlah besar pada baterai. “Projek ini (di Pacitan) dibangun untuk kebutuhan pendinginan. Sehingga suhu yang diperlukan hingga -5 derajat celcius. Namun untuk membekukan ikan maka memerlukan suku -30 derajat celcius,” kata Nugraha.

Terpisah, Choirul Huda, Kepala seksi Pelabuhan Perikanan Pantai Tamperan menyatakan baahwa pemanfaatan dari lemari pendingin tersebut bagi nelayan adalah dapat membantu nelayan dalam menjaga harga jual hasil tangkapan tetap tinggi. Tangkapan ikan terus meningkat dan ikan yang ditangkap kualitasnya tokcer.

“Ikan hasil tangkapan ada yang langsung di jual namun ada juga yang mengolahnya menjadi bakso ikan dan tahu ikan. Maka itu perlu pendingin untuk menjaga mutu dan harga jual agar tetap tinggi,” kata Choirul Huda.

Seperti diketahui, keebradaan PPP Tamperan ditetapkan sebagai zona inti kawasan minapolitan oleh Bupati Pacitan berdasarkan SK Bupati No 188.45/140/408.31/2010. Sementara untuk produksi ikan tuna di Pantai Tamperan mencapai 60 hingga 100 ton/hari.

Jenis ikan yang selama ini berlabuh di Pantai Tamperan selain Tuna juga ada ikan Cakalang, Tongkol, Layang Rebon, Teri, Layur, Cumi-cumi dan Kembung. Yang paling banyak adalah hasil tangkapan ikan tuna dengan berat 1 sampai 7 kilogram/ekor bahkan bisa lebih. Sedangkan ikan seperti jenis Cakalang dan Tongkol biasanya untuk konsumsi pasar lokal.

“Nelayan tentu butuh lemari pendingin, karena kebutuhan ikan semakin meningkat. Namun perlu pemahaman kepada nelayan tentang penggunaan dan operasional cold storage,” pungkasnya.

Redaktur : Robby Agustav