Pacitanku.com, PACITAN-Dentuman perayaan Hari Jadi ke-281 Kabupaten Pacitan kembali menggema.
Spanduk, panggung hiburan, dan seremoni resmi menjadi penanda bertambahnya usia kota berjuluk Paradise of Java itu.
Namun, di balik kemeriahan tersebut, ada suara lain yang tak selalu terdengar dari mimbar-mimbar perayaan: suara generasi muda yang memaknai usia 281 tahun bukan sekadar angka, melainkan cermin untuk berkaca dan penanda arah ke depan.
Bagi Nayla Anindya, siswa SMAN 1 Pacitan, Hari Jadi Pacitan menjadi pengingat tentang tanggung jawab generasi muda, khususnya pelajar.
Menurutnya, usia Pacitan yang semakin matang harus diiringi dengan semangat belajar yang lebih kuat.
“Sebagai generasi muda, terutama pelajar, kita harus lebih giat belajar. Pacitan punya banyak anak muda bertalenta, dan momentum ini seharusnya menjadi pijakan untuk mengembangkan potensi yang sudah ada,” ujarnya.
Nayla juga menaruh harapan pada kebijakan pemerintah daerah agar ke depan kesempatan belajar dan pengembangan bakat dibuka lebih luas, tidak terpaku pada satu atau dua bidang saja.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya menjaga dan merawat ikon Pacitan, khususnya kawasan pantai, agar terus dikembangkan tanpa mengabaikan kebersihan dan kelestariannya.
Pandangan berbeda namun senada datang dari Rahma A’nur, relawan di bidang Ziswaf dan kemanusiaan sejak 2021.
Ia memaknai Hari Jadi Pacitan bukan sebagai perayaan seremonial semata, melainkan ruang muhasabah bersama.
“Di usia 281 tahun ini, seharusnya kita bertanya: apa saja yang sudah baik, dan apa yang masih perlu ditingkatkan,” tuturnya.
Mewakili relawan dan lembaga kemanusiaan, Rahma berharap pemerintah daerah lebih mengoptimalkan kolaborasi lintas sektor.
Ia menekankan pentingnya melibatkan lembaga sosial, anak muda, hingga pelaku UMKM untuk duduk bersama, membicarakan dan menggagas program-program inovatif yang lahir dari gagasan generasi muda.
Dari ranah komunitas, suara optimisme disampaikan Hana Nur Fadlilah, Wakil Ketua Umum Komunitas PACE (Pacitan Cerdas).
Baginya, Hari Jadi ke-281 menjadi energi baru untuk terus konsisten berkontribusi dan memberi dampak nyata, terutama bagi generasi muda.
“Momen ini memotivasi kami untuk terus bergerak dan berkontribusi,” katanya penuh semangat.
Hana berharap pemerintah daerah semakin membuka ruang kolaborasi bagi komunitas-komunitas yang ada.
Ia menegaskan kesiapan PACE untuk menjadi perpanjangan tangan dalam mengawal isu-isu pendidikan dan sosial di Pacitan.
Sementara itu, Ilham Arifin, mahasiswa sekaligus Wakil Presiden Mahasiswa ISIMU Pacitan, memandang HUT ke-281 sebagai momentum pembentukan karakter generasi muda.
Menurutnya, usia Pacitan yang semakin dewasa harus diimbangi dengan kesiapan generasi mudanya dalam membangun pribadi yang berakhlak mulia dan berintegritas.
Ia juga menyampaikan aspirasi agar ke depan arah pembangunan dan kegiatan di Pacitan tidak hanya terfokus pada kebudayaan semata.
“Kami berharap bidang lain seperti pendidikan dan keagamaan juga dapat lebih diprioritaskan,” ujarnya.
Beragam suara tersebut memperlihatkan satu benang merah, bahwa generasi muda Pacitan tak ingin sekadar menjadi penonton dalam perayaan usia daerahnya.
Pada usia 281 tahun ini, mereka membawa gagasan, kritik, dan harapan sebagai bagian dari arah masa depan Pacitan.









