Satgusgas COVID-19 Pacitan Dinilai Lambat Atasi Simpang Siur Klaster Perbankan di Pacitan, Masyarakat Resah

oleh -13268 views
Ilustrasi Corona

Pacitanku.com, PACITAN – Simpang siur kabar terpaparnya dua karyawan bank BRI Pacitan semakin meresahkan masyarakat. Pasalnya sampai dengan saat ini belum ada pernyataan resmi dari satuan gugus tugas COVID 19 Pacitan.

Sementara itu, pasca didemo sejumlah awak media pada 28 september 2020 lalu, dinas kesehatan Pacitan dan juru bicara COVID-19 belum memberikan informasi terkait hal tersebut.

“Dinkes dan jubir COVID-19, pasca didemo malah semakin tidak jelas. Kemarin mereka kita demo terkait keterbukaan informasi dan data COVID-19. Harapannya ketika data muncul kami bisa mengedukasi masyarakat melalui pemberitaan. Tapi malah sekarang sama sekali tidak ada keterangannya,”ujar Agus Wibowo, kontributor TV One Pacitan yang juga koordinator aksi media, Senin (5/10/2020).

Dalam aksi awak media lalu,salah satu tuntutan Pewarta selain turunkan PLT Kepala Dinas Kesehatan, juga meminta untuk mengganti juru bicara Satgusgas COVID-19 Pacitan.

“Kami awak media dari awal telah memikii data informasi lapangan. Namun ketika kami coba konfirmasi dari kemarin, banyak yang bungkam. Nah sekarang terbukti kan. Muncul klaster perbankan. Sementara apa tindakan Satgusgas? Lambat. Jubir Satgas gagap lapangan,” imbuh Agus, yang juga koordinator Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia cabang Pacitan.

Sementara itu di tempat terpisah, respon keras juga muncul dari ketua organisasi Karang Taruna (Katar) Kabupaten Pacitan, Mulyadi.

Hal itu menyusul lambatnya informasi dan Penanganan COVID-19 di Pacitan.

“Saat ini sudah muncul informasi klaster baru bahkan ada yang meninggal dunia. Padahal penderita telah terkena COVID-19 semenjak akhir bulan September lalu baru muncul kasak kusuk awal Oktober,”kata Mulyadi kepada pewarta.

“Sementara belum ada tindakan penanganan yang massif dari pemerintah. Semua seolah disembunyikan,”imbuhnya lagi.

Masyarakat, kata Mulyadi, saat ini mulai kembali resah dengan munculnya simpang siur kabar tersebut. Karena kurangnya informasi dan lambatnya proses penanganan COVID-19 secara utuh.

“Secara mandiri masyarakat sebenarnya sudah memulai menjaga diri dan lingkungan. Namun jika tidak diimbangi informasi dan kebijakan dari pemerintah kan sama juga bohong. Sementara terkesan membiarkan COVID-19 berkembang pesat,”jelasnya.

Pria yang juga Dosen STKIP PGRI Pacitan ini berharap Pemerintah lebih bekerja keras, salah satunya terkait keterbukaan informasi kepada masyarakat.

“Saya berharap pemerintah lebih bekerja keras dan memberikan keterbukaan informasi, memberikan edukasi dan tindakan yang massif kepada masyarakat sehingga COVID-19 tidak berkembang cepat dan keresahan bisa dimimalisir,”jelasnya.

Mulyadi juga menghimbau kepada seluruh elemen karang taruna untuk membantu dan bertindak

“Meskipun dalam skala kecil, untuk memberikan edukasi kepada masyarakat,”pungkasnya.

Pewarta: Julian Tondo
Editor: Dwi Purnawan