Pacitanku.com, PACITAN — Kreativitas sering kali lahir dari keterbatasan, namun keberlangsungannya kerap diuji oleh permintaan pasar yang tidak menentu.
Hal inilah yang dialami oleh Mbah Mujiono, seorang perajin miniatur berusia 60 tahun asal Dusun Gawang, Desa Ketro, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Pacitan.
Pria yang akrab disapa Mbah Semar ini harus memutar otak untuk tetap menopang ekonomi keluarga ketika pesanan kerajinan tangannya sedang lesu dengan kembali menekuni jasa terapi alternatif yang telah puluhan tahun ia geluti bersama sang istri.
Usaha kerajinan yang dirintis Mbah Semar sejak tahun 2016 ini memproduksi berbagai jenis replika kendaraan, mulai dari truk, bus, hingga pesawat terbang.
Produk kreatif tersebut selama ini dimanfaatkan sebagai media edukasi dan alat peraga pembelajaran bagi anak usia dini, khususnya jenjang Taman Kanak-Kanak (TK) dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).
Berbekal bahan-bahan sederhana yang mayoritas berasal dari limbah atau barang bekas tak terpakai, tangan dingin Mbah Semar mampu merangkai sampah menjadi barang bernilai ekonomis dengan detail yang menyerupai aslinya.
Keahlian menyulap barang bekas ini didapatkan Mbah Semar secara otodidak. Ia mengaku mengasah kemampuannya dengan rajin melihat video tutorial di YouTube, lalu mengembangkannya menggunakan imajinasi dan pengalaman pribadinya hingga tercipta desain yang unik.

Meski pasar utamanya adalah warga sekitar dan lembaga pendidikan di wilayah Pacitan, karya Mbah Semar juga kerap menerima pesanan dari luar kota saat momentum tertentu.
Namun, realitas ekonomi menuntutnya untuk adaptif karena penjualan miniatur ini bersifat musiman dan tidak stabil sepanjang tahun.
Permintaan biasanya melonjak tajam saat menjelang tahun ajaran baru atau ketika sekolah membutuhkan alat peraga, di mana ia mampu menjual tiga hingga empat unit per hari dengan harga mulai dari Rp100 ribu per unit. Sebaliknya, di masa-masa sepi orderan seperti saat ini, Mbah Semar kembali mengandalkan keahlian pijat terapi untuk memenuhi kebutuhan dapur.
“Kalau sedang musim, penjualan bisa tiga sampai empat miniatur per hari. Tapi sekarang sudah tidak musim, jadi sepi,”kata Mbah Semar menggambarkan kondisi usahanya saat ini.
Ketekunan Mbah Semar menjadi potret nyata perjuangan pelaku usaha mikro di daerah yang terus berusaha relevan di tengah ketidakpastian pasar.
Di satu sisi ia berperan sebagai edukator melalui karya mainannya, dan di sisi lain ia tetap menjadi penyembuh alternatif bagi masyarakat sekitar demi keberlangsungan hidup keluarganya.









