Potensi Air Tanah dan Air Permukaan di Pacitan Minim, Pemkab Mulai Lirik Potensi Air Hujan Atasi Kekeringan

oleh -Dibaca 775 kali
Sekretaris Dinas PUPR Pacitan Yudo Tri Kuncoro. (Foto: Sulthan Shalahuddin/Pacitanku.com)

Pacitanku.com, PACITAN – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) menggelar kegiatan lomba fotografi dalam rangka peringatan hari air sedunia yang diperingati setiap tanggal 22 Maret. Pada tahun ini, tema yang digagas adalah mencari potensi air di Pacitan.

Sekretaris Dinas PUPR Pacitan Yudo Tri Kuncoro saat dikonfirmasi awak media pada Selasa (22/3/2022) di Pacitan mengatakan tema lomba fotografi itu salah satu upaya untuk mencari potensi baru di Pacitan karena minimnya potensi sumber air di Pacitan.

“Kenapa? kita mencari itu, kita semua tahu bahwa potensi air itu sangat minim, air permukaan minim, air tanah juga minim. Kita berharap dari lomba fografi itu ada database baru, ada potensi air yang bisa dimanfaatkan untuk pemenuhan air baku dan penanganan kekeringan,”katanya.

Menurut Yudo, Kabupaten Pacitan itu air permukaan sungai sebagi sumber air sangat minim, karena kondisi Pacitan merupakan daerah yang kering.

“Sementara potensi air tanah dalam kita, kita tidak punya cekungan air tanah yang bagus, potensi kita yang ada saat ini hanya ada beberapa titik sungai bawah tanah,”tandasnya.

Meski demikian, Yudo mengatakan Pacitan ada potensi baru sumber air yang bisa diperoleh, dimana saat ini sedang tren, yaitu pemanfaatan air hujan.

“Mengingat topografi Pacitan itu yang bergunung-gunung seperti ini, permasalahan air kekeringan itu rata-rata di daerah yang berbukit-bukit, yang di atas, maka sebenarnya sedang tren, penanganan kekeringan itu banyak dengan memaksimalkan air hujan, jadi pemanenan air hujan,”jelas Yudo.

Untuk itu, Yudo mengajak semua elemen bergerak, bagaimana memaksimalkan potensi air hujan di Pacitan, termasuk bagaimana menyadarkan masyarakat.

“Kita mestinya sama-sama bisa bergerak, termasuk memberikan penyadaran masyarakat tentang pentingnya pemanfaatan air hujan mengatasi kekeringan, bahwa sebenarnya air hujan sehat, hasil penelitian pun iya (sehat), cuman masyarakat saat ini belum begitu yakin tentang air hujan,”papar dia.

Dinas PUPR, kata Yudo, sudah melakukan percobaan di dua titik untuk membuat alat penangkap hujan di dua desa.

“Kita sudah (membuat) tahun kemarin, dari Dinas PUPR sudah mencoba ada dua titik, satu di Desa Petungsinarang Kecamatan Bandar, kemudian satu lagi di Desa Kasihan Kecamatan Tegalombo, terus Kementerian PUPR sampai sejauh ini sudah banyak membuat tampungan air hujan (absah), yang volumenya cukup besar ukuran 180 meter kubik, itu kan cukup besar sebenarnya,”jelasnya.

Dinas PUPR, kata Yudo, cukup prihatin ketika permasalahan kekeringan itu terjadi. Sebagai contoh, Yudo mencontohkan ada beberapa masjid yang bahkan untuk wudhu pun tidak ada air yang memadai.

Sehingga atas kondisi itu, diharapkan dengan potensi air hujan bisa menjadi solusi atas persoalan tersebut.

“Kami menghitung dari potensi air hujan dengan tampungan air hujan sebesar tadi itu itu bisa digunakan untuk 85 orang jamaah 5 waktu selama 1 tahun tercukupi, itu sudah kami hitung,”tandas Yudo.

Penggunaan air hujan itu, kata Yudo, merupakan salah satu cara penanganan kekeringan dan itu bisa diikuti oleh semua masyarakat.

“Pemerintah menyediakan dalam skala komunal, masyarakat secara individu barangkali bisa membantu, artinya ketika menampung air hujan, air hujan itu gratis, kemudian masing-masing orang juga menampung air hujan dengan kemampuan masing-masing dulu, kedepan kalau setiap orang mampu memenuhi air secara mandiri, menampung air hujan yang gratis ini maka kedepan permasalahan kekeringan sedikit demi sedikit bisa teratasi,”pungkasnya.