Sentono Genthong Pacitan, Destinasi Elok dan Panorama Spiritual di Puncak Bukit Karang, Menyimpan Jejak Legenda Tanah Jawa

oleh -153 Dilihat
Kawasan Wisata Sentono Genthong Pacitan (Foto: Frendi Setiawan Pradikdo)

Pacitanku.com, PRINGKUKU – Di puncak Bukit Karang yang menjulang, menghadap ke Teluk Pacitan yang memesona, tersembunyi sebuah situs bersejarah bernama Sentono Genthong.

Bukan sekadar destinasi wisata dengan pemandangan alam memukau, tempat ini menyimpan aura spiritual yang kuat, merangkum misteri dan legenda masa lalu.

Terletak di Desa Dadapan, Kecamatan Pringkuku, Sentono Genthong menawarkan pengalaman unik. Dari ketinggian, panorama Kota Pacitan terbentang luas, berpadu indah dengan Teluk Pacitan dan latar Gunung Limo.

Dengan tiket terjangkau (Rp10.000 per Mei 2018), pengunjung dapat menikmati keindahan alam sekaligus menelusuri jejak sejarah yang memikat.

Nama “Sentono Genthong” sendiri sarat makna. “Sentono” berarti tempat pertapaan, “Genthong” merujuk pada wadah tanah liat.

Konon, di sini tersimpan tulang belulang dalam genthong yang diyakini memiliki kekuatan mistis. Hilangnya tulang tersebut pada masa penjajahan Belanda menambah teka-teki misteri tempat ini.

Lebih dari sekadar situs bersejarah, Sentono Genthong juga diyakini sebagai “tumbal” Pulau Jawa. Legenda menceritakan Sultan dari Negeri Ngerum yang mengutus rakyatnya membuka lahan di Jawa, namun diganggu makhluk halus.

Seorang pandita kemudian “menumbali” tanah Jawa agar aman dihuni. Versi lain menyebutkan keterkaitan tempat ini dengan Prabu Brawijaya, raja terakhir Majapahit, yang mewariskan tulang tangannya untuk disimpan di puncak bukit sebagai syarat keamanan.

Kehadiran Syekh Subakir, ulama Persia, tak terpisahkan dari sejarah Sentono Genthong. Menurut legenda, beliau memasang tumbal di sini sekitar tahun 1400 M untuk mengusir roh jahat dan membuka jalan bagi penyebaran Islam.

Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jawa Timur, pernah mengunjungi tempat ini, menekankan pentingnya Sentono Genthong sebagai simbol harmoni antarumat beragama.

DI PETILASAN. Gubernur Khofifah di petilasan Syekh Subakir di Sentono Genthong beberapa hari yang lalu. (Foto: Sulthan Shalahuddin/Pacitanku)

“Kalau mau dibilang wisata religi, Sentono Genthong ini ya wisata religi, ada cerita Sentono genthong dan ulama Persia Syekh Subakir, karena bagi mereka yang menetahui babad tanah jawi, sosok Syekh Subakir ini diketahui ulama yang pindah dari satu tempat untuk membangun kehidupan yang kondusif bagi masyarakat yang ada titik-titik yang didatangi,”kata Khofifah saat menceritakan sosok Syekh Subakir.

Kini, Sentono Genthong menjadi tujuan ziarah dan wisata spiritual. Aura mistisnya, ditambah pemandangan alam yang menakjubkan, menjadikannya destinasi tak terlupakan.

Aksesnya mudah dari jalur bus Pacitan-Solo, dan dikelola dengan baik oleh Pemerintah Desa Dadapan.

Menurut juru kunci Sentono Genthong, dahulu keberadaan tulang dalam genthong memiliki makna mistis. Tulang yang berdiri tegak dipercaya menandakan terkabulnya cita-cita, sebaliknya tulang yang tergeletak menandakan harapan yang tak tercapai.

Hilangnya tulang pada tahun 1871, baik karena diambil juru tulis Belanda atau menghilang dengan suara gemuruh, menambah misteri tempat ini.

Juru kunci Sentono Genthong berasal dari Dusun Dadapan, dipilih dari orang lanjut usia yang tak kuat bekerja, dan bergantung pada sedekah peziarah. Legenda mengisahkan Sentono Genthong sebagai tumbal Pulau Jawa, terkait dengan Sultan dari Negeri Ngerum dan Prabu Brawijaya.

Meskipun terdapat berbagai versi cerita, Sentono Genthong tetap dianggap situs keramat penuh misteri. Genthong yang tampak baru tanpa lumut, cungkup yang utuh tanpa perbaikan, menambah aura mistisnya. Banyak orang masih mengunjungi tempat ini, mencari ketenangan spiritual.

Sumber sejarah dari “Babad Pacitan Jawa Kuno” karya R. Glondowardoyo Wedana, yang ditulis ulang Qomaruddin Sartono (Juli 1972), menyebutkan legenda Syekh Barabah Al Farizi dan Syekh Subakir yang memasang tumbal di Sentono Genthong sekitar tahun 1400 M untuk mengusir roh jahat dan memungkinkan manusia menghuni tanah Jawa.

Sentono Genthong bukan sekadar tempat wisata, tetapi jendela menuju masa lalu, di mana sejarah, legenda, dan spiritualitas menyatu dalam harmoni yang mempesona.

Lihat juga berita-berita Pacitanku di Google News, klik disini.

No More Posts Available.

No more pages to load.