Pacitanku.com, TULAKAN — Geliat sektor pertanian di Desa Wonosidi, Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan menunjukkan tren positif dengan semakin maraknya budidaya tanaman porang yang kini menjelma menjadi komoditas andalan baru bagi masyarakat setempat.
Tanaman umbi-umbian yang dulunya hanya dipandang sebagai tanaman alternatif atau sampingan ini, sekarang mulai digarap secara serius karena terbukti mampu memberikan dampak ekonomi yang signifikan dalam menopang pendapatan rumah tangga petani.
Pergeseran pola pikir petani di wilayah Wonosidi ini terlihat dari masifnya pemanfaatan lahan-lahan yang sebelumnya kurang produktif atau lahan tidur.
Para petani mulai menanami area di bawah naungan pepohonan rindang dengan bibit porang, mengingat karakter tanaman ini yang memang tumbuh optimal di lingkungan yang teduh.
Kondisi geografis dan tanah di Wonosidi yang mendukung membuat transisi komoditas ini berjalan cukup masif dan lancar.
Salah satu petani porang di Desa Wonosidi, Nur Cahyono, mengungkapkan bahwa keputusan warga untuk beralih ke porang didasari oleh pertimbangan yang sangat realistis.
Selain tidak memerlukan pembukaan lahan baru dalam skala besar karena bisa memanfaatkan lahan yang sudah ada, tanaman ini dinilai sangat ramah bagi petani dari sisi tenaga maupun biaya operasional.
Tanaman ini tidak menuntut perawatan intensif layaknya komoditas pertanian lain, namun tetap menjanjikan hasil panen yang memuaskan asalkan kondisi tanahnya memadai.
“Karena perawatannya mudah dan juga pastinya hasilnya cukup memuaskan dan juga karena memang lahannya juga sudah tersedia,”kata Nur Cahyono saat ditemui di lahan pertaniannya, Kamis (1/1/2026).
Dari kacamata ekonomi, kehadiran porang menjadi angin segar di tengah ketidakpastian hasil panen tanaman musiman lainnya.
Meskipun masa tanam hingga panen membutuhkan waktu yang relatif panjang, nilai jual yang diperoleh dianggap sepadan dan mampu menjadi tabungan berharga bagi keluarga petani.
Tak hanya itu, geliat budidaya ini juga membawa dampak sosial positif dengan terbukanya lapangan kerja baru bagi warga sekitar, terutama saat musim tanam dan panen tiba.
Kendati demikian, para petani menyadari bahwa usaha ini bukan tanpa tantangan. Fluktuasi harga pasar yang kerap berubah dan minimnya akses informasi mengenai standar kualitas serta jalur pemasaran masih menjadi pekerjaan rumah yang harus dihadapi.
Namun, dengan potensi yang ada, masyarakat Desa Wonosidi tetap optimistis bahwa komoditas ini dapat dikembangkan secara berkelanjutan.
“Kami berharap tanaman porang dapat mendorong perekonomian masyarakat dan memperkuat sektor pertanian desa dalam jangka panjang,”pungkas Nur Cahyono.












