Kisah Indartato yang Menjadi Sopir Bupati Koesnan

oleh -Dibaca 471 kali
Bupati Koesnan (berkacamata) menghadiri pernikahan Indartato dengan Luki Tri Baskorowati. (Foto: Dok Buku Indartato Sang Pengabdi)

Pacitanku.com, PACITAN – Banyak cerita inspiratif muncul dari para pemimpin di Pacitan. Salah satunya datang dari sosok Indartato. Bupati yang memimpin Pacitan selama dua periode ini memiliki banyak hal yang menginspirasi. Salah satunya adalah kedekatan beliau dengan Bupati Pacitan Mochamad Koesnan.

Selain karena Indartato saat itu menjadi sopi bupati Koesnan, juga karena kedekatan dan cerita Indartato dan Bupati Koesnan yang menarik untuk dijadikan inspirasi. Seperti salah satunya dituturkan secara apik dalam buku berjudul Indartato Sang Pengabdi.

Ceritanya, saat itu, berkisah tentang pengalaman Indartato menjadi sopir bupati, tidak bisa lepas dari cerita seputar suasana dalam pendopo Kabupaten Pacitan Ketika itu. Dimana karakter Bupat saat itu yang orang Surabaya dan seorang tantara. Cara bicaranya tak bisa basa basi dan cenderung ceplas-ceplos.

Ketika ada lowongan PNS Pemda,Indartato yang sudah punya ijazah menyetir melamar. Nasib baik mengantarkan dirinya. Ia diterima sebagai pegawai dengan status PP 31/54. Ia benar-benar memulai karir sebagai pegawai rendahan. Sebagai sopir pribadi bupati ia jalani dengan penuh kebanggaan.

Meski sopir, tapi kemana-mana mendampingi Bupati Pacitan, Mochamad Koesnan yang mendidik dan membesarkan dirinya.

Suka-duka menjadi sopir bupati dan pahit getirnya bekerja selama 24 jam setiap hari ia lakoni dengan penuh pengabdian. Sementara, Bupati Pacitan Ketika itu, Kolonel Mochamad Koesnan oleh publik Pacitan dikenal sebagai bupati yang ceplas ceplos Ketika bicara, tetapi merakyat.

Bupati Moch Koesnan

Apalagi Koesnan sering sidak kepada Kepala Dinas, camat dan Kades,pada saat sidak, dia sering marah apabila mendapati bawahannya kerja tidak becus. Jadi Indartato menyadari dan sangat memahami gaya sang bos.

Pernah dalam suasana guyon, Bupati Koesnan mengata-ngatai Indartato, “Rupamu In.., ngono ritek tukang ngelingguhi kursi bupati. Kemudian oleh Indartato dijawab di dalam hati. “Muga-muga aku kelakon nglungguhi kursi Bupati tenan, ora mung jok mobil sing tilas dilungguhi bupati,”gumam Indar.

Ada kisah lucu seputar Indartato melayani bupati Koesnan. Waktu Indartato mengemudikan mobil yang ditumpangi sang majikan dari Surabaya menuju ke Surakarta. Ketika sampai di Saradan, di depan ada iring-iringan mobil tantara. Koesnan menyuruhnya mempercepat laju mobilnya, agar bisa menyalip sejumlah mobil di depannya. Sempat oleng dan selip,sehingga membuat bupati Koesnan tratapan dan jumpalitan.

”Mati Kon…! Mati Kon..! Matek..!” teriak sang bos memekak telinga Indar.

Sambal berteriak begitu, telapak tangan Kanan Koesnan mendarat di pipi kiri Indartato. Jadilah Indartato ditempeleng sang juragan, sampai mblenger dan thenger-thenger. Sang bos yang menyuruh nyalip, dirinya yang kena tempeleng!

“Waktu itu saya ditempeleng dua kali,”kenang Indartato saat ditemui Pacitanku.com di kediamannya di Bangunsari, Pacitan pada Sabtu (3/4/2021).

Saat itu juga secara spontan, Indartato disuruh turun dari mobil oleh Koesnan. Dengan perasaan tak karuan, dirinya membuka pintu mobil, lalu turun dan berdiri di sebelah kanan mobil. Indartato sudah tidak pegang uang serupiah pun waktu itu.

Pikirnya dalam hati, matek tenan aku! Wis oraduwe sangu yen ikimengko didhukne neng kene, gek aku ditinggal. Ngalamat ora isa mulih neng Pacitan. Dhuh Gusti, Ooh Simbok,” dengan perlahan dia sebut nama ibunya.

Di sela-sela Indartato turun dari kursi belakang setir, kursi diambil alih bosnya. Hati Indartato jadi kacau. Beberapa saat semua mobil menuggu jeplakan bamboo itu dibuka, sebagai pertanda rel sudah bebas dari sepur. Indartato mondar-mandir di sekitar mobil yang kini setirnya sudah dipegang Koesnan. Sesekali ia memijit pipinya yang masih terasa sakit akibat terkena jab kanan Kolonel Koesnan.

Setelah Nampak di depan,penjagarel sepur mengangkat lampu keting dan memindahjambu jeplakan yang melintang di jalan, tiba-tiba koesnan berteriak memanggil sopirnya. Indar dengan terkesiap meloncat ke dekat pintu kanan mobil.

Wis gek numpaka, kon..! Mobile tak setirane dhewe” Koesnan mengajak Indartato naik mobil lagi. Kali ini yang menjadisopir adalah Bupati Koesnan. Lantas Indartato duduk dikursi bupati yang sedang dijalankan pemiliknya sendiri dengan ajudannya yang bernama Susilo.

Meski dalam suasana sangat tegang, perjalanan dari Caruban sampai Ngawi berjalan lancar. Batin Indartato bergejolak, diantara takut dan ingin tertawa, antara malu dengan rasa bangga.

Kok atase Indartato disopiri bupati. Kaya ngapa ya enake dadi bupati. Duh gusti, ingkang Maha Welas lan asih, muga-muga Pangeran dhawuh malaikat Munkar dan Nakir. Donga kuwula ing tembe buri kawula bisa mukti lan ora lali tansah ngabekti, ngibadah teka mati. Aaamin ya Allah,”Kurang lebih begitu doa Indartato.

Doa dan pengalaman Bersama Bupati Koesnan itu yang menjadi salah satu motivasi Indartato terus mengabdi hingga menjadikan dirinya Bupati Pacitan.

Kedekatan dengan Bupati Koesnan juga disampaikan oleh Indartato. Dimana saat Bupati Koesnan ke Pacitan usai tidak menjabat sebagai Bupati, selalu mencari Indartato saat ke Pacitan.

Begitu juga saat Indartato ke Kota Surabaya, selalu menyempatkan untuk menemui Mochamad Koesnan.

Referensi: Buku Indartato Sang Pengabdi dan wawancara langsung dengan Bupati Indartato pada Sabtu (3/4/2021).