Pacitanku.com, PACITAN – Skor penilaian tertinggi ternyata tidak otomatis menjamin sebuah karya lolos menjadi official selection dalam Festival Film Horor (FFH) 2026.
Fakta di balik dapur penjurian tersebut terungkap dalam diskusi “Meet Our Curator” bersama para sineas di tepi Pantai Hong Club, kawasan Pancer Door, Pacitan, Jumat (16/10/2026).
Sesi ini menghadirkan tiga kurator FFH 2026, yakni Saka Guna Wijaya, Azalia Syahputri, dan Azzam Fi Rullah. Di hadapan para pembuat film (filmmaker), ketiganya membedah tantangan kurasi di tengah beragamnya kualitas dan keunggulan karya yang masuk tahun ini.
Kurator FFH 2026, Azalia Syahputri, menegaskan bahwa penentuan film terpilih tidak hanya mengandalkan angka semata, melainkan membutuhkan ketelitian dan diskusi mendalam.
“Setiap kategori kami diskusikan dengan saksama. Setelah skornya masuk, bukan berarti film dengan skor paling tinggi langsung menjadi official selection. Semua hasil penilaian tetap kami diskusikan kembali untuk melihat kemungkinan-kemungkinan yang ada,”kata Azalia, Jumat (16/10/2026).
Tim kurator juga tak segan melakukan peninjauan ulang secara berulang agar tidak ada karya potensial yang terlewat. Langkah ini ditempuh demi memastikan setiap keputusan lahir dari pertimbangan artistik dan kesepakatan bulat.
“Kalau ada kemungkinan film yang terlewat, kami kembali me-review berkali-kali sampai kami bertiga sama-sama mufakat bahwa film tersebut layak masuk official selection,”tambahnya.
Berlatar suasana pesisir Pancer Door yang santai dan terbuka, forum ini menjadi ruang belajar langsung bagi para sineas untuk memahami cara kerja festival menilai sebuah karya.
Lebih dari sekadar ajang kompetisi, FFH 2026 memanfaatkan momentum ini untuk memotivasi para peserta dalam memperkuat cerita dan meningkatkan kualitas sinematik mereka ke depan.












