Banjir Batu Karangrejo dan Kekhawatiran Warga

oleh
Banjir yang terjadi di Karangrejo pada Rabu (7//2018). (Foto: Dok Kodim Pacitan)

Pacitanku.com, ARJOSARI – Warga di Dusun Wonosari Desa Karangrejo, Kecamatan Arjosari sedang dalam kekhawatiran mendalam. Hal itu tak lepas dari seringnya terjadi banjir bandang yang membawa material batu di kawasan tersebut. Setidaknya, terjadi tiga kali banjir dalam kurun waktu akhir Februari hingga awal Maret 2018 ini.

Banjir pertama terjadi pada Jumat (23/2/2018) lalu, kemudian disusul banjir kedua pada Senin (5/3/2018). Dua hari berselang, tepatnya Rabu (7/3/2018) banjir bandang dengan intensitas besar kembali terjadi di kawasan tersebut.

Kepala Desa Karangrejo, Kecamatan Arjosari Sukhoiri mengungkapkan bahwa kondisi Desa Karangrejo saat ini sangat memprihatinkan.

“Ditambah dengan sering turunnya hujan hampir setiap hari di Karangrejo menambah derita dan rasa was-was warganya, apalagi melihat kondisi lahan pertanian yang dulunya dalam satu tahun bisa panen padi tiga kali, saat ini kondisi lahannya rata tertimbun batu,”katanya.

Beban mental yang dialami Sukhoiri selaku Kades Karangrejo saat ini sangat luar biasa, ditambah tekanan dari warganya yang tingkat emosional sangat tinggi, karena dirasa upaya yang dilaksanakan selama ini tidak ada hasil sama sekali.

“Pemda seolah olah tidak ada upaya dan tindakan yang sungguh – sungguh dengan bencana yang terjadi di Karangrejo dan dari hasil pertemuan dengan Kepala BBWS Bengawan Solo juga tidak ada harapan dan solusi bahkan peryampaiannya malah menambah emosi warga,”ungkapnya lagi.

Suhoiri menceritakan bahwa sebelum kejadian longsor batu hari senin (5/3/2018) lalu, Kades dan warga Karangrejo bahkan memiliki rencana akan memblokir jalan yang menghubungkan Desa Karangrejo dengan Karanggede dengan menggunakan Pohon kelapa. Hal itu dilakukan dengan harapan aktivitas pembangunan Waduk Tukul berhenti dan tidak bisa bekerja.

“Memang sudah ada tindakan dan bantuan dari Pemerinrah dengan pemasangan bronjong-bronjong di sepanjang sungai (kanan kiri sungai), namun belum bisa diterima warganya, karena dianggap lahan pertaniannya adalah lebih penting dan meminta Pemda ikut membantunya,”paparnya lagi.

Suhoiri mengatakan hingga saat ini masih berkoordinasi dan minta bantuan kepada Kadis PUPR Budiyanto untuk bisa membantu dan berupaya mencari solusi dengan kondisi wilayah Desa Karangrejo, terutama mengembalikan lahan pertaniannya.

Sementara, Nasir salah satu warga RT/RW 06/VI Dusun Wonosari Desa Karangrejo menyebut bahwa dengan sering terjadinya banjir batu dari gunung Parangan, pihaknya yang merupakan wilayah paling dekat dengan lokasi yang sering terjadi banjir batu di huni 20 KK. Dia menganggap kejadian bencana banjir yang membawa material batu dgn berbagai ukuran, adalah sebagai  hal biasa dikarenakan setiap turun hujan deras di pastikan terjadi longsoran batu.

Memang, kata dia, dengan seringnya terjadi longsoran yang membawa batu  menurutnya ada untung dan ruginya, untungnya bisa mengais rejeki dengan mengumpulkan batu untuk dijual dengan harga Rp275 ribu per satu dump truck. Namun untuk kerugiannya adalah material batu yang jumlahnya sangat banyak bahkan mencapai ribuan kubik bisa menutup jalan utama dan menutup sungai sehingga air mengikis jalan di sekitar lokasi.

“Dengan kejadian ini diharapkan ada solusi dari Pemda, biarpun sudah ada alat berat yang standby dilokasi, namun diharapkan ada upaya, karena material batu yang ada di Gunung Parangan masih besar dan dimungkinkin longsor apabila terjadi hujan deras.

Pewarta: Wahyu S
Penyunting: Dwi Purnawan