Awalnya Tertarik Dengan Bahasa Isyarat Anak Tunarungu, Diana Kini Tekuni Jadi Pendidik SLB di Pacitan

oleh -Dibaca 1,219 kali
Diana Ika Puspitasari, perempuan asal Gresik ini merupakan salah satu guru yang mengajar di SLB YKK Pacitan. (Foto: Dok. Pacitanku TV)

Pacitanku.com, PACITAN – Menjadi pengajar membutuhkan ketekunan, keterampilan dan kesabaran. Apalagi mengajar di Sekolah Luar Biasa (SLB) yang notabene diisi oleh anak-anak spesial berkebutuhan khusus.

Hal itu juga berlaku bagi Diana Ika Puspitasari, perempuan asal Gresik ini merupakan salah satu guru yang mengajar di SLB YKK Sumberharjo Pacitan.

Di usianya yang masih muda, ia memiliki ketertarikan tersendiri dalam dunia pendidikan khususnya bagi penyandang disabilitas.

“Ketertarikan saya untuk menjadi guru SLB dimulai ketika saya masih kuliah dan ikut dalam observasi di SLB Sidoharjo, Solo, saya merasa tertarik dengan bahasa isyarat yang digunakan oleh anak-anak tunarungu,”kata Diana dalam program Podcast Kertas Kosong Pacitanku TV yang tayang pada Rabu (3/8/2022).

Diana mengaku awalnya memang tidak paham dengan apa yang mereka bicarakan. Hal itu pula yang membuatnya timbul rasa ingin tahu dan sebagai daya tarik tersendiri.

Sebelumnya Diana merupakan guru kelas 1 SMA di SLB YKK Sumberharjo Pacitan, namun saat ini ia mengajar di kelas 1 SD.

Diana merasakan perbedaan yang signifikan dalam mengajar keduanya. Mulai dari teknik penyampaian materi hingga tingkat pemahaman.

“Tentunya ada perbedaan ketika saya mengajar di kelas 1 SMA dan di kelas 1 SD. Ketika mengajar anak SMA, tingkat pemahaman mereka lebih mudah. Sedangkan ketika mengajar anak SD khususnya kelas 1, dimana anak-anak belum mengenal huruf, Sehingga harus ekstra dalam pengajarannya. Disitulah perbedaan itu sangat terasa,” jelasnya.

Yang membuat Diana “berbeda” adalah ketika kebanyakan anak muda memilih profesi pada umumnya, namun ia memilih untuk menjadi guru bagi penyandang disabilitas.

Selain itu, ia tidak memiliki keluarga maupun saudara yang memiliki kebutuhan khusus.

Menurut Diana, mengajar anak yang memiliki kebutuhan khusus merupakan kegiatan yang menyenangkan sekaligus menantang.

Karena, kata dia mereka memiliki dunia yang berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Terutama bagi penyandang tuli memerlukan teknik khusus dalam pengajarannya.

“Untuk penyandang tuna wicara biasanya saya menggunakan gerak bibir. Namun, ada beberapa anak yang menggunakan perbedaan getaran pada leher dan memperhatikan gerak bibir untuk membedakan huruf satu dengan lainnya,”imbuhnya.

Diana mengatakan, terkadang perbedaan tersebut justru membuat anak dikucilkan dan tidak diterima dikeluarganya.

Sehingga, imbuhnya, menimbulkan adanya tindak kekerasan pada anak. Oleh karena itu, perlu adanya sosialisasi untuk para orang tua.

“Di sekolah saya biasanya diadakan sosialisasi atau pertemuan untuk orang tua. Kita menyampaikan bahwa anak-anak penyandang disabilitas merupakan anak-anak yang istimewa dan orang tua yang memiliki anak istimewa merupakan orang tua yang terpilih,”jelas Diana.

“Saya  berharap masyarakat mampu menerapkan inklusi, karena kita dan teman-teman yang berkebutuhan itu sama, tidak ada perbedaan. Jadi kita bisa saling menjaga, mensupport, dan berkomunikasi,”pungkasnya.