Jamiyyah Ruqyah Aswaja Pacitan Adakan Peringatan Harlah Ke-5

oleh -Dibaca 1.520 kali
Jamiyyah Ruqyah Aswaja (JRA) Kabupaten Pacitan mengadakan peringatan Harlah Ke 5 bertempat di markas Rotib dan Sholawat (RUWAT) Jamiyyah Ruqyah Aswaja Semanten.

Pacitanku.com, PACITAN – Jamiyyah Ruqyah Aswaja (JRA) Kabupaten Pacitan mengadakan peringatan Harlah Ke 5 bertempat di markas Rotib dan Sholawat (RUWAT) Jamiyyah Ruqyah Aswaja (JRA) yang bertempat di Desa Semanten Kecamatan Pacitan Sabtu, (15/1/2022) malam.

Dalam sambutanya KH. Hamka Hakim ketua Pengurus Cabang (PC) JRA Pacitan mengatakan bahwa pada tahun 2017 JRA terbentuk bertepatan dengan gencarnya Pendidikan Kader Penggerak (PKP) Nahdlatul Ulama’ (NU).

Pria yang akrab disapa Gus Hamka ini mmenuturkan, terbentuknya JRA didasari oleh banyaknya perkumpulan Ruqyah yang menyalahkan amaliyah para santri, Kiyai dan Nahdlatul Ulama (NU), seperti membaca hizib, rotib, dan amaliyah sejenis. Kegiatan yang dilakukan tersebut memberi efek kegaduhan di kalangan masyarakat luas.

Di beberapa wilayah masyarakat NU merasa terkepung dengan adanya gerakan yang juga mengkampanyekan Tahayul, Khurafat, Bid’ah (TBC) tersebut, hingga menimbulkan kegaduhan yang luas.

“Kegiatan TBC tersebut memancing kegelisahan di beberapa tokoh, termasuk ketua PKP NU Jombang saat itu adalah KH. Allama Allaudin As-Siddiqi pengasuh PP Sunan Kalijaga Jombang,”kata Gus Hamka.

Kemudian, kata Gus Hamka, dibentuklah gerakan dakwah Ahlussunah yang menekuni bidang pengobatan dengan Al-Quran dan pengobatan ala Nabi guna membendung gerakan masif kelompok ruqyah yang sering menyalahkan amaliyah wirid para Kiyai dan Nahdlatul Ulama’ tersebut.

“ KH. Allama Allaudin As-Siddiqi yang terkenal dengan Gus Ammak sebelum mendirikan JRA sudah ahli dalam bidang ruqyah,”kata Gus Hamka.

Gus Hamka juga menjelaskan bahwa pada zaman dahulu para orang tua kita ketika memberi obat pasti menggunakan air yang dibacakan doa atau ayat-ayat al-Quran, sakit apapun solusinya air doa.

Cara orang zaman dahulu itulah yang di sebut dengan suwuk (ruqyah), berobat menggunakan wasilah air dan keberkahan al-Quran.

Pandemi Covid-19 yang melanda dunia ikut berimbas kepada JRA dengan berhentinya kegiatan rutinan yang ada.

“Saya harap setelah harlah ke 5 JRA ini kita mulai mengaktifkan kembali kegiatan-kegiatan JRA Kabupaten Pacitan. JRA berkembang sangat pesat, data terakhir praktisi JRA berjumlah 38 ribu praktisi yang tersebar di seluruh dunia,”jelasnya.

Selanjutnya acara Harlah JRA yang diadakan JRA Kabupaten Pacitan ini, dilanjutkan dengan pembacaan Rotib Al-Haddad hingga pembacaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Para undangan dan praktisi tampak mengikuti acara tersebut dengan khidmah.