Sudirno, Tokoh Sejarah dalam Mata Uang RI Asal Pacitan yang Terlupakan

oleh -Dibaca 16.222 kali
HASIL KARYA MENYEJARAH. Sudirno saat memperlihatkan hasil karya lukisannya uang kertas Indonesia. (Foto: Julian Tondo)

Pacitanku.com, BANDAR – Siapa sangka ada seorang tokoh sejarah nasional asal Kabupaten Pacitan yang saat ini masih hidup, dan terlupakan.

Seorang tokoh sejarah yang telah menorehkan nama patennya di beberapa mata uang kertas Republik Indonesia (RI) sebagai alat transaksi dunia.

Tokoh tersebut  bernama Sudirno (79), warga RT/RW 01/IX Dusun Ketro, Desa Petungsinarang, Kecamatan Bandar. Ia adalah  seorang  pengukir dan pencipta gambar mata uang kertas  yang bergabung dengan Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Perum Peruri) pada 22 Juni 1965 silam.

Sudirno menceritakan, sebelum bergabung dengan Peruri, pergi ke Jakarta hanya menyusul sang pacar yang berada di Asrama Brimob kala itu. Dan singkat cerita, kemudian dirinya melamar kerja  pada Badan usaha milik negara tersebut.

Awal bekerja di Peruri, Sudirno berada di bagian logistik. Namun seiring berjalannya waktu, kesempatan baik pun muncul.

Kala itu, Peruri mengalami saat kritis, dimana dalam waktu cepat perusahaan negara tersebut harus segera menerbitkan desain mata uang baru. Sementara sampai hingga mendekati batas akhir waktu belum ada satupun desain mata uang yang bisa dikatakan layak.

Mendengar kabar tersebut, Sudirno mencoba membuat beberapa sketsa gambar mata uang, dan alhasil, pihak Peruri tertarik dengan hasil gambaran desainnya.

Hasil karya Sudirno di mata uang RI. (Foto: Julian Tondo)

Tidak butuh waktu lama, Sudirno pun akhirnya di berikan mandat untuk menyelesaikan desain mata uang kertasnya dalam bentuk cetak biru. Dan hasilnya kemudian dapat kita lihat adalah mata uang kertas pecahan Rp.10.000 bergambar pahlawan nasional RA Kartini.

“Awalnya ke Jakarta itu nyusul pacar. Terus melamar di Peruri dan diterima,terus dikantor  dengar butuh cepat desain gambar lalu saya coba. Eh kok diterima. Ya sudah saya akhirnya disuruh bikin,”kenang Sudirno, dengan suara yang  lirih, Jumat (13/8/2021).

Jejak karir Sudirno pun dimulai. Untuk memperdalam teknik engraving pada uang kertas, dirinya harus menjalani pendidikan seni lagi di Inggris. Dan hingga saat itulah nama Sudirno menjadi tercatat dalam setiap mata uang kertas hasil gambarnya.

Karya Sudirno, menurut pengakuannya, yakni uang kertas Rp1.000 dengan gambar depan Dr Soetomo terbitan 1980 dan uang kertas Rp10.000 bergambar depan RA Kartini, terbitan 1985. Namun, ia mengklaim bahwa telah membuat desain gambar uang kertas nominal Rp1.000 hingga Rp100 ribu.

“Banyak. Yang saya ciptakan. Dan sulit itu. Gambar desain harus mencerminkan filosofi budaya indonesia. Dan hari ini hampir hampir saya tidak menemui pemuda yang bisa membuat gambaran mencerminkan filosofi budaya Indonesia,”kata Sudirno,sambil mengusap wajahnya.

Proses dalam melukis uang kertas, butuh  waktu yang cukup lama yaitu  sekitar dua bulan, dan ia mengaku butuh ketelitian ekstra. Salah satu garis atau titik saja harus mulai dari awal.

“Tergantung. Paling dua bulan, depan dan belakang. Itu kan bikin cetak birunya buat awal desain. Saya gak keluar ruangan kecuali hanya untuk ke kamar mandi. Makan minum pun di dalam. Karena salah sedikit saja. Maka harus mengawali lagi dari awal,”paparnya.

Karena faktor usia, sayangnya, beberapa pertanyaan yang telah dilontarkan oleh awak media tidak mendapat jawaban yang tepat, atau tidak nyambung, dan tentunya semua memakluminya. Mengingat, di usianya yang tidak lagi muda, tidak menutup kemungkinan pendengarannya berkurang dan penyampaian Sudirno juga lirih.

Sementara itu, Kapolres Pacitan, AKBP Wiwit Ari Wibisono, saat berkunjung ke kediaman Sudirno mengatakan bahwa, warga Pacitan patut berbangga. Hal ini karena masih ada tokoh yang masih hidup dan telah berhasil menorehkan namanya pada mata uang Indonesia.

“Beliau masih ada (hidup) di tanah air ini, maka kita perlu menjaga dan menghormatinya. Janganlah dilupakan. Ketika saya mendengar beliau masih hidup dan sekaligus ini merayakan kemerdekaan, maka saya ajak beliau untuk turut merasakan kemerdekaan ini,” ungkap Kapolres, saat bersilahturahmi di kediaman Sudirno.

Kapolres menambahkan, Sudirno berhasil melukis desain mata uang yang kemudian dicetak dan dipergunakan oleh masyarakat di Indonesia, bahkan luar negeri . ia juga  mendapat beberapa penghargaan atas karyanya.

“Menurut piagam yang ia terima, beliau pernah mendapat penghargaan 10 tahun berturut-turut melukis uang, mulai tahun 1965-1975,” ungkapnya.

Dengan adanya tokoh seperti Sudirno, Kapolres berpesan kepada generasi muda khususnya di Pacitan agar tokoh yang baik pada masa lalu dapat dijadikan contoh, suri tauladan yang juga baik di masa mendatang.

“Pak Sudirno sudah berhasil menorehkan sesuatu untuk bangsa. Sedangkan saya belum tentu bisa menorehkan sesuatu untuk bangsa yang tercatat di dalam sejarah Indonesia. Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama, untuk itu berbuatlah baik untuk bangsa dan negara, kalau bisa tercatat dalam sejarah Indonesia,”pungkasnya.

Pewarta: Julian Tondowisudo
Editor: Dwi Purnawan

Video Sudirno, Tokoh Sejarah Perjalanan Mata Uang RI Asal Pacitan