Mencari Sesuap Nasi dari Batu Kali Grindulu

oleh -13853 views
Pemecah Batu Kali Grindulu
Pemecah Batu Kali Grindulu
Pemecah Batu Koral
Tumiyati Pemecah Batu Koral

Pacitanku.com, ARJOSARI—Tak pernah terpikirkan dibenak Tumiyati (54) warga Tempuran, Mangunharjo, Arjosari untuk menjalani profesi sebagai seorang pemukul batu kali Grindulu. Namun ternyata takdir menggariskan hidup perempuan ini menjalani kesehariannya sebagai pemukul batu Sungai Grindulu.

Dari wawancara eksklusif Tumiyati dengan Pacitanku.com, Jum’at (1/11),  perempuan paruh baya yang kesehariannya mangkal di pinggiran Sungai Grindulu di jalur Kelurahan Mangunharjo ini menceritakan ihwal dirinya menjadi perempuan perkasa pemukul batu koral Grindulu.

“Mulanya dulu tak pingin mas, tapi karena tuntutan hidup dan kalau hanya mengandalkan dari tani yang tidak mencukupi mas, jadinya ya akhirnya saya mukul batu untuk bahan bangunan ini sejak puluhan tahun lalu,” kata Tumi.

Batu Sungai Grindulu memang terkenal kuat untuk bahan campuran bangunan rumah, sehingga batuan hasil endapan sungai ini banyak dicari orang untuk campuran semen dan pasir. Dengan harga kisaran 130.000 perkubik, batu koral Sungai Grindulu cenderung lebih murah dengan kualitas yang bagus. Hal ini juga yang membuat Tumi sampai sekarang masih setia dengan profesi sebagai pemecah batu Sungai Grindulu.

“Biasanya setelah memecah batu, ada truk yang datang untuk membeli pecahan batu koral tersebut. Untuk menghasilkan satu kubik batu koral kami membutuhkan waktu sekitar 8-10 hari, sehingga bisa dibilang pekerjaan ini sangat melelahkan,” terang perempuan yang memiliki dua anak ini.

Hasil Pecahan Batu Koral
Hasil Pecahan Batu Koral

Seperti diketahui, di beberapa titik di pinggiran jalan raya Ponorogo-Pacitan banyak ditemui gubuk – gubuk kecil yang digunakan untuk tempat mangkal para pemecah batu Sungai Grindulu. Sudah sejak puluhan tahun lalu, para warga Pacitan, termasuk Tumi mengais rezeki dari pecahan batu koral Sungai Grindulu ini.

“bagi kami para pemecah batu koral Grindulu, yang penting bisa makan dan menghidupi anak – anak mas, tak peduli apa kata orang tentang pekerjaan kami,” pungkasnya.

 Redaktur/Foto : Dwi Purnawan (@dwi_itudua)