Manisnya Sukses Gula Aren Temon Pacitan, Dari Pandemi ke Panggung Dunia, Berkat Sentuhan Digital

oleh -135 Dilihat
PRODUKSI. Produksi gula aren Temon Arjosari di Desa Temon, Arjosari, Pacitan. (Foto: Dok. Pacitanku.com)

Pacitanku.com, PACITAN– Di balik manisnya gula aren semut Temon, tersembunyi kisah inspiratif perjuangan I Gusti Ayu Ngurah Megawati, atau akrab disapa Mega.

Berawal dari kesulitan ekonomi akibat pandemi, Mega dan suaminya, Heri Suryanto, berhasil mengubah potensi lokal menjadi bisnis mendunia, berkat sentuhan teknologi digital.

Kisah sukses ini bermula pada Mei 2020. Pasangan ini, yang baru kembali dari perantauan di Kalimantan, harus memutar otak untuk bertahan hidup di Pacitan.

Mega melihat potensi besar dari banyaknya pohon aren di Desa Temon, Kecamatan Arjosari. Namun, pengolahan gula aren masih tradisional, dalam bentuk kepingan, dan dijual ke tengkulak.

Mega kemudian berinovasi dengan membuat gula aren semut.

Dengan modal otodidak dari YouTube, ia melakukan uji coba berkali-kali hingga menghasilkan produk berkualitas. Respons pasar, baik offline maupun online, sangat positif.

“Keunggulan gula aren kami adalah proses produksinya yang lebih alami,” ungkap Mega.

Dia pun mengajak petani aren untuk bersinergi, memberikan edukasi tentang pengelolaan aren yang berkelanjutan. Kini, 140 petani dan penderes aren tergabung dalam kelompok tani yang ia bina.

“Awalnya, untuk kelompok tani ini yang terekrut 20 orang, kemudian di desa itu kan dari mulut ke mulut, ada beberapa petani yang mendapatkan perhatian pemerintah, salah satunya dinas kehutanan pacitan, dapat bantuan alat masak seperti tungku wajan dan sebagainya, sehingga di database kami ada 70 petani dan penders, karena mayoritas itu mereka satu keluarga, total sekitar 140 orang petani dan penderes,”paparnya.

Tembus pasar digital

Mega owner UMKM Gula Aren Temon Arjosari. (Foto: Dok. Pacitanku)

Mega tak hanya fokus pada produksi. Ia juga menerapkan Standard Operational Procedure (SOP) untuk menjaga kualitas.

Pemasaran online menjadi tulang punggung bisnisnya. “Penjualan online kami mencapai 70%, melalui Instagram, Shopee, TikTok, dan website resmi,” jelasnya.

Sentuhan digital ini membuahkan hasil manis.

Gula Aren Temon berhasil meraih Juara 3 kategori Top Deal dalam ajang BRI UMKM EXPO(RT) 2025 di Tangerang. Keberhasilan ini membuka jalan bagi Gula Aren Temon untuk melebarkan sayap ke pasar global.

“Saat business matching, kami memaparkan produk kepada calon buyer dari Taiwan, Jakarta, Mesir, dan Hongkong,” kata Mega.

Penilaian dilakukan berdasarkan performa, presentasi, dan alur kesepakatan dengan buyer.

Pencapaian ini tak lepas dari dukungan pemerintah daerah.

Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Perindustrian, Dinas Perdagangan dan Tenaga Kerja, serta Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, mendukung penuh misi dagang Gula Aren Temon ke Jepang pada Oktober 2024.

“Terima kasih atas dukungan pemerintah. Semoga ini bermanfaat bagi petani aren dan Pacitan,” ujar Mega.

Kepala Dinas Perdagangan dan Tenaga Kerja Pacitan, Acep Suherman, pun mengapresiasi keberhasilan Gula Aren Temon dan berharap produk ini semakin mendunia.

Mega menyadari, tantangan masih ada. Ia berharap ada pelatihan lanjutan tentang strategi pemasaran online.

“Kami ingin lebih mahir dalam menggunakan iklan digital dan teknik live selling,” ujarnya.

Jadi Desa Devisa

DESA DEVISA. Pemilik produk gula Aren Temon Mega bersama Bupati dan perwakilan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) saat pendampingan di gedung Karya Darma, Kamis (24/8/2023). (Foto: Sulthan Shalahuddin/Pacitanku)

Kisah sukses Gula Temon membuahkan prestasi terpilih sebagai Desa Devisa binaan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI).

Program Desa Devisa dari LPEI ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat lokal dan mengembangkan komoditas unggulan yang berorientasi ekspor.

Dengan terpilihnya Desa Temon, produk gula aren Pacitan kini memiliki peluang lebih besar untuk dikenal di pasar internasional.

“Kami merasa sangat beruntung dan bangga bisa menjadi bagian dari program ini,” ujar Mega.

Saat ini, produksi Gula Aren Temon berkisar 1 hingga 1,5 ton per bulan. Namun, dengan dukungan LPEI, mereka optimis bisa meningkatkan kapasitas produksi untuk memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat.

Bupati Pacitan, Indrata Nur Bayuaji, yang meresmikan program pendampingan, berharap keberhasilan Desa Temon dan Desa Punjung dapat menginspirasi desa-desa lain di Pacitan.

“Jangan lelah mengikuti program pemerintah atau swasta, karena pasti ada manfaatnya,” pesannya kepada para pelaku UMKM.

Pemerintah daerah Pacitan berkomitmen untuk mendukung pengembangan UMKM berpotensi ekspor. Bupati Aji meminta dinas terkait untuk terus menggali potensi lain di Pacitan.

Ia juga mendorong para pelaku usaha untuk proaktif dan tidak hanya menunggu bantuan.

Kepala Divisi Jasa Konsultasi LPEI, Sofyan Irianto Naibaho, menjelaskan bahwa pemilihan Desa Devisa didasarkan pada kajian dari IPB.

“Kami mempertimbangkan keunikan produk, potensi pasar, kualitas, proses produksi, kapabilitas finansial, manajemen bisnis, dan infrastruktur,” jelasnya.

Demikianlah kisah inspirasi Gula Aren Temon. Dengan semangat pantang menyerah dan pemanfaatan teknologi digital, Gula Aren Temon terus melaju.

Kisah Mega adalah bukti nyata bahwa UMKM, dengan sentuhan digital, mampu menembus pasar global dan mengangkat potensi lokal.

Video Cerita Gula Aren Temon Pacitan Berdayakan Masyarakat dan Lestarikan Bumi

Lihat juga berita-berita Pacitanku di Google News, klik disini.

No More Posts Available.

No more pages to load.