Pacitan Terus Upayakan Cegah Penyebaran Penyakit TBC

oleh
Pemkab Pacitan bersama seluruh kader Desa dan seluruh Puskesmas di Pacitan untuk melaksanakan Seminar Temukan, Obati, Sampai Sembuh atau (TOSS) TB di Gedung karya Darma Pacitan pada Kamis (15/11/2018). (Foto: Pemkab Pacitan)

Pacitanku.com, PACITAN – Pemerintah Kabupaten Pacitan melalui Dinas Kesehatan setempat terus mengupayakan pencegahan terhadap penyebaran penyakit Tuberkulosis (TB) atau juga dikenal dengan TBC.

Salah satu sarana pencegahan adalah dengan mengundang seluruh kader Desa dan seluruh Puskesmas di Pacitan untuk melaksanakan Seminar Temukan, Obati, Sampai Sembuh atau (TOSS) TB di Gedung karya Darma Pacitan pada Kamis (15/11/2018).

Diketahui, TP adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis yang sangat mudah menular. Data dari Dinkes setempat menyebutkan hingga pertengahan bulan November ini ditemukan 300 penderita, meski angka tersebut ternyata dinilai kecil jika mengacu pada target 1000 temuan.

Kapala Dinas Kesehatan dr. Eko Budiyono berharap kepada para kader baik Desa maupun Puskesmas untuk menemukan sebanyak mungkin masyarakat yang mempunyai kecenderungan terhadap penyakit TB sehingga segara mendapat pertolongan. “kader kita kuatkan reagen kita tambah,” katanya, dikutip laman Pemkab Pacitan.

Serta Kasi Pemberantasan Penyakit Menular Aris Istianah mengatakan saat ini pada posisi Provinsi, Pacitan masih tergolong rendah angkanya, yakni sepuluh besar dari bawah, namun pihaknya enggan kecolongan

Dia mengatakan untuk masyarakat yang dinyatakan positif TB agar tidak risau, karena seluruh pemeriksaan dan pengobatan telah digratiskan oleh pemerintah.

Selanjutnya jika dalam keluarga ada satu penderita maka seluruh anggota keluarga agar memeriksakan diri. “Termasuk juga beberapa tetangga dekat juga harus diperiksa,” tambahnya.

Sementara, salah satu narsumber dr Royani menjelaskan penyakit tersebut umumnya disebabkan oleh titik-titik air liur penderita TB yang tidak menggunakan masker. Umumnya penderita dibedakan menjadi tiga katagori, pertama penderita awal cukup melakukan terapi obat teratur selama enam bulan.

Dia mengatakan, jika penderita gagal dalam terapi tersebut secara otomatis akan masuk pada katagori kedua, maka akan memperoleh terapi suntik dua bulan serta kembali memulai terapi obat selama enam bulan.

“Yang terakhir katagori tiga yang biasa disebut Multidrug-Resistant Tuberkulosis (MDR TB) umumnya mereka akan mendapat terapi obat selama dua belas bulan hingga 18 bulan, dukungan keluarga yang utama,” jelasnya. (Diskominfo)