Kagumi Keindahan Wisata Sentono Genthong, Gubernur Khofifah: Bak Orkestra Semesta Alam

oleh -Dibaca 162 kali
KEINDAHAN PACITAN. Gubernur Khofifah saat berada di Sentono Genthong pada Selasa (10/1/2023). (Foto: Istimewa)

Pacitanku.com, PRINGKUKU – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengagumi keindahan Kabupaten Pacitan dari ketinggian Sentono Genthong di Desa Dadapan, Kecamatan Pringkuku, Selasa (10/1/2023) kemarin.

Khofifah yang didampingi Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji dan Fotkopimda Pacitan  mengungkapkan tidak heran jika Sentono Gentong menjadi salah satu destinasi “ngehits” di Pacitan.

Baca juga: Bupati Apresiasi Pemprov Percepat Penyelesaian Pembangunan Dua Jembatan di Pacitan

Menurut Khofifah, Sentono Genthong seperti orkestra semesta alam karena memiliki keindahan alam lengkap yang berpadu dengan sejarah dan spiritual.

Di sini, kata dia, masyarakat bisa menikmati pemandangan laut dan pantai, perkotaan, perbukitan, pegunungan hingga goa-goa. Tak cuma menyajikan wisata alam, Sentono Gentong juga merupakan spot paralayang.

“Jatim ini banyak sekali tempat yang menyuguhkan keindahan bagi penikmat wisata alam, religi, kuliner, hingga tantangan bagi para  penikmat dan atlet paralayang yang di Sentono Gentong  dibuka biasanya sekitar bulan Maret menyesuaikan arah angin. 

Lebih lanjut, Khofifah mengatakan Sentono Genthong ini wisata yg memiliki sejarah yang kuat.

“Ini bisa dibilang wisata alam ya alam, religi ya religi, olahraga ya olahraga,” ujarnya.

Sehingga, katanya lagi, kalau mau melihat harmonious partnership disinilah salah satu contohnya.

“Kalau kita mau melihat wisata alam dan atlet paralayang sekaligus napak tilas religi, di sini salah satunya,” sambungnya.

Sebagai wisata religi, Sentono Genthong merupakan kawasan petilasan. Di dalamnya terdapat gentong berisi tulang-tulang yang dibawa oleh Syekh Subakir dari Persia untuk menangkal roh jahat di Pulau Jawa agar Agama Islam dapat berkembang.

“Tempat ini kental dengan cerita tentang Syeikh Subakir. Dulu kabarnya banyak jin yang mengganggu proses pembangunan dan perkembangan agama Islam di Nusantara. Kisah Syekh Subakir seperti dalam Babad Tanah Jawi ini tertanam sangat kuat sekali, dan juga mencontohkan harmonious partnership,”pungkasnya.