Disparbudpora Pacitan Dorong Pasar Beling Song Meri Jadi Pionir Wisata Kreatif Bebas Sampah

oleh -1305 Dilihat
Suasana antrean pengunjung di kedai kuliner tradisional Pasar Beling Song Meri, Desa Sukoharjo, Pacitan.
Bernostalgia dengan Rasa. Antusiasme wisatawan menikmati sajian kuliner tempo dulu seperti Jenang Jadul dan Wedang Ronde di Pasar Beling Song Meri, Desa Sukoharjo. Konsep pasar unik ini sukses menggerakkan ekonomi warga setempat.

Pacitanku.com, PACITAN — Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Pacitan mengapresiasi eksistensi Pasar Beling Song Meri di Desa Sukoharjo yang dinilai sukses menggerakkan roda perekonomian warga melalui konsep unik bernuansa tempo dulu.

Pemerintah daerah bahkan mendorong destinasi wisata kuliner ini untuk menjadi pelopor pasar kreatif bebas sampah atau zero waste yang dapat menjadi percontohan bagi desa wisata lainnya di Pacitan.

Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Disparpora Pacitan, Adetya Wicaksana Putra, menyambut positif gelaran pasar yang dipadati pengunjung pada Minggu (25/1/2026) tersebut.

Ia menilai inisiatif swadaya masyarakat Desa Sukoharjo ini merupakan bentuk aktivitas perekonomian kreatif yang patut diacungi jempol karena mampu menggabungkan pelestarian nilai tradisi dengan pemberdayaan ekonomi lokal secara nyata.

“Alhamdulillah, kalau dari kami selaku bidang ekonomi kreatif, ini sebuah aktivitas perekonomian yang luar biasa,”kata Adetya.

Kelompok pemusik tradisional memainkan alat musik daur ulang botol kaca di Pasar Beling Song Meri Pacitan.
Harmoni Tradisi dan Kreativitas. Penampilan kelompok musik dengan instrumen unik dari botol bekas menambah atmosfer klasik di Pasar Beling Song Meri. Sebuah inisiatif ekonomi kreatif yang menggabungkan hiburan dan pelestarian budaya.

Menurut dia, daya tarik utama pasar ini terletak pada konsep penjualan yang konsisten mengusung tema zaman dahulu atau jadul.

Keunikan cara bertransaksi dan atmosfer tradisional yang dibangun terbukti menjadi magnet kuat bagi wisatawan domestik maupun luar daerah, sekaligus memberikan dampak kesejahteraan langsung bagi masyarakat sekitar yang terlibat sebagai pedagang.

“Model penjualan jadul dan tradisional ini unik dan sah, semakin banyak apapun aktivitas kreatif yang ada di Pacitan tentu harapannya memberikan dampak pada masyarakat,”tambahnya.

Lebih jauh, Adetya menaruh harapan besar agar manajemen Pasar Beling Song Meri dapat terus menjaga konsistensi dan kualitas pengelolaannya.

Pihaknya juga menantang pengelola agar pasar ini tidak hanya sekadar menjadi tempat jual beli, melainkan mampu bertransformasi menjadi pionir dalam penerapan konsep nol sampah yang ramah lingkungan.

Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah melalui bidang ekonomi kreatif sangat terbuka dan siap mendukung penuh setiap inisiatif masyarakat yang memiliki nilai kebaruan dan kebermanfaatan luas.

“Tentu harapannya manajemen Song Meri dapat melanjutkan dan tentu bidang ekraf akan mendukung setiap hal yang sudah bagus ini. Selain tradisional, model zero sampah pada pasar tradisional Song Meri dapat direplikasi di tempat lain. Tentu kami menyambut baik, jika ada inisiatif kreatif dari masyarakat tentu kami siap mendukung,”pungkasnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.