Seniman Australia Hingga Polandia Semarakkan Festival Pelem Pacitan 2018

oleh
Suasana pelatihan menari Pelem Festival. (Foto: Dok. SACPA)

Pacitanku.com, PACITAN – Gelaran seni budaya Festival Pelem kembali akan berlangsung pada Senin (17/9/2018) hingga Minggu (30/9/2018) mendatang di Sampang Agung Centre for Performing Arts (SACPA) di Desa Pelem, Kecamatan Pringkuku, Pacitan.

Festival budaya yang digelar SACPA ini akan diikuti 30 seniman, baik level lokal hingga internasional, diantaranya seniman dari Australia, Jepang, Polandia, Jerman, Taiwan, China dan Malaysia.

Direktur SACPA Agung Gunawan, dalam keterangan pers yang diterima Pacitanku.com, Kamis (13/9/2018) mengatakan Festival Pelem yang digagas pada tahun 2016 ini bertujuan  melestarikan warisan budaya tari dan musik Jawa.

“Esensi dari Pelem Festival adalah memberi warna pada munculnya format baru dalam berekspresi. Festival ini merupakan wadah yang mendorong terciptanya integrasi pada lingkungan sekitar terhadap kehadiran manusia dalam proses kreatif,”kata dia.

Lebih lanjut, Agung mengatakan Pelem Festival ini membawa sebuah pengalaman yang keluar dari batasan antara penonton dan seniman. Menurutnya, penampilan seni akan disuguhkan kepada masyarakat dalam kurun waktu dua minggu.

“Selama festival berlangsung, bukan hanya seniman melainkan masyarakat desa sekitar juga turut berpartsipasi dan menikmati ritual sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari mereka. Festival yang digelar mulai tanggal 17–30 September 2018 ini akan menyatukan lebih dari 30 seniman dengan masyarakat desa sekitar,”jelasnya.

Lebih lanjut, Agung mengatakan seni harus diperuntukan bagi masyarakat, sebagaimana seni adalah hidup dan hidup adalah seni.

Agung mengatakan festival ini menciptakan kesempatan langka bagi semua seniman yang diundang untuk berinteraksi, menyaksikan, mengalami, berbagi filosofi, bertukar budaya dan ide artistik serta praktik dengan masyarakat lokal.

Pelem Festival tahun 2018, kata Agung, menawarkan fleksibilitas dan spontanitas yang mendorong para seniman bereksperimen dan menantang praktek artistik mereka saat ini, dengan menanggapi pola dan praktek-praktek kehidupan warga desa sekitar melalui dialog, interaksi, refleksi dan observasi.

“Seniman dalam negeri dan mancanegara akan hidup berdampingan dengan warga sekitar desa Pelem, Pacitan. Mereka akan tinggal bersama masyarakat Desa Pelem menggunakan akomodasi homestay selama festival,”tandasnya.

Kegiatan lain, kata Agung, juga akan tersaji warung rakyat yang dikelola oleh masyarakat Desa Pelem yang mulai buka dari pukul 06.00 WIB hingga tengah malam. Warung rakyat ini menyuguhkan kombinasi jajanan lokal (street food) dengan masakan rumahan.

Konsep homestay dan warung rakyat ini sejalan dengan visi pemberdayaan masyarakat desa Pelem dalam upaya mewujudkan Desa Pelem Desa Budaya.

“Pelem Festival yang digelar selama dua minggu ini terdiri dari workshop week dan performance week. Workshop akan berlangsung selama lima hari dengan materi tari kontemporer dengan berdasar pada prinsip tari Klasik,”ujarnya.

Agung, sebagai pemateri utama mengangkat filosofi tari Srimpi (dalam konteks tari klasik gaya Yogyakarta). Agung mengambil bentuk Srimpi, dalam kaitannya dengan pengertian 4 penari sebagai simbol (api, angin, air, dan tanah) yang terintegrasi dari 4 prinsip yang Agung percayai: Sewiji (Concentration), Greget (Dynamic), Sengguh (Confident without being arogant), Ora Mingkuh (Never give up).

“Minggu ke dua gelaran Pelem Festival akan dibuka dengan Street Performance, merupakan  pertunjukan arak-arakan sebagai bentuk pembukaan (opening) Pelem Festival. Akan dihadirkan pula pertunjukan Mapping atau Moving Art Performance (MAP) PELEM dari seluruh seniman, baik nasional dan internasional selama dua hari,”papar dia.

Selanjutnya, kata dia, pada malam harinya, akan dihadirkan Pentas Malam, di mana pentas tersebut merupakan ruang pertunjukan bagi berbagai bentuk seni tradisi, baik tari, maupun musik, yang akan diikuti oleh seniman-seniman lokal dan nasional.

Kemudian dilanjutkan dua pertunjukan malam atau Pelem Festival Night Performance yang merupakan bentuk pertunjukan seni kontemporer dari seniman-seniman nasional dan internasional. Para seniman akan memamerkan karya yang telah disiapkan khusus untuk Pelem.

Festival juga akan mengadakan forum diskusi yang dipimpin oleh PhD Candidate Dr. Tony Yap untuk merangsang percakapan sekitar kinerja psikofisik dan praktek kontemporer dalam seni dan budaya setelah postmodernisme.

Puncak acara dari Festival bertepatan dengan acara pertunjukan tahunan di Pelem, Pentas Bulan Ndadari, dengan pengisi dari LKP Seni Pradapa Loka Bhakti dan Paguyuban Suryo Kencono.

Paguyuban Suryo Kencono adalah paguyuban tari klasik gaya Yogyakarta yang berada dalam lingkungan Istana Kasultanan Yogyakarta. Dengan dipimpin langsung oleh Ray. Kadarjati Ywandjono salah satu empu tari klasik gaya Yogyakarta yang legendaris. mereka akan membawa tari klasik Srimpi dari istana Kasultanan Yogyakarta ke tengah alam pedesaan desa Pelem.

Secara khusus, Agung mengatakan Pelem Festival adalah festival independen. Meski pendanaan tidak ringan, tapi harus ada yang memulai. 

Spiritnya, kata dia, adalah edukasi lewat budaya dan kecintaan terhadap seni dan budaya yang sudah dimulai sejak Sukarman (founder Pradapa Loka Bhakti) yang sekarang dilanjutkan oleh Agung dan Deasylina da Ary khususnya dengan cara kemandirian yang terus menerus. “Kami harus merangkul banyak pihak utk cita-cita kami, inilah salah satu wujud awal dari Pelem desa Budaya,”pungkasnya.