Dari Hobi ke Hati, Cara Sumarni Rahayu Bercerita Tentang Pacitan Lewat Canting

oleh -125 Dilihat
Close-up tangan Sumarni Rahayu menggoreskan canting dengan lilin panas di atas kain putih untuk membuat Batik Chanting Pace.
KETELATENAN HATI. Sumarni Rahayu saat menitikkan malam (lilin) dengan penuh konsentrasi di rumah produksinya. Bagi Sumarni, setiap goresan canting adalah cara bercerita tentang kecintaannya pada Pacitan. (Foto: Okta Stya/Pacitanku)

Pacitanku.com, PACITAN – Berawal dari hobi melukis di atas kanvas, Sumarni Rahayu kini mendedikasikan hidupnya untuk melestarikan identitas Kabupaten Pacitan melalui Batik Canting Pace, sebuah karya batik kontemporer unik yang mengangkat filosofi buah mengkudu sebagai simbol kekuatan daerah.

Usaha yang dirintis sejak tahun 2020 ini bukan sekadar bisnis fesyen, melainkan bentuk kecintaan Sumarni terhadap tanah kelahirannya.

Setiap helai kain yang lahir dari rumah produksinya di Pacitan dikerjakan dengan penuh kesabaran, mulai dari penggambaran pola hingga teknik pewarnaan gradasi yang halus.

“Awalnya memang dari hobi melukis di atas kain. Lama-lama saya mencoba di kain primis, kemudian berkembang menjadi batik seperti sekarang,”kata Sumarni saat ditemui di rumah produksinya, belum lama ini.

Berbeda dengan batik tradisional pada umumnya, Batik Canting Pace mengusung konsep kontemporer dan edisi terbatas (unlimited edition). Hal ini membuat setiap karya memiliki keunikan tersendiri yang tidak akan ditemukan pada kain lainnya.

Detail kain Batik Chanting Pace dengan motif buah pace atau mengkudu yang disusun secara kontemporer dengan teknik warna gradasi.
IDENTITAS DAERAH. Motif buah pace (mengkudu) yang menjadi jiwa dari Batik Canting Pace. Selain unik dan terbatas (unlimited), motif ini membawa filosofi kekuatan dan kesederhanaan masyarakat Pacitan.

“Kalau Batik Canting Pace ini lebih ke kontemporer dan unlimited edition. Jadi setiap karya punya keunikan sendiri,” jelasnya.

Salah satu kekuatan utama karya Sumarni adalah penggunaan motif buah pace atau mengkudu. Secara filosofis, pace merupakan cikal bakal nama Pacitan sekaligus simbol pemulih semangat bagi Pangeran Mangkubumi saat melawan penjajahan. Sumarni ingin nilai kesederhanaan namun penuh manfaat dari buah tersebut terpancar bagi siapa saja yang mengenakan batiknya.

Proses produksinya pun menuntut ketelatenan tinggi. Penggunaan bahan katun primis dan pewarna remasol memastikan kain tetap nyaman dan warna tidak mudah luntur. Namun bagi Sumarni, teknik hanyalah sebagian dari cerita; sisanya adalah tentang perasaan.

“Dalam membuat batik ini memang sangat membutuhkan kesabaran, ketelatenan, dan niat dari hati,” ujarnya dengan lugas.

Menyambut usia ke-281 Kabupaten Pacitan, Sumarni menyimpan harapan besar agar produk lokal semakin dicintai oleh masyarakat sendiri, terutama generasi muda.

Ia percaya bahwa menjaga budaya bisa dilakukan melalui kreativitas masa kini.

“Harapannya semoga Pacitan semakin maju, budayanya tetap terjaga, dan masyarakat semakin mencintai produk lokal,”pungkasnya.