Cerita Narisem Tekuni Usaha Tempe Sejak 1977, Hasilkan Omzet Jutaan Hingga Mampu Menopang Kehidupannya

oleh -Dibaca 1,373 kali
Narisem pengusaha Tempe dari Desa Sambong Pacitan.

Pacitanku.com, PACITAN – Narisem, perempuan berusia 67 tahun ini bisa jadi salah satu contoh sosok perempuan tangguh yang fokus menggeluti usahanya.

Perempuan yang berdomisili di RT/RW 01/VIII, Dusun Duren, Desa Sambong, Kecamatan Pacitan ini memiliki usaha tempe sejak tahun 1977 lalu. Selama itu pula, usaha tempe yang dia jalankan bersama suaminya mampu menopang kehidupan keluarganya selama puluhan tahun tersebut.

“Dulu saya jualan tempe satunya seharga Rp 25, jualan pun tidak diambili pedagang seperti sekarang, saya berkeliling menggendong tenggok (wadah dari bambu) ke kampung-kampung,”katanya saat ditemui Pacitanku.com, baru-baru ini.

Sejak tahun 1977 hingga saat ini dirinya sudah memiliki 3 cucu dan 1 cicit, Narisem masih menggeluti usaha produksi tempenya, mulai dari penggilingan kedelai sampai proses pengemasan.

“Kalau dulu masih manual, digiling dengan kaki, kedelainya diinjak-injak dalam wadah  bak, sekarang karena terdaftar UMKM Desa Sambong, jadi dapat bantuan mesin penggiling, bisa lebih mudah dan higienis mas,”jelasnya.

Meskipun zaman sudah serba maju, perempuan yang akrab disapa Bu Nar ini tetap mempertahankan kemasan tempenya dengan daun jati.

“Meskipun mudah didapat, kalo memakai plastik itu rasanya beda lagi mas, jadi saya tetap memakai daun jati walaupun setiap hari harus keliling bukit untuk mencari daun jati, toh sekarang terbukti masih banyak yang suka tempe buatan saya,”jelasnya.

Memang, sejumlah kendala tetap menjadi bagian dari perjalanan bisnisnya. Misalnya adalah harga kedelai yang tidak stabil dan ketika memasuki musim kemarau sulit mencari daun jati karena pohon jati biasanya mengugurkan daunya di musim kemarau.

Namun itu semua tak menyurutkan semangat Bu Nar untuk menekuni usaha rumahan tempe miliknya.

Untuk pendapatan, Bu Nar menjual produk tempenya dengan harga Rp 250 per biji dan rata-rata bisa menjual 600 biji tempe setiap harinya.

Selain itu untuk penjualan biasanya diambil dan didistribusikan oleh pedagang di wilayah Desa Sambong dan desa tetangga. Bahkan area pemasaran produknya sampai ke pasar-pasar di Pacitan.

“Lumayan mas sehari bisa pegang Rp 150 ribu itu sudah bersih,”jelasnya.

Sehingga, jika dihitung rata-rata penghasilan bersih Narisem dari hasil jualan tempe bisa mencapai Rp 4,5 juta per bulan.

Dari produksi tempe ini, Bu Nar bersyukur karena usaha inilah yang menopang kehidupanya selama sekitar 46 tahun.

Narisem pun membagikan tips usaha tempe miliknya bertahan selama puluhan tahun, yakni adalah tekun dan konsisten.

“Sekarang usaha apa aja bisa mas, syaratnya tekun dan konsisten,”pungkasnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.