Demi Kualitas Sempurna, Pengrajin Wayang Pacitan Rela Timbun Kulit Mentah Selama Dua Tahun

oleh -137 Dilihat
DARI LOKAL KE GLOBAL. Gunawan Bimo Putra menceritakan perjalanan karirnya dari cita-cita dalang hingga menjadi eksportir kerajinan wayang dalam tayangan siniar Kertas Kosong. Ia membuktikan seni tradisi Pacitan mampu bersaing di kancah internasional. (Foto: Sulthan Shalahuddin/Pacitanku)

Pacitanku.com, PACITAN — Di tengah gempuran budaya instan yang serba cepat, Gunawan Bimo Putra, seorang pengrajin wayang asal Pacitan, memilih jalan sunyi dengan mempertahankan standar kualitas tradisional yang ketat.

Demi menghasilkan satu buah wayang kulit dengan kualitas premium atau masterpiece, Bimo menerapkan aturan baku yang tidak bisa ditawar, yakni penggunaan bahan baku kulit yang telah melalui proses penyimpanan dan pengeringan alami minimal selama dua tahun.

Gunawan Bimo Putra mengungkapkan bahwa kesabaran adalah kunci utama dalam menghasilkan karya seni adiluhung yang tahan lama.

Baca juga: Gagal Jadi Dalang, Pengrajin Wayang Pacitan Ini Justru Sukses Tembus Pasar Australia dan Jepang

Menurutnya, kulit hewan yang baru dikerok dan dijemur selama satu bulan memang secara fisik terlihat kering, namun kualitas seratnya dianggap “nol” jika dipaksakan langsung dipahat menjadi wayang.

Ia menegaskan bahwa bahan baku tersebut harus didiamkan dalam kurun waktu yang cukup lama untuk memastikan kestabilan struktur kulit.

“Kalau dari kulit itu biasanya kulit yang baru dikerok dari hewan dijemur selama satu bulan, setelah itu baru bisa dijadikan wayang minimal dua tahun, tidak bisa langsung. Walaupun satu bulan itu sudah kering, tapi kalau langsung dibikin wayang kualitasnya nol. Harus nunggu dulu agar bahan benar-benar siap,”kata Bimo saat diwawancarai dalam siniar Kertas Kosong Pacitanku TV, dikutip pada Selasa (20/1/2026).

Setelah melewati masa penantian panjang selama dua tahun, lembaran kulit tersebut barulah memasuki tahap produksi yang sesungguhnya.

Proses dimulai dari pengerokan ulang, perendaman, hingga pembentangan kulit selama satu minggu agar teksturnya sempurna sebelum disentuh oleh pisau pahat dan desain.

Ketelatenan Bimo tidak berhenti pada penyiapan bahan baku, melainkan berlanjut pada teknik pewarnaan yang menjadi ciri khas keunggulan karyanya.

Berbeda dengan wayang standar yang umumnya bisa diselesaikan dalam hitungan minggu, Bimo menyebutkan bahwa pengerjaan satu unit wayang kualitas premium bisa memakan waktu hingga satu tahun penuh.

Durasi panjang ini disebabkan oleh kompleksitas teknik pewarnaan yang menerapkan tujuh tingkatan gradasi warna demi menghasilkan detail visual yang tajam, hidup, dan memikat mata.

Tahapan krusial lainnya yang membutuhkan ketelitian tingkat tinggi adalah proses nyawi atau pemberian garis tegas dan ndrenjemi atau pemberian bintik-bintik detail pada ornamen wayang.

Seluruh rangkaian proses panjang tersebut ditutup dengan tahap penyelesaian akhir (finishing) dan pemasangan gapit hingga wayang siap dimainkan atau dipajang.

Dedikasi tinggi terhadap detail dan kualitas inilah yang kemudian mengantarkan Gunawan Bimo Putra meraih berbagai penghargaan bergengsi sebagai pencipta wayang kreasi serta aktif berpartisipasi dalam berbagai pameran dan lokakarya seni.

Video Cerita Bimo, Anak Muda Pacitan Pelestari Budaya Jawa Wayang | Podcast Kertas Kosong Eps. 52

No More Posts Available.

No more pages to load.